DetikNews
Sabtu 12 Agustus 2017, 19:09 WIB

Moral Pancasila Menurut Megawati Soekarnoputri

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Moral Pancasila Menurut Megawati Soekarnoputri Megawati memperagakkan 'Salam Pancasila'. Foto: Bagus Prihantoro Nugroho-detikcom
Bogor - Bangsa Indonesia telah menyepakati Pancasila adalah dasar negaranya. Untuk itu Presiden Jokowi membentuk UKP Penguatan Ideologi Pancasila.

UKP Pancasila saat ini menggelar Program Penguatan Pendidikan Pancasila yang pesertanya adalah dosen dan mahasiswa. Salah satu pengisi materinya adalah Ketua Dewan Pengarah UKP Pancasila Megawati Soekarnoputri.

"Sayang, sebenarnya ada dokumen otentik dulu ada bagaimana cara salam Pancasila yang diajarkan oleh Bung Karno. Karena beliau berkeinginan setiap warga secara fisik itu memberikan salam hormatnya dengan 'salam Pancasila'," kata Megawati di Istana Bogor, Jawa Barat, Sabtu (12/8/2017).

Dia kemudian memperagakan yang dimaksud 'salam Pancasila'. Salam itu pernah diperkenalkan Bung Karno, Presiden pertama RI, dahulu.

Salam itu menggunakan gerakan tangan seperti menghormat dengan lima jari. Tetapi bedanya adalah, ujung jari telunjuk atau tengah tak ditempelkan ke alis. Posisi lengan pun tidak 45 derajat, tetapi tegak lurus.

Jokowi dan para tokoh nasional hingga pejabat negara yang hadir di sana pun mengikuti salam tersebut. Setelah itu barulah Megawati memaparkan tentang moral Pancasila.

"Kalau sekarang kan mem-bully orang beraninya di medsos. Itu bukan jiwa Pancasila, loh," kata Megawati.

Megawati lalu mengaitkan moral Pancasila dengan sikap kepemimpinan. Menurut Mega, sikap pemimpin sesuai moral Pancasila yang pertama adalah berpenampilan menarik.

"Tapi kalau ganteng, saya lihat aduh rambut panjang segini, pakai celana sobak sobek. Saya terus pikir, kok buat apa ya, dia sudah ganteng (tapi begitu). Itu kan sebetulnya untuk mencari perhatian. Ya mbok kalau ganteng ya sisiran rambutnya bagus gitu," ujar Mega.

Sikap yang kedua adalah pada saat berbicara dengan orang lain. Menurutnya, orang harus menatap mata lawan bicaranya ketika berbincang.

"Syarat ketiga, harus bisa menanamkan kemauan kepada orang lain, kepada rakyat untuk memiliki kekuatan untuk bekerja, memperjuangkan cita-cita, mimpi tersebut. Karenanya, pemimpin harus memiliki karakter dan kemampuan untuk mengorganisir orang atau rakyat," tutur Mega.
(bag/elz)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed