DetikNews
Rabu 15 November 2017, 12:29 WIB

Analisis soal Perilaku Pasangan Sejenis di Kasus Mayat Kp Rambutan

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Analisis soal Perilaku Pasangan Sejenis di Kasus Mayat Kp Rambutan Mayat yang terbungkus selimut ditemukan di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur. (Hasan Alhabshy/detikcom)
Jakarta - Motif kasus mayat dalam karung di Terminal Kampung Rambutan ditengarai karena rasa cemburu pelaku kepada korban, yang merupakan pasangan sejenis. Psikolog Tika Bisono menduga Badrun (45) tega membunuh Imam Maulana (19) karena rasa memiliki yang tinggi. Teramat posesif.

"Bisa jadi juga, ini kalau kita menakar-nakar, yang (Badrun) 48 itu mikirnya si (Imam) 19 ini sudah commit ke dia dan hanya ke dia, atau si 19 ini ternyata nggak tahu si 48 ini faktor cemburunya, cemburu yang brutal, cemburu yang buta. Jadi kecemburuan yang seperti itu memang kan menakutkan ya, jadi bisa jadi yang 19 ini belum tahu begitu," ujar Tika kepada detikcom, Rabu (15/11/2017).

Menurut Tika, hubungan sesama jenis terkadang terbuka satu sama lain. Mereka kadang terbuka apakah sudah memutuskan memilih hubungan sesama jenis sepenuhnya atau belum.

"Tapi juga yang saya paham juga, biasanya hubungan sejenis itu kalau mereka saling terbuka, mereka biasanya juga bilang sudah 100 persen (suka sesama jenis), cuma 30 persen (suka sesama jenis), karena sisanya masih ke lawan jenis, atau mereka baru jajal belum jadi. Jajal itu itu kan belum jadi, dibandingin yang 48 mungkin sudah milih jadi gay. Tapi yang 19 kan emang rata-rata kan emang belum milih, masih diajak, masih dipengaruhi, masih nyoba, tapi juga tertarik ke lawan jenis yang seperti seharusnya," jelasnya.

Tika melihat Imam ada kemungkinan belum memiliki keputusan menjalin hubungan sesama jenis secara penuh. Namun Badrun, yang telah berusia 48 tahun, ada kemungkinan sudah mantap menjalin hubungan dengan Imam.

"Kalau umur segitu kan emang belum berkomitmen untuk preferensi seksual. Yang seharusnya emang normatif emang ke lawan jenis, tapi toh emang tertarik ke sesama jenis statusnya kan belum matang. Si 48 yang menurut saya membabi buta, sudah saking jatuh cintanya kali. Kalau sampai membunuh berarti interaksi psikologis sangat amat dalam. Dan artinya lebih baik tidak sama sekali," imbuh Tika.

Tika mengatakan rasa memiliki orang yang menjalin hubungan sesama jenis jauh lebih dalam daripada yang menjalin hubungan dengan normal. "Justru sesama jenis ini rasa kepemilikannya jauh lebih dalam daripada yang berseberangan jenis," katanya.

Rasa memiliki yang tinggi ini kemudian menimbulkan sifat posesif dalam menjalankan hubungan. Hubungan yang posesif terkadang menimbulkan hal negatif.

"Tapi kan kalau sangat tinggi itu sama dengan disebutnya posesif kan, hubungan posesif kan mau heterogen, homogen kan juga nggak bagus. Jadi posesif itu bisa di heterogen bisa di homogen, dua-duanya bisa," ucapnya.

"Jadi bahasanya saking merasa memiliki yang dalam tapi posesif. Jadi kalau dalam nggak posesif nggak masalah. Kalau sudah posesif itu pasti negatif," tambahnya.

Tika berasumsi Badrun memiliki sifat posesif kepada Imam. Selain itu, ada hal yang membuat Badrun tega menghabisi nyawa Imam.

"Yang 48 ini asumsi saya dia posesif, atau ada hal-hal lain gitu, lebih dalam dari posesif, misalnya dia pernah kehilangan anak, tahu-tahu dia menemukannya kembali. Kenapa membunuh, ada rasa merasa dikhianati, ada rasa merasa dibohongi, ada rasa merasa ditelikung. Jadi si 48 ini, selain cemburu, ada rasa tidak dihormati," pungkasnya.

Sebelumnya, polisi menyatakan Badrun dan Imam diduga memiliki hubungan spesial. "Diduga pelaku dan korban memiliki hubungan spesial," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono dalam keterangan kepada detikcom, Rabu (15/11).
(nvl/fjp)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed