DetikNews
Kamis 17 Agustus 2017, 10:16 WIB

Tapal Batas

Kelakar Dayak di Perbatasan: Garuda di Dada tapi Ringgit di Perut

Danu Damarjati - detikNews
Kelakar Dayak di Perbatasan: Garuda di Dada tapi Ringgit di Perut Foto: Rachman Haryanto/detikcom
Sanggau - Tapal batas Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat dihuni oleh masyarakat Dayak. Mereka sudah hidup di tempat itu jauh sebelum batas-batas negara terbentuk.

Pola kekerabatan Dayak di Indonesia dengan Dayak di Malaysia juga masih bertalian. Imaji komunitas berdasarkan persamaan budaya juga nyata ada. Lalu bagaimana kabar nasionalisme sebagai bangsa Indonesia? Adakah di hati mereka muncul rasa keterikatan persaudaraan dengan orang-orang dari Sabang sampai Merauke?

Di Kalimantan Barat, detikcom menyambangi Sanggau dan Sintang, dua kabupaten Indonesia yang punya wilayah berbatasan dengan Sarawak, Malaysia. Ada wilayah-wilayah perbatasan tertentu yang masih cukup sulit dijangkau dari pusat kota.

Soal Cinta NKRI dan Akses Jalan

Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Sintang, Jeffray Edward, menjelaskan memang pembangunan infrastruktur jalan di perbatasan di era Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah dijalankan. Ini sangat membantu masyarakat perbatasan berhubungan dengan kawasan lainnya di dalam negeri. sebut saja pembangunan Jalan Paralel Perbatasan.

Namun akses dari Jalan Paralel menuju daerah di Ibu Kota Kabupaten masih perlu menjadi perhatian. Ada akses jalan menuju lima kecamatan yang perlu diperhatikan, yakni Sintang, Binjai Hulu, Ketungau Hilir, Ketungau Tengah, dan Ketungau Hulu.

"Dan terus terang, kami tidak mampu dengan pembiayaan dari Kabupaten. Kami memohon dengan sangat dukungan dari pemerintah pusat untuk membantu masyarakat di sini. Karena bagaimanapun ini menjadi sarana dan prasarana masyarakat Kabupaten Sintang, terutama wilayah perbatasan," kata Jeffray kepada detikcom di sela Gawai Dayak, Jumat (14/7/2017).

Tak hanya soal pembangunan fisik, tapi pembangunan pendidikan juga perlu digenjot lagi. Tenaga kesehatanpun dirasanya masih sangat perlu ditingkatkan. Terlebih, tak semua tenaga pendidikan dan kesehatan bisa mengakses kawasan pelosok perbatasan. Dia berharap putra daerah Sintang sendiri bisa ditugaskan untuk mengabdi di daerahnya, tak sedikit dari putra daerah sudah berpendidikan sarjana dan pascasarjana.

"Karena kalau tenaga dari luar dan ditempatkan di sana, terus terang mereka agak kurang betah karena kondisinya sangat jauh. Harapan kita, pemerintah pusat bisa memprioritaskan masyarakat setempat yang punya kemampuan," ujar Ketua DPRD Kabupaten Sintang ini menyampaikan aspirasi.

Kondisi pembangunan yang menyentuh bibir perbatasan tentu saja berpengaruh terhadap rasa nasionalisme masyarakat Dayak di lokasi. Apapun kekurangan yang masih ada hingga kini, menurutnya kondisi sekarang sudah mendingan ketimbang tahun-tahun yang telah lampau.

Dulu, aktivitas ekonomi masyarakat Dayak perbatasan sangat erat bergantung ke Malaysia, bukan ke Indonesia. Ini karena akses ke Malaysia jauh lebih gampang. Misalnya saja saat mereka harus menjual hasil bumi, mereka tak mungkin menempuh jarak yang jauh dengan kondisi medan yang berat hanya demi menjauhkan diri dari hubungan dengan Malaysia.

Pilihan menjual hasil bumi dan barang dagangan ke Malaysia adalah pilihan praktis yang dipengaruhi kondisi riil, bukan masalah suka atau tidak suka. Berhubungan dengan Malaysia bukan berarti itu menunjukkan masyarakat tidak cinta Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Memang dulu sebelum infrastruktur kita ditangani, kita melihat bahwa mereka juga menjalin ekonomi dengan daerah tetangga (Malaysia), karena tidak mungkin mereka menjual ke daerah kita karena daerah perbatasan jauh sekali. Bukan berarti mereka tidak cinta NKRI kalau dulu," tutur Jeffray.

Dulu pada 2011, menjelang perayaan kemerdekaan 17 Agustus, pernah ada kabar sensasional tentang seorang Kepala Desa Mungguk Gelombang di Sintang yang mengancam akan mengibarkan Bendera Malaysia. Jeffray ingat betul ramainya pembicaraan soal itu. Namun kini kondisinya sudah berubah, katanya.

Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Sintang, Jeffray Edward.Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Sintang, Jeffray Edward. Foto: Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Sintang, Jeffray Edward (Danu Damarjati/detikcom)

Tak perlu meragukan nasionalisme masyarakat Dayak di perbatasan. Kini dengan adanya pembangunan Jalan Paralel Perbatasan, mereka sudah bisa lebih intens berhubungan dengan kawasan dalam teritorial Indonesia. Beberapa bulan lalu ada Gawai Dayak di kawasan perbatasan yang digelar masyarakat. Jeffray datang langsung dan dia melaporkan suasana yang terbentuk sangatlah nasionalis.

"Sekarang kondisinya, mereka sangat senang. Saya sudah ke sana. Mereka dengan semangat mengibarkan bendera merah putih. Bahkan kemarin saya pergi Gawai bersama Pak Bupati Sintang, bahkan ada Pak Komandan Kodim. Masyarakat perbatasan sudah mengibarkan Bendera Merah Putih di sepanjang jalan, ini wujud kecintaan mereka kepada NKRI. Ini tugas kita selaku bangsa dan pemerintah untuk memperhatikan masyarakat kita di wilayah perbatasan ini," kata Jeffray.

Soal Ringgit Malaysia

Tak dapat dipungkiri, mata uang Ringgit Malaysia memang masih menjadi alat tukar di beranda negara ini, terlebih di pelosok-pelosok yang sangat susah dijangkau transportasi dari Indonesia. Bagi masyarakat yang lebih mudah menjalin hubungan dagang dengan Malaysia sekadar untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, mata uang Rupiah memang menjadi pilihan nomor dua.

Bahkan di era penggalakan pembangunan infrastruktur perbatasan sekarang, masih ada juga masyarakat yang menggunakan Ringgit atau menjual dagangannya ke Malaysia dan mendapat duit Ringgit. Tak terkecuali masyarakat Kabupaten Sanggau.

Di sini ada Desa Suruh Tembawang yang memuat dusun-dusun perbatasan seperti Gun Tembawang dan Gun Jemak yang masih sulit dicapai bila orang berangkat dari teritorial Indonesia. Bagi warga di situ, akses menuju wilayah Malaysia yakni dari Gun Sapit justru jauh lebih mudah ketimbang harus ke Entikong. Dengan adanya Jalan Inspeksi Patroli Perbatasan yang sudah mulai dibangun, mereka mulai sedikit demi sedikit berusaha berkontak dagang dengan Entikong.

"Akses ekonomi sekarang pelan-pelan mereka sudah menjual hasil ekonomi ke Entikong. Walaupun masih ada kecenderungan menjual ke Malaysia, karena harga di sana lebih baik," kata Bupati Sanggau, Paolus Hadi, saat berbincang dengan detikcom di Rumah Dinasnya yang tak jauh dari Sungai Kapuas, Kamis (13/7/2017).


Bupati Sanggau Paolus Hadi.Bupati Sanggau Paolus Hadi. Foto: (Rachman Haryanto/detikTravel)

Masyarakat perbatasan rata-rata bermata pencaharian sebagai petani yang berladang lada (sahang), kacang tanah, jahe, dan rempah-rempah. Akhir-akhir ini, harga sahang turun. Bila harga sahang sedang tinggi, sekilo sahang bisa dihargai Rp 100 ribu.

Sehari-hari, keterikatan dengan Indonesia juga dipengaruhi oleh sajian tontonan televisi. Beruntung, sekarang mereka sudah bisa menonton siaran televisi dari Indonesia menggunakan parabola, padahal dulu mereka pernah mengalami masa sulit tak bisa menonton siaran televisi Indonesia.

Kelakar Dayak di Tapal Batas

Pada Sabtu (15/7/2017), kami bertemu langsung dengan Kepala Desa Suruh Tembawang Kecamatan Entikong Kabupaten Sanggau, namanya Gak Mulyadi. Memang keterikatan kehidupan masyarakat perbatasan dengan wilayah Indonesia sudah semakin kuat akhir-akhir ini seiring dengan laju pembangunan. Dusun Badat misalnya, penduduk di situ sudah beberapa tahun terakhir ini lebih sering menjalin hubungan dagang dengan Entikong.

Pusat Desa Suruh Tembawang sendiri sudah mulai terakses Jalan Inspeksi Patroli Perbatasan, meski masih buruk. Namun untuk dusun-dusun yang lebih pelosok seperti Gun Tembawang dan Gun Jemak, hubungan dagang dengan Malaysia masih lebih kuat. Mereka bakal kewalahan secara fisik dan biaya bila harus dipaksa menjual hasil ladangnya ke Entikong. Lagi-lagi masalah infrastruktur jalan menjadi hambatan.

Tentang hal ini, Gak Mulyadi mengemukakan sebuah anekdot bertemakan kemerdekaan yang dulu sering dituturkan warganya. Bagi orang pedalaman, Indonesia cuma ada di pusat pemerintahan.

"Dulu kan belum ada jalan pemerintah yang menghubungkan Kecamatan Entikong ke pusat Desa Suruh Tembawang. Maka orang-orang jadi bilang, 'Indonesia merdeka itu hanya ada di Kecamatan Entikong.' Tapi sekarang, jalan sudah sampai pusat Desa Suruh Tembawang, maka orang bilang 'Indonesia merdeka itu hanya di pusat desa'," tutur Gak sambil tertawa santai.

Gak MulyadiKepala Desa Suruh Tembawang Gak Mulyadi. Foto: Danu Damarjati/detikcom

Jadi sekarang sudah mendingan, minimal Indonesia merdeka sudah sampai ke pusat desa. Tentu saja orang kota tak perlu terlalu serius untuk menikmati kelakar Gak Mulyadi. Ini cuma guyonan.

Bila sekarang pekik 'NKRI harga mati!' terdengar lantang di mana-mana, di Gun Tembawang dan Gun Jemak juga sama. Mereka bisa pula memekikkan kalimat serupa. Bukan hanya 'NKRI harga mati!' namun juga 'Garuda di dadaku'. Semangat nasionalisme dan cinta tanah air tetap bergelora di sanubari. Tapi kebutuhan hidup yang nyata-nyata mereka hadapi membuat mereka bertindak realistis saja.

Suatu saat Gak Mulyadi hadir dalam sebuah rapat Gawai Dayak di wilayahnya. Dia menanyakan kepada warga dari pelosok yang berdekatan dengan perbatasan Malaysia. "Bagaimana NKRI?" tanya Gak Mulyadi ke warganya itu.

"Harga mati!" jawab warga Dayak pelosok itu.

"Mereka bilang, 'Garuda di dadaku! Memang Garuda tetap di dada kami, tetapi Ringgit di perut kami!' Orang Gun Jemak dan Gun Tembawang ngomong saat rapat acara Gawai Dayak," kata Gak sambil terkekeh-kekeh.

[Gambas:Video 20detik]


Dia memberitahukan, bila orang membawa Rupiah ke Gun Jemak atau Gun Tembawang, maka orang tersebut bakal kebingungan untuk menggunakannya. Masyarakat Gun Jemak dan Gun Tembawang-pun juga tidak bisa menghitungnya.

"Kemarin dari Kapolsek, Pak Camat, pihak Imigrasi, dan pihak Bea Cukai sudah mencoba langsung pergi ke sana. Mereka mencoba belanja memakai Rupiah. Oh, tidak diterima. Orang Bea Cukai-nya malah tertawa bingung saat mau beli rokok," tutur Gak.

Ringgit Malaysia.Ringgit Malaysia. Foto: Rachman Haryanto/detikcom

"Bukan berarti tidak suka Rupiah," kata Gak. Ini cuma soal kebiasaan perputaran uang yang memang lebih sering menggunakan Ringgit. Soal nasionalisme di dada mereka, Gak dengan meyakinkan berkata bahwa itu tak perlu diragukan.

Perayaan 17 Agustus 2016 lalu adalah buktinya. Saat itu masyarakat Gun Tembawang sendiri yang meminta agar upacara perayaan Kemerdekaan ke-71 Republik Indonesia harus diadakan di Gun Tembawang. Maka semua Satuan Kerja Perangkat Daerah hingga pihak Polsek Entikong mengosongkan kegiatan upacaranya di Ibu Kota Kecamatan. Mereka benar-benar mengabulkan permintaan warga Gun Tembawang untuk memusatkan upacara tingkat kecamatan di dusun tapal batas itu.

"Memang itu permintaan masyarakat, mereka bilang, 'Kalau tidak ada Camat sampai Kepala Desa yang mengadakan upacara 17 Agustus di Gun Tembawang, ya kami tidak mau mengibarkan Bendera Indonesia!' Diancam begitu. Jadi mereka itu sangat kepengin melihat wujud perayaan kemerdekaan Indonesia," tutur Gak menceritakan perayaan kemerdekaan setahun kemarin.

Desa Suruh Tembawang dihuni oleh Suku Dayak Bidayuh yang punya beragam variasi bahasa. Mereka punya hubungan kekerabatan dengan Dayak Bidayuh di Gun Sapit Malaysia. Dayak Bidayuh juga tinggal di Kecamatan Sekayam, satu kecamatan selain Entikong yang berbatasan langsung dengan Serawak Malaysia. Ada pula Dayak Iban yang ada baik di wilayah Indonesia maupun Malaysia, dengan berbagai sub sukunya. Dayak Ketungau tinggal di Kabupaten Sintang.
(dnu/tor)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed