DetikNews
Selasa 22 Agustus 2017, 10:17 WIB

Penumpang TransJ pun Tak Setuju Larangan Motor di Jalan Sudirman

Denita Matondang - detikNews
Penumpang TransJ pun Tak Setuju Larangan Motor di Jalan Sudirman Suasana antrean penumpang Transjakarta di Halte Blok M (Foto: Denita Matondang/detikcom)
Jakarta - Penolakan terhadap rencana pelarangan sepeda motor di Jalan Sudirman tak hanya datang dari para pemotor, tapi juga sejumlah penumpang Transjakarta. Mereka menilai harus dipertimbangkan lebih jauh agar tak merugikan pihak tertentu.

"Tidak (setuju), itu ribet. Malah menyusahkan para pengendara motor. Apalagi mereka yang bekerja di sana (Sudirman) kan. Pasti akan lebih susah masuk kerja," kata Aip saat ditemui di Halte Blok M, Jakarta Selatan, Selasa (22/8/2017).

Penumpang TransJ pun Tak Setuju Larangan Motor di Jalan SudirmanAip (Foto: Denita Matondang/detikcom)
Aip menilai harus dipikirkan juga, pemotor itu untuk sampai halte atau stasiun harus membayar parkir lagi. Padahal parkiran di kantor bisa saja digratiskan.

"Dia juga harus liat orang-orang kecil, uang parkir lagi, uang bus lagi. Lebih care lagi lah ke bawah ya," tutur Aip.

Hal yang sama disampaika penumpang lainnya, Theda. Theda mempertanyakan, sebenarnya yang membuat macet itu motor atau mobil. Harus ada kajian lebih jauh.

"Kurang setuju. Sebenarnya yang bikin macet itu apa sih? motor apa mobil? Kenapa yang jadi korban motor? Misalkan kalau dari arah selatan mau ke pusat atau ke utara kan enaknya lewat arah sana ya, lewat kuningan," ujar Theda.

Penumpang TransJ pun Tak Setuju Larangan Motor di Jalan SudirmanTheda (Foto: Denita Matondang/detikcom)
"Kalau ditutup Sudirman atau Rasuna Said itu kan kita jauh sekali muternya. Kalau menurut saya perlu dikaji lagi lah. Pengguna motor seolah-olah didiskriminasi sama pengguna mobil," imbuhnya.


Penumpang lain, Mona, menganggap mobil juga menghabiskan banyak ruang di jalanan. "Harusnya nggak cuma motor (yang dilarang), yang pakai ruang itu juga mobil, kalau menurut saya mending transportasi publiknya yang diperbaiki. Supaya orang juga punya alternatif lain nggak harus mengkorbankan yang punya motor," urainya.

"Mempersulit ya kalau dilarang, karena banyak orang bekerja di daerah umum, secara umum mungkin memang bisa mengatasi kemacetan. Tapi perlu dikajilah akan sangat mempersulit orang yang bekerja di sana, kan kasian mereka," ungkap penumpang bernama Ziko.
(rna/fjp)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed