DetikNews
Minggu 13 Agustus 2017, 00:55 WIB

Kiai Jember Curhat Soal Sekolah 5 hari, Jokowi: Tak Ada Keharusan

Yakub Mulyono - detikNews
Kiai Jember Curhat Soal Sekolah 5 hari, Jokowi: Tak Ada Keharusan Foto: Presiden Jokowi di Jember. (Yakub Mulyono/detikcom).
Jember - Presiden Joko Widodo menegaskan tidak ada keharusan bagi sekolah untuk memberlakukan sistem pembelajaran sekolah lima hari. Pemerintah memberi kebebasan sekolah mengenai sistem pembelajaran mana yang akan dipilih, apakah lima hari atau enam hari dalam seminggu.

Penegasan itu disampaikan Jokowi menanggapi curhat sejumlah kiai dan pengasuh pondok pesantren (ponpes) di Jember, Jawa Timur. Mereka keberatan dengan sekolah 5 hari karena dinilai akan mematikan Madrasah Diniyah yang sudah ada (Madin).

"Jadi tidak ada, tidak ada keharusan bagi sekolah untuk full day school. Yang selama ini enam hari silakan lanjut, tidak perlu jadi lima hari. Tapi kalau lima hari dianggap bagus ya silakan," kata Jokowi saat bertemu dengan sejumlah kiai di Ponpes Nurul Islam (Nuris), Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, Sabtu (12/8/2017).


Menurut Jokowi, pemerintah memberi kebebasan kepada daerah. Sistem seperti apa yang kira-kira pas dalam kegiatan belajar-mengajar.

"Dan kalau yang dibutuhkan adalah lima hari, ya silakan. Sesuaikan dengan kondisi daerah masing - masing," ucap Jokowi.

Agar segera memiliki sandaran hukum, peraturan presiden (perpres) tentang pilihan sistem pembalajaran ini menurutnya sedang dalam proses. Oleh karena itu, jokowi meminta agar semua pihak bisa bersabar.

"Buat perpres kan nggak mungkin seminggu dua minggu. Nanti keliru lagi kalau cepet cepetan," tuturnya.


"Ini masih kita godok untuk memperkuat pendidikan karakter anak-anak kita," imbuh Jokowi.

Dia juga menegaskan pemerintah sebenarnya ingin memasukkan pendidikan yang diajarkan di pesantren menjadi bagian dari ekstrakurikuler. "Justru kita ini ingin memperkuat ke sana. Karena dulu dulunya kan tidak dimasukkan," tambah Jokowi.

Pemerintah disebutnya tidak ingin capaian keberhasilan pendidikan hanya diukur dengan angka-angka. Ada beberapa aspek lainnya yang perlu diperhatikan.

"Kita ingin membangun budi pekerti dan nilai-nilai yang baik," urai presiden.

Jokowi mengatakan, nilai budi pekerti yang baik itu lah yang dibutuhkan. Nilai-nilai seperti itu menurutnya ada di lingkungan pesantren.


"Siapa yang memiliki ini? Sebenarnya ya dipesantren," sebut Jokowi.

Dengan demikian, dalam rapor siswa nanti tidak hanya berisi nilai mata pelajaran yang bersifat mengedepankan kecerdasan otak. Namun juga tingkat perilaku.

"Selama ini, itu kan tidak dihitung. Nanti akan masuk itu," tutupnya.
(elz/elz)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed