DetikNews
Kamis 24 Agustus 2017, 17:09 WIB

Tapal Batas

Ekspor-Impor di PLBN Entikong Terhalang Bukit

Danu Damarjati - detikNews
Ekspor-Impor di PLBN Entikong Terhalang Bukit Perbukitan di sekitar PLBN Terpadu Entikong. (Rachman Haryanto/detikcom)
Entikong - Kelancaran lalu lintas ekspor dan impor bakal berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat perbatasan Indonesia dan Malaysia. Di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Entikong, Sanggau, Kalimantan Barat, ekspor-impor kedua negara masih terhalang bukit.

Ada bukit yang berdiri persis di pintu perbatasan kedua negara, yakni di pintu terdepan PLBN Entikong. Satu sisi bukit berada di Indonesia, dan satu sisi lainnya berada di Malaysia. Bukit ini berupa gundukan besar tanah dan batu, menjulang kurang lebih 20 meter.

Saat detikcom mengunjungi PLBN Entikong pada Sabtu (15/7/2017), sisi Indonesia bukit ini sudah digempur sedemikian rupa untuk menyediakan ruang bagi trotoar, jalan aspal keluar ke Malaysia, dan tugu berornamen Dayak warna putih-kuning-merah. Tebingnya dibikin berundak supaya mengurangi risiko longsor.

Terlihat jalanan keluar dari PLBN Entikong ke arah Kompleks Kastam Imigresen dan Security (CIQS) Tebedu, semacam PLBN-nya Malaysia, berbentuk seperti leher botol, menyempit di ujung. Kondisi seperti ini bakal menyulitkan hilir mudik truk-truk niaga bila aktivitas ekspor-impor menjadi sibuk.

Untuk memperlebar jalur ekonomi yang cuma sekitar 3 meter ini, maka perlu memangkas bukit yang ada di sisi kiri. Namun bukit di sisi kiri selepas perbatasan ini sudah Malaysia punya, bukan lagi teritorial Indonesia.

Bukit yang menghalangi ekspor impor di PLBN Entikong.Bukit yang menghalangi ekspor impor di PLBN Entikong. Foto: Danu Damarjati/detikcom

Staf Asisten Deputi Lintas Batas Negara Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) Indonesia, Kholiqin, menjelaskan sebenarnya Indonesia ingin posisi PLBN Entikong dengan CIQS Tebedu Malaysia bisa lurus searah. Gara-gara bukit itu, jalur dari PLBN Entikong menuju CIQS Tebedu menjadi tidak lurus dan sempit pula. Bukit itu perlu dibongkar.

"Untuk Indonesia sudah tidak masalah. Makanya bukit di sisi Indonesia sudah dibongkar, tinggal bukit di sisi Malaysia yang belum dibongkar. Kita hanya butuh 18 meter sampai posisi garis lurus di seberang sana," kata Kholiqin sambil menunjuk-nunjuk ke arah bukit itu.

Bila nantinya bukit ini benar-benar dipangkas di kedua teritorial, maka posisi bangunan kargo di PLBN Entikong bakal lurus dengan CIQS Malaysia. Gara-gara bukit itu, bangunan kargo PLBN Entikong belum bisa difungsikan.

Bangunan kargo di PLBN Entikong yang belum dipakai.Bangunan kargo di PLBN Entikong yang belum dipakai. Foto: Danu Damarjati/detikcom

Barang-barang impor dari Malaysia tidak bisa masuk kecuali barang-barang keperluan sehari-hari masyarakat perbatasan yang diakomodasi lewat Kartu Identitas Lintas Batas (KILB). Barang-barang impor dari Malaysia belum bisa diangkut menggunakan truk atau pikap karena jembatan timbang di PLBN Indonesia belum bisa difungsikan.

"Kalau untuk impor, jembatan timbang sudah ada namun posisinya sekarang ini saling-silang dengan pintu keberangkatan. Pembuatan jalur kargo belum bisa (karena terhalang bukit)," kata dia. Itulah sebabnya, para pengangkut barang kulakan dari Malaysia ke Indonesia semuanya menggunakan mobil biasa, bukan truk atau pikap.


Berarti bukit itu juga menghalangi impor Malaysia ke Indonesia. Maka ini juga menjadi kepentingan Malaysia. "Sarawak (negara bagian) sebenarnya sudah setuju, cuma kabarnya Kuala Lumpur (pemerintah pusat Malaysia) belum menyetujui karena dikhawatirkan mengganggu batasnegara di sekitar bukit ini," ujar Kholiqin.

Selain karena terhalang bukit, ekspor-impor Indonesia-Malaysia juga terkendala oleh status PLBN Entikong sendiri. PLBN ini belum ditetapkan sebagai pintu perdagangan internasional. PLBN ini belum diberi kode pelabuhan (port code) oleh Kementerian Perhubungan RI. Juga, Kementerian Perdagangan belum memberlakukan mekanisme tata niaga umum untuk PLBN megah yang diresmikan Jokowi pada Desember 2016 ini.

PLBN Entikong juga belum mempunyai terminal pelabuhan barang internasional, padahal Malaysia sudah punya Inland Port Tebedu yang beroperasi di seberang sana. Para warga perbatasan biasa mengambil barang di Inland Port itu.

Jadi, bukit yang menghalangi ekspor-impor Malaysia juga bukan semata bukit fisik yang ada di perbatasan negara, namun juga fasilitas ekspor-impor serta legalitas PLBN Entikong yang belum siap juga ikut menjadi 'bukit penghalang' dalam hal ini. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita telah mengunjungi PLBN ini bersama Menteri Industri dan Perdagangan Internasional Malaysia Dato Mustapa Muhamed pada 13 Juli lalu. Direncanakan, terminal barang internasional bisa segera terwujud dan beroperasi.


Soal bukit yang ada di tapal batas itu, Deputi Bidang Pengelolaan Baras Wilayah Negara BNPP Robert Simbolon menjelaskan penanganan tak bisa dilakukan sepihak oleh Indonesia saja. "Untuk kepentingan pembukaan jalur kargo tersebut, dipandang perlu melakukan pemotongan bukit sehingga jalur kargo yang dibutuhkan dapat dibangun. Untuk itu perlu dilakukan upaya mendorong pihak Malaysia agar komitmen bersama untuk pemotongan bukit dapat segera direalisasikan," kata Robert.

Sebenarnya kepentingan Indonesia adalah meningkatkan ekspor, sebagaimana keinginan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Untuk mendorong ekspor agar alirannya lebih deras, maka Peraturan Menteri Perdagangan mengenai pemberlakuan tata niaga umum atau mekanisme ekspor-impor melalui PLBN, harus segera terbit. Soal terminal barang internasional, Robert memandang fasilitas itu sangatlah urgen untuk menunjang ekspor dan impor.

"Kementerian Perhubungan perlu mensegerakan pembangunan terminal barang internasional, sekaligs memberikan kode pelabuhan Entikong agar terminal barang tersebut dapat berfungsi sebagai pelabuhan dengan kapasitas sebagai asal barang ekspor dan tujuan barang impor," tutur Robert.

Jokowi di Wamena.Jokowi di Wamena. Foto: Ist.

Bicara soal ekspor via PLBN, Jokowi telah mendorong hal ini. Dia tak ingin produk-produk Malaysia membanjiri Indonesia, tapi harus sebaliknya, produk Indonesia harus bisa mudah mengalir ke Malaysia. PLBN harus menjadi titik pertumbuhan ekonomi di perbatasan. Hal ini disampaikan Jokowi saat meresmikan PLBN Aruk di Kabupaten Sambas, 13 Maret 2017 lampau.

Saat meresmikan PLBN Entikong ini, pada 21 Desember 2016 lampau, Jokowi mengungkapkan keyakinannya bahwa produk-produk dari Indonesia tak akan kalah bersaing dengan produk-produk dari Malaysia. PLBN Entikong harus bisa membawa kemanfaatan bagi masyarakat perbatasan.

"Kita harus ambil keuntungan sebanyak-banyaknya dari adanya perbaikan pos di Entikong ini, dan saya meyakini harga kita lebih kompetitif dibanding negara lain. Kita lebih banyak bisa ekspor dibanding impor," kata Jokowi saat itu.

Simak terus cerita tentang daerah terdepan Indonesia di Tapal Batas detikcom.
(dnu/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed