DetikNews
Minggu 02 Juli 2017, 23:34 WIB

Mengenal Makna di Balik Tradisi Sewu Kupat di Kudus

M. Rizal - detikNews
Mengenal Makna di Balik Tradisi Sewu Kupat di Kudus Foto: Tradisi Sewu Kupat di Kudus/Foto: Humas Pemkab Kudus
Jakarta - Sebagai salah satu pusat penyebaran Islam di Jawa, masyarakat Kudus dikenal menjadi tempat bermukim dua wali terkemuka, yakni Sunan Kudus dan Sunan Muria. Tak heran jika Kudus memiliki beragam tradisi untuk menghormati para Wali. Salah satunya adalah parade "Sewu Kupat" (seribu ketupat), yang merupakan perayaan untuk menghormati sosok Sunan Muria dan diadakan setiap tanggal 8 Syawal.

Tradisi Parade Sewu Kupat Kangjeng Sunan Muria, sejatinya bermula pada 2008 silam. Ketika itu, Bupati Kudus Musthofa Wardoyo yang baru saja terpilih, melihat kekayaan sejarah peninggalan Sunan Muria belum terkelola dengan baik. Ia kemudian berinisiatif menggandeng masyarakat sekitar makan Sunan Muria di desa Colo, Kudus, mengadakan perayaan tahunan "Sewu Kupat".

"Ada enam orang penggagas sewu kupat ini, termasuk juru kunci makan Sunan Muria, Kepala Desa Colo masa itu, bersama saya. Tradisi ini digagas sebagai wujud rasa syukur pada Allah SWT atas limpahan berkah hasil bumi yang melimpah pada pegunungan Muria," papar Musthofa Wardoyo usai parade Sewu Kupat di Taman Ria Colo, Kudus, Minggu (3/6/2017).

Mengenal Makna di Balik Tradisi Sewu Kupat di KudusFoto: Tradisi Sewu Kupat di Kudus/Foto: Humas Pemkab Kudus
Ia menambahkan, angka sewu (seribu) memiliki makna simbolis atas banyaknya peran masyarakat dan kolaborasi pemerintah dalam mengangkat kearifan lokal dan sejarah religi di Kudus.

Prosesi parade Sewu Kupat diawali dengan ziarah ke makam Sunan Muria, dilanjutkan dengan minum air dan cuci kaki serta tangan dengan air dari gentong peninggalan Sunan Muria. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan visualisasi dari perjalanan kirab Kanjeng Sunan Muria dengan mengarak 18 gunungan yang terbuat dari ketupat dan hasil panen 18 desa di Kecamatan Dawe (wikayah Gunung Muria) dari makam Sunan Muria menuju Taman Ria Colo. Prosesi semakin meriah saat ribuan warga berebut ketupat dan hasil bumi dari 18 gunungan yang diarak.

Kendati baru berlangsung sembilan tahun, parade Sewu Kupat selalu menjadi magnet bagi ribuan warga Kudus. Bahkan ada juga warga dari kota lain yang sengaja hadir untuk berharap berkah dari ritual parade Sewu Kupat.

Melihat besarnya manfaat yang diterima oleh warga, Bupati Kudus Musthofa Wardoyo berharap di masa mendatang tradisi Sewu Kupat tak hanya semakin dikenal di Indonesia namun juga internasional.

"Tradisi Sewu Kupat membuktikan, masyarakat dan birokrasi bisa melahirkan sebuah gagasan dan kolaborasi kreatif berbasis kearifan lokal yang memiliki manfaat jangka panjang. Masyarakat butuh birokrasi yang bekerja dan kreatif untuk kesejahteraan warganya. Bukan birokrasi yang gemar atraksi di media sosial," tutup Musthofa Wardoyo.
(zal/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed