DetikNews
2017/07/04 07:41:22 WIB

Tapal Batas

Menjala Ratusan Juta Rupiah dari Gelembung Ikan di Merauke

Danu Damarjati - detikNews
Halaman 1 dari 2
Menjala Ratusan Juta Rupiah dari Gelembung Ikan di Merauke Nelayan Merauke berburu gelembung ikan. (Hasan Al Habshy/detikcom)
Merauke - Benda mirip kerupuk mentah yang keras ini dicari-cari. Ukurannya ada yang selebar telapak tangan atau dua kali lebih besar, berwarna putih pucat. Sekilas, sulit dipercaya bahwa ini barang mahal, bila dikumpulkan harganya bisa ratusan juta Rupiah.

Benda ini adalah gelembung ikan. Para nelayan di Merauke, Provinsi Papua, banyak yang memburunya di lautan. Seperti para nelayan di Pantai Lampu Satu ini, gelembung ikan adalah alasan mereka untuk berada di tengah laut selama berpuluh-puluh hari.

Saat detikcom menyambangi salah satu sudut kampung nelayan Makassar di Lampu Satu, Kamis (11/5/2017), para pria dewasa sedang beristirahat di teras rumah panggung, sekitar 100 meter dari bibir pantai. Mereka nelayan, namanya Hamzah, Jum, Bota, Kahar, Ruslan, Sahid, dan Haris.

Gelembung ikan.Gelembung ikan. Foto: Hasan Al Habshy

Mereka bercerita kepada kami soal gelembung ikan itu. Gelembung yang paling mahal adalah yang diambil dari perut ikan gulama (Pennahia argentata). Gelembung dari jenis ikan yang lain harganya lebih murah, namun tetap saja harganya fantastis untuk ukuran jeroan ikan. Ada gelembung kakap cina, angkui, dan kuroh.

"Dulu, kita pernah dapat paling banyak Rp 300 juta lebih. Tapi waktu itu melautnya sampai daerah Wanam dan juga sampai perbatasan PNG (Papua Nugini) ke sana," kata Jum, pria 35 tahun, sambil bersandar di pagar teras rumah panggung ini.

Di daerah itu ada ribuan ekor ikan gulama yang bisa dijaring. Tentu tak mudah untuk mencapai wilayah perairan yang disebutkan itu. Di samping jaraknya jauh, bahan bakar dan perbekalan juga harus dipersiapkan dengan modal tak sedikit. Melaut sebulan saja, butuh duit belasan hingga puluhan juta rupiah. Belum lagi sebelum melaut, mereka harus minta izin dulu dengan nelayan setempat agar terhindar dari rusuh di lautan.

Ikan gulama sendiri sudah semakin sulit didapati oleh nelayan Lampu Satu. Gulama biasa dijumpai sekitar September sampai Januari. "Gulama itu carinya setengah mati. Kadang satu bulan, tiga bulan, tidak dapat ikan itu," kata Sahid (35) sambil menenggak minuman di suasana gerah tepi pantai ini.

Gelembung adalah organ yang membantu ikan bisa mengambang. Nama pasarannya adalah 'fish maw'. Di China, gelembung menjadi makanan mewah, diolah dalam bentuk sup atau rebusan. Gelembung juga menjadi sumber kolagen, lem tahan air, hingga alat pemurni minuman beralkohol. Nelayan juga menginformasikan gelembung ini diolah menjadi benang operasi yang digunakan dokter.

Jika telinga ikan ini putus, harganya berkurang.Jika telinga ikan ini putus, harganya berkurang. Foto: Hasan Al Habshy

Jum yang pamit sebentar ke rumah sebelah kemudian kembali lagi membawa satu lembar gelembung, beratnya sekitar 30 gram. Ini adalah gelembung dari ikan angkui, seperti ada sepasang telinga di ujungnya.

"Kalau telinganya putus, harganya berkurang," kata Jum.

Nilai gelembung ini dipengaruhi juga oleh jenis kelamin ikannya. Beda gelembung ikan jantan dan betina ada pada bentuk gelembung. Bila jantan, pinggirnya cenderung tipis dan tengahnya tebal. Bila betina, permukaannya cenderung tebal semua. Gelembung jantan lebih mahal harganya.

Bila mau dijual, gelembung itu dikelompokkan dulu berdasarkan berat per gram. Kemudian gelembung yang dikumpulkan itu akan dinilai berdasarkan ukuran per 1 kg. Berikut adalah daftar harga gelembung ikan berdasarkan penuturan nelayan Pantai Lampu Satu, Haris (27) sang kaptel kapal, sambil membuka foto catatan di ponsel Android-nya.

Gelembung Gulama:
di bawah 10 gram, per 1 kg: Rp 8 juta
10 gram, per 1 kg : Rp 18 juta
20 gram, per 1kg: Rp 28 juta
30 gram, per 1kg: Rp 38 juta
50 gram, per 1kg: Rp 53 juta
80 gram, per 1kg: Rp 83 juta

Gelembung Kakap Cina jantan:
di bawah 50 gram, per 1 kg: Rp 4,5 juta
50 gram, per 1 kg: Rp 11 juta
100 gram, per 1 kg: Rp 17.800.000,00.
150 gram, per 1 kg: Rp 22.500.000,00.

Gelembung Kakap Cina betina:
di bawah 50 gram, per 1 kg: Rp 2,8 juta
50 gram, per 1 kg: Rp 6,3 juta
100 gram, per 1 kg: Rp 10.600.000,00.
150 gram, per 1 kg: Rp 13.800.000,00.
200 gram, per 1 kg: Rp 17.700.000,00.
250 gram, per 1 kg: Rp 21.000.000,00.

"Kalau gelembung warnanya sudah merah, itu tandanya ikan sudah tua, busuk. Harganya dipotong 30 persen," kata Haris.

Pada Oktober tahun kemarin, Haris dan para nelayan yang menggunakan kapalnya berhasil meraup lebih dari Rp 100 juta dari lebih dari 10 kg gelembung kakap cina. "Bulan-bulan 10 biasanya dapat segitu," kata Haris.

Yang membayar gelembung-gelembung ini adalah para pengepul, mereka sebut sebagai bos. Para nelayan ini mengaku tak tahu menahu sebenarnya buat apa gelembung-gelembung ini, kecuali hanya sebatas informasi singkat yang tak terlalu mereka pahami.

"Kita biasa tanya bos (pengepul). Dia selalu bilang, 'Ah, kamu tidak tahu.' Ada yang bilang dibikin soto, buat benang operasi karena ini bisa menyatu dengan daging. Bos jual ke Malaysia, Singapura, lewat Jakarta atau Surabaya," kata Boy Yadi, nelayan kelahiran 1974 pemilik Kapal Motor Fadel yang pulang dari melaut 22 hari.

Harga gelembung ikan ini cukup tinggi.Harga gelembung ikan ini cukup tinggi. Foto: Hasan Al Habshy

Sambil duduk di samping rumahnya, Boy menjelaskan bahwa kapalnya menggunakan jaring jangkar, bukan jaring hanyut yang bisa ditarik sampai 10 mil hingga 20 mil. Jaring jangkar lebih murah, namun tentu hasil tangkapannya juga lebih sedikit ketimbang jaring hanyut.

Gelembung-gelembung kakap cina yang didapat para nelayan barusan kemudian dia ukur dengan timbangan warna perak dengan alas kaca transparan. Angka menunjukkan 247 gram untuk yang paling besar. Namun ukuran-ukuran gelembung yang dia dapat tak semuanya sama, ada yang besar dan ada yang kecil. Cukup banyak juga gelembung-gelembung kering yang dia timbang.

"Ini total Rp 22 juta," kata Boy usai menimbang.

Akhir-akhir ini ombak sedang tinggi. Para nelayan tak mendapatkan tangkapan dalam jumlah yang banyak. Boy mengaku pernah mendapat total Rp 180 juta pada bulan April kemarin, hasil gelembung dari 107 ekor kakap cina.

"April kemarin dapat Rp 180 juta lebih," kata dia yang bersarung.


Sejak Kapan Tren Gelembung Ikan?

Para nelayan ingat betul bahwa pada masa kecil mereka, tak pernah ada tren pencarian gelembung seperti sekarang. Dulu, yang mereka tahu yang dicari dari laut adalah ikan, cumi-cumi, kepiting, dan hasil laut konvensional lainnya.

"Nyari gelembung itu sejak tahun 2000-an," kata Haris.

Pada masa-masa itu, awalnya ada orang Tionghoa yang datang ke nelayan bertanya soal gelembung ikan. Akhirnya gelembung menjadi buruan favorit para nelayan, mengalahkan buruan favorit sebelumnya.

"Dulu kan sirip hiu, tapi sekarang sirip hiu murah dan dilarang juga. Pengirimannya juga sudah susah. Sekarang gelembung ikan ini," kata dia.

"Waktu saya kecil, tidak ada yang tahu soal gelembung ini," imbuh Kahar, nelayan umur 41 tahun.


Keuntungan Dibagi ke Banyak Nelayan

Untung ratusan juta Rupiah bukan berarti masuk ke kantong satu orang saja. Untuk melaut, satu kapal bisa berisi banyak nelayan, terdiri dari kapten dan anak buah kapal. Adapun kapal itu sendiri adalah sewaan dari pemiliknya.

Haris misalnya, pada Oktober lalu dia dapat untung banyak dari aktivitas mencari gelembung, yakni Rp 100 juta. Keuntungan itu sudah dipotong ongkos melaut 20 hari sebesar Rp 20 juta untuk beli makanan hingga solar. Rp 100 juta itu kemudian dibagi.

"Dibagi dua dulu sama yang punya kapal, 50:50. Yang punya kapal dapat 50 persen. Kemudian dari 50 persen yang kami dapat, kami bagi lagi untuk enam orang," kata Haris yang punya ABK enam orang yang memakai Kapal Motor sewaan bernama 'Jaya'.

Hasil penjualan dibagi ke banyak nelayan.Hasil penjualan dibagi ke banyak nelayan. Foto: Hasan Al Habshy

Maka hasil pembagian itulah yang akan dipakai untuk hidup para nelayan sekeluarga. Namun para nelayan ini juga tak pasti sebulan sekali melaut. Uang hasil melaut itu dibawa ke daratan untuk hidup selama sebulan atau dua bulan, bersama keluarga. Aktivitas melaut mereka sangat tergantung ombak. Bila ombak tinggi, mereka tak bisa melaut.

"Kita biasa satu bulan, dua bulan di darat dulu. Baru melaut lagi. Kalau cuaca ombak tinggi, ya sulit," kata Jum yang merupakan anak buah kapal sang kapten, Haris.
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed