detikNews
Kamis 01 Juni 2017, 12:29 WIB

Tapal Batas

Bu Guru Muda di Pelosok Merauke dan Kelas yang Bubar Jelang Siang

Danu Damarjati - detikNews
Bu Guru Muda di Pelosok Merauke dan Kelas yang Bubar Jelang Siang Resvi Dora' bersama muridnya, Daf Danu Damarjati/detikcom
Merauke - Matahari belum sempurna di atas kepala, namun SMP Negeri Erambu, Distrik Sota, Merauke, sudah kelihatan sepi. Tak ada anak-anak berlarian di atas rumput halaman depan yang lapang ini.

SMP ini memang jauh dari Kota Merauke, perlu perjalanan 125 km ke utara menyusuri Jalan Trans Papua. Jalanan aspal rusak dan lumpur adalah rintangan yang harus ditempuh.

Lokasi itu disambangi detikcom pada Sabtu (13/52017), sekitar pukul 11.30 WIT. Foto Jokowi-JK terpasang di atas papan tulis, menghadap kursi dan meja tanpa anak-anak. Plafon jebol terlihat di salah satu kelas berdinding warna biru ini.

Kelas sudah kosong saat kami berkunjung ke sekolah ini.Ruang kelas SMP Negeri Erambu. Foto: Danu Damarjati/detikcom

Melangkah ke ruang guru, ada seorang perempuan muda usia. Dia mengenakan rompi hitam bertuliskan SM3T. Ternyata dia adalah guru baru yang mengajar di sini dalam program Sarjana Mendidik di Daerah Terluar (SM3T) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dia memperkenalkan dirinya, Resvi Dora', biasa dipanggil Evi, usia 23 tahun, anak Toraja yang telah mengenyam Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Negeri Makassar, Sulawesi Selatan. Soal murid-muridnya yang telah pulang sebelum tengah hari, Evi menjelaskan memang demikianlah adanya di sini.

"Kalau untuk kita (masyarakat perkotaan) memang ini terlalu pagi. Tapi kita nggak bisa menahan mereka (murid) lama-lama di sekolah," tutur Evi.

Ternyata hari ini yang masuk kelas tempat Evi mengajar tadi hanya delapan siswa saja. Kondisi murid-murid di sini memang berbeda dengan kondisi murid-murid di Makassar atau kota-kota besar lainnya yang biasa bersekolah dari pagi hingga siang bahkan sore hari. Budaya turut memengaruhi pola hidup masyarakat setempat.

Evi, guru muda yang mengabdi di SMP N Erambu.Evi, guru muda yang mengabdi di SMP N Erambu. Foto: Danu Damarjati/detikcom

Budaya berburu hewan masih lestari di tanah ini. Murid-murid juga biasa pergi berburu sepulang sekolah. Selain itu, kata Evi, para siswa di sini pulang lebih awal karena juga dipengaruhi faktor lain.

"Ada yang datang dari kampung ujung, 2 km dari sini berjalan kaki, kadang mereka tidak sarapan ke sekolah, jadi cepat lapar. Maka siswa-siswa pulang lebih awal," kata Evi.

Jadwal kegiatan belajar-mengajar dimulai pukul 7.80 WIT sampai 11.50 WIT. Sekolah ini punya tiga kelas. Rata-rata satu kelas punya murid 15 sampai 20 siswa. Total ada 63 siswa di SMP Negeri Erambu.

Tenaga guru di sekolahan yang berdiri pada 2006 ini berjumlah tujuh orang termasuk kepala sekolah, ditambah tiga orang tenaga honorer termasuk Evi, guru SM3T.

Sudah delapan bulan Evi di sini. Dia mengajar pelajaran Bahasa Inggris untuk semua kelas, serta pelajaran Seni dan Budaya untuk kelas IX (kelas 3) SMP. Dia memang meniatkan diri untuk mengabdi sebagai guru, tak masalah bila ditempatkan di pelosok.

"Ngapain jauh-jauh ke sini kalau cuma main-main saja. Ini niatnya pengabdian," kata Evi tersenyum ramah.

SMP Negeri Erambu.SMP Negeri Erambu. Foto: Danu Damarjati/detikcom

Perbedaan durasi jam belajar itu adalah salah satu contoh keadaan khas di sini. Evi juga merasakan perbedaan-perbedaan lain, yang meski sebelum berangkat dari Makassar sudah diprediksi bakal dia alami, namun tetap saja ada rasa terkejut yang dia rasakan.

"Saya sempat culture shock juga, awalnya belum terbiasa," ujar Evi.

Sebagai sarjana pendidikan yang sering beraktivitas di Kota Makassar, dia sering menjumpai aktifnya anak-anak sekolah. Murid-murid di kota terbiasa tanpa malu-malu untuk mengemukakan pendapatnya. Namun di Erambu, hal itu tidak ditemuinya.

"Karakter siswanya sangat berbeda dengan yang kita hadapi di Makassar atau Toraja. Di Makassar kita menghadapi siswa yang sangat aktif dan partisipatif. Di sini, murid-murid sangat pasif, hanya diam saat saya pertama kali di sini," kata Evi.

Ini menjadi tantangan untuknya. Dia kemudian mengubah pola pembelajaran, guru bukan lagi sebagai sumber, melainkan murid juga perlu membangun suasana interaktif satu sama lain. Ini tidak mudah dibentuk.

"Pertama kali mengajar agak kesulitan. Mereka susah mengikuti. Maka kita sesuaikan dengan kemampuan mereka," kata Evi.

Murid-murid sering tertawa saat Evi mengajar.Murid-murid sering tertawa saat Evi mengajar. Foto: Danu Damarjati/detikcom

Contohnya saat mengajar Bahasa Inggris, murid-murid sering tertawa sendiri karena bagi mereka bahasa itu sangat asing di telinga. Sebagai guru, dia harus sabar dan secara pelan-pelan memberikan pemahaman. Kendala lainnya, murid-murid di sini diketahuinya kebanyakan hanya belajar di sekolah, tidak disusul belajar di rumah.

"Mereka menjadi susah mengingat pelajaran. Pelajaran hari ini, mereka lupa lagi esok hari," kata Evi.

Kendala komunikasi juga pernah dihadapi Evi. Dia sulit memahami kondisi emosional siswanya, apakah sedang marah, antusias, atau bosan. Namun soal komunikasi, kini Evi sudah bisa beradaptasi.

"Lama-kelamaan, saya jadi mengikuti logat mereka," kata Evi.

Kondisi murid-murid seperti itu memang perlu perhatian. Tugas guru memang untuk 'membangun dari dalam', yang dibangun adalah intelektualitas generasi muda, sehingga semua anak di negara ini bisa mempunyai kualitas yang sama unggul.

Ngomong-ngomong soal jam belajar yang pendek, apakah itu buruk? Bila berbicara soal pendeknya durasi jam belajar itu sendiri, jawabannya 'tidak juga'. Jam belajar yang pendek bahkan adalah ciri khas negara Finlandia dalam pendidikan dasar sembilan tahun yang mereka miliki. Namun tentu Finlandia menerapkannya dengan sistemik, bukan semata-mata soal singkat atau lamanya kegiatan di belajar di sekolah.

Gedung sekolan SMP N Erambu terhitung lebih baik dibanding sekolah-sekolah lain di pelosok Merauke.Gedung sekolan SMP N Erambu terhitung lebih baik dibanding sekolah-sekolah lain di pelosok Merauke. Foto: Danu Damarjati/detikcom

Soal hal ini, detikcom pernah berbincang dengan Profesor Erno August Lehtinen, guru besar pendidikan dari Universitas Turku Finlandia. Erno mengatakan negaranya sangat menghargai anak-anak bermain bebas di luar daripada hanya duduk-duduk di kelas. "Kami harus memperhatikan kualitas pengajaran, bukan panjangnya jam belajar," kata Erno di Jakarta pada 18 Oktober 2016 lampau.

Cukup sudah soal pendidikan di Finlandia. Kembali ke SMP Negeri Erambu di pojok Merauke. Kepala Sekolah Budi Setyo Wahono (52) menjelaskan kelas yang bubar jelang siang di sini disebabkan oleh faktor yang sangat mendasar. Bahkan di sini, ada hari-hari saat sekolahan ramai didatangi siswa namun ada hari-hari saat sekolahan sepi dari siswa.

"Hari Sabtu begini sedikit siswanya. Apalagi sudah jam segini. Siang banyak yang loyo. Pagi dari rumah, mereka tidak ada persiapan makanan. Kita maklumi saja. Ini warga lokal, penyiapan nutrisi sangat kurang," tutur Budi.

Pada bulan November-Desember, murid bahkan ada yang izin tidak masuk. Soalnya pada bulan itu, mereka pergi berburu mencari ikan arwana, alias kaloso dalam bahasa Suku Malind Anim setempat. Belum lagi ada hewan lain yang juga bisa diburu dan dijual untuk sekadar menyambung hidup.

"Anak-anak ini sering tidak masuk kelas. Ikut orang tua bantu cari makan, cari ikan, cari hasil hutan," kata Budi dari balik mejanya.

Ruang kelas VII.Ruang kelas VII. Foto: Danu Damarjati/detikcom

Soal guru-guru di sini, mereka kadang harus menempuh jarak yang jauh sebelum sampai di sekolah. Padahal kondisi jalan Trans Papua di Merauke bisa sulit dilalui bila musim penghujan. Aspal rusak bisa menjelma jadi kubangan lumpur.

"Saya juga pulang-pergi, rumah saya di Kota Merauke. Kalau jalannya sedang bagus, naik sepeda motor 100 km/jam bisa sejam setengah sampai sekolahan ini. Kalau jalannya sedang parah, bisa empat jam," kata pria asal Sidoarjo Jawa Timur ini.

Namun Evi tak perlu jauh-jauh untuk pulang beristirahat. Dia tinggal di asrama dekat sekolah. Dia sadar persoalan yang dihadapi para guru lainnya, menempuh perjalanan jauh ke sekolah. Evi bahkan mendengar informasi kadang-kadang jarak inilah yang menyebabkan sejumlah sekolah di pelosok Merauke sering tanpa guru.

"Gurunya ada, tapi mereka jarang datang mengajar karena jauh. Teman-teman saya menghadapi problem seperti itu juga. Ada pula sekolah yang belum punya jumlah guru mencukupi. Pemerintah perlu memenuhi penyediaan guru di sini," tutur Evi.

Pemerintah, kata Evi, juga perlu mencukupi fasilitas untuk siswa. Banyak siswa di pelosok yang tak punya buku atau seragam, bahkan ruang kelas. Untuk Erambu, kondisinya sudah mendingan. Gedung sekolah berdiri cukup kokoh.

Meski begitu, tak ada sinyal telepon selular di sini. Indikator ponsel kami tak mendeteksi apapun. Kecuali saat wifi dinyalakan, barulah ada sinyal wifi satelit yang didirikan oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi pada 2014. Wifi inilah yang menghubungkan Evi dengan dunia luar. Telepon via GSM tidak bisa, tapi telepon dan video call via sinyal internet satelit bisa dilakukan.

Gara-gara tak ada sinyal GSM, Evi tak perlu repot-repot beli pulsa. Dia hanya perlu mengecas ponselnya saja. Listrik di Kampung Erambu menyala dari pukul 18.00 WIT sampai pukul 00.00 WIT. Selain itu, ada sel surya yang menyimpan setrum di sekolahan.

Uang gaji yang diterimanya per bulan sebagai guru SM3T, yakni Rp 2,5 juta. Dari Dinas Pendidikan Kabupaten Merauke, dia mendapat Rp 250 ribu, plus dari SMP Negeri Erambu dia mendapat Rp 300 ribu.

Untuk makan dan minum sehari-hari, dia membayar dengan gajinya itu. Baru-baru ini ada warung nasi dekat sekolah, namun harga seporsi nasi dengan lauk pauk mencapai Rp 35 ribu. Evi memilih untuk memasak sendiri. Harga beras di Erambu Rp 140 ribu/15 kg, minyak tanah Rp 8 ribu/liter, lauk ikan Rp 10-20 ribu/hari. Beras 15 kg bisa habis dalam seminggu karena di asrama ada muridnya yang menemani supaya tidak berbahaya tinggal sendirian.

"Gaji SM3T itu nggak cukup untuk akomodasi, keperluan di pedalaman Papua. Jadi harus ditingkatkan," kata Evi.

Sayur jantung pisang masakan Evi.Sayur jantung pisang masakan Evi. (Dok Pribadi Resvi Dora')

Hari masuk sore, Evi memasak sayur jantung pisang plus buah pepaya. Perapiannya berasal dari kayu bakar. Tungkunya adalah batu bata yang disusun.

Dia meresapi tempatnya ini, di kabupaten yang namanya sering didengungkan di lagu nasional ini. Orang-orang sering menyapanya dengan hormat, 'Selamat pagi, selamat siang, selamat sore, Bu Guru'. Anak-anak di sini kadung senang dengan pengajaran Bahasa Inggris yang disampaikan Bu Guru Evi. Tapi empat bulan lagi, Evi akan meninggalkan Kampung Erambu ini.

"Sedih sih mau ninggalin mereka," tandas Evi.

Simak terus cerita tentang daerah terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com!


(dnu/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com