DetikNews
Senin 28 Agustus 2017, 16:11 WIB

Tapal Batas

Di Pasar Entikong, Beras hingga Gas Malaysia Jadi Primadona

Danu Damarjati - detikNews
Di Pasar Entikong, Beras hingga Gas Malaysia Jadi Primadona Ringgit Malaysia di Pasar Entikong, Indonesia (Rachman Haryanto/detikcom)
Entikong - Entikong memang ikonik, terlebih usai Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu pada 2016 di kecamatan terdepan Indonesia yang berhadapan dengan Malaysia ini. Jalan paralel perbatasan dan jalan inspeksi perbatasan dibangun negara.

Meski pembangunan infrastruktur sedang dilakukan untuk mempermudah mobilitas orang dan barang, namun nyatanya sejumlah barang kebutuhan pokok dari Indonesia masih mahal. Maka para pedagang lebih memilih memasok sebagian barangnya dari Malaysia, negara di seberang tapal batas sana.

Saat detikcom mengunjungi Pasar Entikong, Sanggau, Kalimantan Barat, Sabtu (15/7/2017), terpantau tak hanya penggunaan mata uang Ringgit saja yang ada di sini, namun berbagai jenis komoditas Malaysia juga ikut menjadi primadona.

Di Pasar Entikong, Beras hingga Gas Malaysia Jadi PrimadonaFoto: Pasar Entikong, Sanggau, Kalimantan Barat (Rachman Haryanto/detikcom)
Pasar Entikong terletak di pinggir jalan, jaraknya kurang lebih 1 km sebelah selatan PLBN Entikong. Pedagang-pedagang nyaris membludak ke aspal jalan. Ada Deni (48) dan istrinya, Daira (48), berjualan persis di tepi jalan. Mereka menjual sayur-mayur, pembeli dari Malaysia terkadang datang ke lapaknya.

"Orang Malaysia Sabtu atau Minggu biasanya turun sampai sini," kata Deni di pagi hari sehabis hujan deras ini.

Macam-macam yang dia jual, ada bawang, timun, kentang, jahe, labu, bengkuang, dan jengkol. Dia memperlihatkan duit Ringgit untuk melayani mereka-mereka yang memang tak punya Rupiah untuk menebus sayur-mayur ini.

"Nanti kita samakan kursnya," kata Deni.

Deni dan barang dagangannya (Rachman Haryanto/detikcom)Deni dan barang dagangannya (Rachman Haryanto/detikcom)

Dia mengaku tak bakal memahalkan barang dagangannya secara keterlaluan hanya karena pembeli berasal dari Malaysia. Misalnya, saat ini 1 Ringgit sama dengan Rp 3.126,00. Jengkol yang tua dia jual Rp 25 ribu sekilogram, bila pembelinya dari Malaysia maka dia jual 8 Ringgit. Jengkol setengah tua Rp 15 ribu sekilogram, sama dengan 8 Ringit. Labu air dijual Rp 12 ribu sama dengan 4 Ringgit. Perenggi alias labu kuning Rp 15 ribu atau 5 Ringgit. Timun dijualnya Rp 12 ribu atau 4 Ringgit. Kentang Rp 17 ribu atau 6 Ringgit. Ada pula bawang bombay Rp 20 ribu per kilogram, kalau dijual ke pembeli dari Malaysia harganya 7 Ringgit.

Dia mengaku telah memasok bahan makanan ke rumah makan di Tebedu Malaysia, yakni berupa jahe, timun, dan pakis. Yang dijual Deni dan istrinya adalah hasil bumi perbatasan asal Indonesia, sebagian lagi adalah hasil dari ladangnya di Balai Karangan, Kecamatan Sekayam. Namun ada pula pedagang yang menjual barang dari Malaysia.

Di Pasar Entikong, Beras hingga Gas Malaysia Jadi PrimadonaWortel dari Malaysia (Danu Damarjati/detikcom)

Verawati (32) punya lapak di bagian dalam pasar. Dia menjual wortel, kentang, dan kol (kubis) dari Malaysia. "Kol ini Rp 125 ribu per karung dari Malaysia, wortel beli Rp 130 ribu 10 kilogram dari Malaysia," kata Verawati.

Jika dihitung-hitung, kol ini harganya Rp 15 ribu sekilogram. Bila beli di Indonesia, kol seperti ini harganya Rp 20 ribu sekilogram. Adapun kentang dari Malaysia dia beli Rp 15 ribu per kilogram. "Kalau dari Pontianak Rp 25 ribu," ucapnya. Pontianak adalah ibu kota provinsi yang jaraknya sekitar enam jam dari lokasi ini, jalannya sudah cukup mulus saat ini.

Sesekali dia sibuk melayani pembeli, pasar memang semakin ramai seiring hujan yang mereda. Anak bayi bernama Risman, usia 10 bulan, tertidur di ayunan kain sebelah kanan. Sepupu bernama Ita (26) merokok di sebelah kiri Verawati. Di depan mereka, barang dagangan yang beraneka ragam. Tak sebagian asli Indonesia, sebagian dibeli dari Malaysia.

Di Pasar Entikong, Beras hingga Gas Malaysia Jadi PrimadonaRisman si bayi, Verawati, dan Ita di Pasar Entikong (Danu Damarjati/detikcom)


Di pojok dalam pasar, ada kios-kios. Saya masuk ke toko kecil Pak Suparman (40). Pria asli Dayak ini memajang beraneka ragam sembilan bahan pokok. Banyak barang asli Indonesia seperti beras Pandan Wangi Cianjur, mi instan, dan sabun cuci. Banyak pula barang kulakan dari Malaysia yang dia jual di sini, seperti susu kalengan, susu cokelat bubuk, ikan kalengan, gula, hingga sampo.

Di Pasar Entikong, Beras hingga Gas Malaysia Jadi PrimadonaBarang-barang dari Malaysia di Pasar Entikong (Damarjati/detikcom)

Barang Malaysia memenuhi rak-rak di toko ini. Sebenarnya tak semua produk-produk ini asli buatan Malaysia, karena ada pula barang yang diproduksi dari luar Malaysia. Namun barang-barang ini dibeli pedagang dari Malaysia.

Baca juga: Berjejal Barang-barang Malaysia Masuk Indonesia via PLBN Entikong

Suparman biasa kulakan lewat pemanfaatan kuota 600 Ringgit per bulan dari Kartu Identitas Lintas Batas (KILB) warga perbatasan. Dia merasa pembatasan 600 Ringgit ini membatasinya untuk kulakan barang-barang Malaysia.

"Kita memang mengikuti aturan, tapi kan perlu dilihat juga kebutuhan masyarakat di sini. Perlu dipertimbangkan supaya bisa lebih mudah (kulakan barang dari Malaysia)," kata Suparman yang asli warga kecamatan ini.

Susu krimer manis dari Malaysia merek Dairy Champ dibelinya 5 Ringgit 20 Sen dari Malaysia, atau sekitar Rp 20 ribu per kemasan beratnya 1 kg. Dia jual kembali di Entikong ini, bisa untung Rp 4 ribu per kemasan. Susu yang diproduksi di Indonesia juga dia jual, merek Frisian Flag dia beli Rp 10 ribu dan dijual Rp 13 ribu per kemasan 370 gram.

Saya berjalan ke seberang jalan usai tanjakan. Di sana ada toko yang ukurannya sama. 'Toko Herik' dijaga oleh juragannya, Dauglas (40). Sama saja di sini, sejumlah barang dari Malaysia juga dijual. Ada gula kemasan 1 kilogram merek CSR buatan Selangor Malaysia dibeli Dauglas Rp 10 ribu satu kemasan, dia jual lagi Rp 12 ribu.
Di Pasar Entikong, Beras hingga Gas Malaysia Jadi PrimadonaGula dari Malaysia di Pasar Entikong (Danu Damarjati/detikcom)


"(Gula) Dari Indonesia lebih mahal barangkali. Rp 11.500 per kilogram kalau kita beli. Itupun kalau ada pasokannya. Tapi kami di sini nggak jual," ucap Dauglas.

Yang aneh lagi, ada beras yang dia jual. Beras asal Kabupaten Kapuas Hulu, sama-sama Kalimantan Barat, harganya bisa lebih mahal daripada beras asal Malaysia. Beras dari Kapuas Hulu dibeli Dauglas Rp 11 ribu per kilogram dan dijual lagi Rp 12 ribu per kilogram.

"Ini beras merek Tulip dari Malaysia, harganya Rp 8.500 per kilogram. Saya heran bagaimana bisa beras dari Kapuas Hulu malah lebih mahal," kata Dauglas.
Di Pasar Entikong, Beras hingga Gas Malaysia Jadi PrimadonaBeras Tulip dari Malaysia di Pasar Entikong (Danu Damarjati/detikcom)

Gas LPG merek Petronas ukuran 14 kilogram dijualnya Rp 180 ribu, harganya menjadi Rp 450 ribu bila dijual bersama tabungnya. Tabung gas warna merah-hijau ini ditaruhnya di pelataran toko. Ada pula makanan ringan dalam kemasan yang bermacam-macam. Minuman soda rasa buah-buahan dari Malaysia juga dijualnya.

"Ini parang, cangkul, dan topi untuk ke ladangpun juga dari Malaysia. Topi anyaman untuk ke ladang ini harganya Rp 15 ribu," kata Dauglas.

Dauglas mengeluh barang-barang Indonesia berharga mahal. Dia mengaku dalam hatinya ingin agar barang Indonesia bisa bersaing dengan Malaysia, namun kadang kualitas juga tak sebanding dengan harga. Maka Dauglas dan kebanyakan pedagang di sini memilih menjual barang dari Malaysia karena hitung-hitungan ekonomis.

Di Pasar Entikong, Beras hingga Gas Malaysia Jadi PrimadonaFoto: Barang-barang dari Malaysia di Pasar Entikong Danu Damarjati/detikcom)
Cara yang paling konvensional adalah memanfaatkan jatah 600 Ringgit per bulan dari KILB. Ini menurutnya sungguh membatasi jumlah kulakan, dan perlu dibebaskan batasnya. Jatah belanja KILB memang bebas pajak sebagai upaya pemerintah mengakomodasi kebutuhan warga perbatasan Entikong dan Sekayam. Dauglas tak keberatan bila harus belanja barang Malaysia dan dikenai pajak oleh Bea dan Cukai Entikong.

"Sudah sejak Indonesia merdeka lah dipersulit seperti ini. Kalau pemerintah mau ambil cukai pajak dari kami yang beli barang dari Malaysia, ya nggak masalah lah. Kalau nggak merugikan negara, silakan ambil pajaknya," protes Dauglas.


Di Pasar Entikong, Beras hingga Gas Malaysia Jadi PrimadonaTopi untuk berladang dari Malaysia di Pasar Entikong (Danu Damarjati/detikcom)

Baca juga: Ekspor Indonesia vs Impor Malaysia via PLBN Entikong, Menang Mana?

Aktivitas ekonomi masyarakat perbatasan di sini memang masih erat kaitannya dengan Malaysia. Pada pengujung 2016 lampau, detikcom juga pernah berjalan-jalan di kawasan perbatasan Kabupaten Sanggau ini. Saat itu juga terdapat barang-barang Malaysia di toko sekitar sini. Sekarang pembangunan infrastruktur jalan sedang digencarkan supaya lalu-lintas komoditas bisa lebih mudah terhubung antara satu daerah ke daerah perbatasan di sini.

Berdasarkan catatan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Entikong, memang nilai impor dari Malaysia yang masuk ke Indonesia masih lebih besar ketimbang nilai ekspor dari Indonesia ke Malaysia. Dari Juni 2016 sampai Juli 2017, nilai ekspor tertinggi dari Indonesia ke Malaysia tercatat di November 2016 sekitar Rp 17,5 miliar. Impor tertinggi dari Malaysia ke Indonesia terjadi pada Agusus 2016 senilai Rp 30 miliar. Selama setahun itu, ekspor tak pernah mengungguli impor. Pada Juni 2017, nilai ekspor di angka Rp 6 miliar, nilai impor sekitar Rp 17 miliar.

Simak terus cerita-cerita dari kawasan terdepan Indonesia di Tapal Batas detikcom.



(dnu/fjp)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed