DetikNews
Jumat 10 November 2017, 17:01 WIB

Jejak Novanto di KPK: Tersangka, Menang Praperadilan, Tersangka Lagi

Rina Atriana - detikNews
Jejak Novanto di KPK: Tersangka, Menang Praperadilan, Tersangka Lagi Setya Novanto (Foto: Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta - KPK kembali menetapkan Ketua DPR Setya Novanto sebagai tersangka di kasus korupsi proyek e-KTP. Begini jejak Novanto di KPK selama kasus ini bergulir.

KPK menetapkan Setya Novanto sebagai tersangka dugaan korupsi proyek e-KTP pada 17 Juli 2017. Tak terima dengan penetapan status tersangkanya, Novanto kemudian mengajukan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Kala sidang praperadilan bergulir, Novanto terbaring sakit di RS Premier Jatinegara tepatnya di Intensive Cardiology Care Unit (ICCU). Novanto disebutkan menderita sakit terkait jantungnya dan sempat menjalani operasi pemasangan ring.

Hakim tunggal Cepi Iskandar lantas mengabulkan permohonan praperadilan Setya Novanto dalam sidang 29 September 2017. Status tersangka Novanto pun gugur.

Sekitar 4 hari berselang sejak tak lagi 'menyandang' status tersangka, Novanto pulang dari rumah sakit. Dokter menyatakan Novanto memang telah dibolehkan pulang.

Dua hari sejak pulang dari RS, Novanto diketahui bertemu dengan para ketua DPD I Golkar di Hotel Dharmawangsa. Pertemuan digelar untuk membahas kondisi terkini Golkar.


Pada 9 Oktober 2017, Setya Novanto dipanggil sebagai saksi di sidang e-KTP. Namun, Novanto tak hadir dan di hari yang sama Novanto pergi ke RS Premier Jatinegara untuk melakukan check up.

Novanto pada 11 Oktober 2017 menghadiri rapat pleno di Kantor Golkar, Slipi, Jakarta Barat. Dalam pertemuan tersebut Novanto menuturkan dia sudah sehat.

Sehari berselang, Novanto tampak hadir di rapat pimpinan DPR di Senayan. Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan mengatakan dalam rapat pimpinan membahas surat-surat masuk. Novanto sendiri disebut lebih banyak mendengarkan.

Pada 3 November 2017, Novanto memenuhi panggilan jaksa untuk menjadi saksi di sidang dugaan korupsi e-KTP dengan terdakwa Andi Narogong. Novanto dalam keterangannya membantah pernah menerima uang terkait e-KTP. Menurutnya, hal tersebut adalah fitnah.

"Ada sumber, Anda ikut arus perputaran uang apa keterangan Anda?" tanya hakim Jhon Halasan.

"Ini fitnah yang kejam dilakukan kepada saya dan ada pihak yang menyudutkan saya," ucap Novanto kala itu.

6 November 2017, KPK melalui surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) yang beredar di kalangan wartawan, kembali menetapkan Novanto sebagai tersangka e-KTP.

"Dengan ini diberitahukan bahwa pada hari Selasa, tanggal 31 Oktober, telah dimulai penyidikan perkara tindak pidana korupsi dalam pengadaan paket penerapan kartu tanda penduduk berbasis nomor induk kependudukan secara nasional (KTP elektronik) tahun 2011 sampai dengan 2012 pada Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia yang diduga dilakukan oleh Setya Novanto," demikian penggalan SPDP yang beredar, Senin (6/11/2017).

Kala itu, Sekjen Golkar Idrus Marham sudah ditanya soal status tersangka baru ini. Dia mengaku belum tahu-menahu.


Secara terbuka, KPK akhirnya mengumumkan status baru Setya Novanto di kasus e-KTP yakni sebagai tersangka. Novanto disangka secara bersama-sama melakukan korupsi yang diduga merugikan negara hingga Rp 2,3 triliun.

"KPK menerbitkan sprindik pada 31 Oktober 2017 atas nama tersangka SN, anggota DPR RI. SN selaku anggota DPR RI bersama-sama dengan Anang Sugiana Sudihardjo, Andi Agustinus, Irman, dan Sugiharto, diduga dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau korporasi," ucap Wakil Ketua KPK Saut Situmorang di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (10/11/2017).

"SN disangka melanggar Pasal 2 ayat 1 subsider Pasal 3 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP," imbuh Saut.
(rna/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed