DetikNews
Kamis 23 November 2017, 14:51 WIB

Polisi Periksa S Penjual Senpi Milik dr Helmi untuk Habisi Letty

Ibnu Hariyanto - detikNews
Polisi Periksa S Penjual Senpi Milik dr Helmi untuk Habisi Letty Rekonstruksi pembunuhan dr Letty oleh dr Helmi (Ibnu Hariyanto/detikcom)
Jakarta - Polisi telah mengamankan penjual senjata api (senpi) yang dimiliki dr Ryan Helmi, pria yang menembak istrinya, dr Letty Sultri, di sebuah klinik di Jaktim. Penjual senpi berinisial S itu mengaku hanya sebagai perantara.

"Yang senjata (jenis) Makarov sudah kami ketahui sumber pembeliannya. Karena tidak digunakan untuk penembakan, kita sudah lakukan pemeriksaan sudah kita periksa penjual Makarov itu. (Yang kita periksa) berinisial S. Dari pengakuan yang bersangkutan, dia perantara dari satu orang juga dan masih lakukan pendalaman," ujar Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Hendy F Kurniawan di klinik Azzahra Medical Center, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (23/11/2017).


Hendy menegaskan saat ini S masih diperiksa sebagai saksi. Dia menambahkan S merupakan orang yang disuruh Helmi mencarikan senjata dengan imbalan Rp 2 juta.

"S ini diberi Rp 2 juta, sedangkan Helmi beli dua senjata itu (masing-masing) Rp 20 juta dan Rp 25 juta," tambah dia.

Sementara itu, kepada polisi, Helmi mengaku mendapatkan senjata api revolver yang digunakan untuk menembak Letty dengan cara membeli via online. Saat ini, polisi tengah mengejar pemilik akun tersebut.

"Untuk senjata revolver yang digunakan kita sudah ketahui dari akun Facebook. Dari pengakuan yang bersangkutan, pemilik akun sudah kita ketahui sampai saat ini tim masih melakukan profiling dan pengejaran. Ada dua orang. Semuanya di luar Jakarta, tapi masih di Jawa," ucap Hendy.


Polisi telah merekonstruksi kasus penembakan dr Letty yang dilakukan oleh suaminya, dr Ryan Helmi. Sebanyak 26 adegan diperagakan. Setelah rekonstruksi, polisi akan segera melengkapi berkas-berkas untuk dilimpahkan ke pengadilan.

"Semoga bisa segara (dilimpahkan). Tersangka terjerat Pasal 340 KUHP perencanaan pembunuhan dengan ancaman hukuman mati," pungkasnya.
(ibh/ams)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed