DetikNews
Selasa 14 November 2017, 16:13 WIB

Lara Warga Kampung Gubuk di Banten yang Tak Pernah Tersentuh Bansos

M Iqbal - detikNews
Lara Warga Kampung Gubuk di Banten yang Tak Pernah Tersentuh Bansos
Cilegon - Puluhan warga hidup di rumah terbuat dari atap rumbia dan dinding terbuat dari bilik. Ada juga sebagian terbuat dari kayu.

Mereka hidup di Kampung Sidungkul, Desa Serdang, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Banten. Daerah itu terletak tepat di bawah kolong jembatan yang dilintasi rel kereta api dan merupakan kampung perbatasan antara Sernag-Cilegon. Jembatan itu adalah akses jalan menuju gerbang tol Cilegon Timur.

Orang-orang biasanya menyebut Kampung Sidungkul sebagai Kampung Gubuk karena rumah warga di sana persis seperti gubuk. Warga yang hidup di sana ada yang sudah bermukim selama 15 tahun dan ada pula yang baru menempati daerah itu 3 bulan lalu. Kebanyakan dari mereka adalah warga pendatang dari Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Warga Kampung Gubuk itu rata-rata berprofesi sebagai buruh tani yang menggarap sawah milik tuan tanah. Sawah yang mereka garap tak jauh dari permukiman mereka.

Rohayati (63), salah seorang warga mengaku, dirinya sudah dirinya sudah menetap sejak 15 tahun lalu setelah dinikahi oleh suaminya yang telah bermukim lebih di Kampung Sidungkul.

"Udah ada 15 tahunan, pas nikah sama suami yang sekarang baru tinggal di sini. Kalau asal saya dari daerah Kuningan (Jawa Barat). Udah nggak pernah ke sana lagi," ujarnya saat berbincang bersama detikcom, Selasa (14/11/2017).

Rohayati tinggal bersama sang suami dan anak-anaknya di rumah berukuran 4x4 meter. Sehari-hari Rohayati hanya berdiam di rumah, sesekali ia mencari kayu bakar untuk masak.

Ia bercerita di kampung tempat tinggalnya, nyaris tak pernah ada bantuan yang datang, paling-paling aparat desa datang untuk mendata, itu pun keperluannya hanya untuk sensus penduduk.

"Nggak pernah dapat bantuan, seumur-umur saya hidup di sini nggak pernah ada," tutur Rohayati.

Selain warga yang sudah puluhan tahun bermukim di kampung itu, ada pula beberapa warga yang baru tinggal di situ sekitar 3 bulan lalu, mereka membangun rumah di lahan bekas jalan raya yang terpakai.

Ada sekitar 6 rumah baru dibangun, mereka mengaku berasal dari Desa Teratai, Kecamatan Kramatwatu yang jaraknya tak jauh dari Kampung Gubuk.

"Kalau saya ikut suami, ada teman-teman dari Gubuk Teratai pindah ke sini, jadi ikutan gitu. Kan tadinya ngontrak namanya ngontrak harus bayar, nggak kebayar pindah ke Teratai itu, nggak lama digusur karena ada pembangunan pipa gas. Jadi saya pindah ke sini," kata Dwi Rahayu Ningsih.

Pelaksana Tugas Sekretaris Desa Serdang, Yanti Suseno mengakui bahwa warga di Kampung Gubuk tak pernah mendapat bantuan meski mayoritas warga di sana hidup di bawah garis kemiskinan. Ia mengatakan mayoritas warga di sana bukan merupakan penduduk Desa Serdang.

"Nggak, karena raskin juga didistribusikannya sesuai nama-nama yang sudah terdaftar di Dinsosnya, kita cuma dapat 24 RTS saja," katanya.

Dalam setiap gelartan pesta demokrasi 5 tahunan mulai dari tingkat desa hingga pemilihan presiden. Warga Kampung Gubuk tak pernah memilih pemimpinnya, pihak desa tak pernah melihat adanya TPS untuk memilih pemimpin.

"Nggak, karena dianya juga nggak ada niat baik buat jadi penduduk sini, seharusnya kalau sudah menetap selama 6 bulan udah wajib menggunakan KTP sini. Jadi apa-apa nggak terdaftar di sini," kata dia.

"Pilkada kemarin nggak ada di dpt karena dia belum memiliki KTP sini kecuali mau pilkades baru bisa itu pun dilihat dulu peraturannya bisa apa nggak," sambungnya.

Bahkan, pihak desa mengatakan bahwa rumah-rumah warga di sana merupakan bangunan liar lantaran tak ada izin mendirikan bangunan.

"Bangun liar karena nggak ada izinnya kalau resmi otomatis ada izinnya segala karena itu tanah PT KAI," tutupnya.
(asp/asp)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed