DetikNews
Jumat 19 Mei 2017, 09:07 WIB

Laporan Dari Inggris

JK: Muslim Indonesia Bisa Hidup Berdampingan dengan Agama Lain

Mega Putra Ratya - detikNews
JK: Muslim Indonesia Bisa Hidup Berdampingan dengan Agama Lain Wapres JK di London (Foto: Foto: Tim Media Wapres)
London - Wakil Presiden Jusuf Kalla (Wapres JK) mengatakan muslim di Indonesia bisa hidup berdampingan dengan agama lain. Indonesia juga biasa hidup dengan konsep gotong royong.

"Muslim di Indonesia telah membuktikan bahwa mereka bisa menjadi komunitas yang toleran yang hidup berdampingan secara damai dengan komunitas iman lainnya. Ini adalah sesuatu yang kita banggakan," ujar JK.

Hal itu disampaikan saat memberi kuliah umum di Oxford Centre For Islamic Studies, London, Inggris, Kamis (18/5/2017). Kuliah umum bertema 'Islam Middle Path: Indonesia's Experience' dihadiri 150 peserta dari kalangan diplomatik, akademisi, tokoh agama dan pelajar asing dan Indonesia.

Meski begitu, lanjut JK, hal ini perlu diimbangi dengan peningkatan kapasitas di bidang ekonomi. Dengan demikian, muslim Indonesia bisa benar-benar menjadi contoh peradaban Islam yang berkembang di era modern ini.

"Orang Indonesia terbiasa hidup dengan konsep gotong-royong. Bahkan pembangunan masjid dilakukan oleh gotong-royong. Sekitar 90 persen dari sekitar 800.000 masjid di Indonesia dibangun oleh masyarakat sekitar sendiri, bukan oleh pemerintah," paparnya.

JK mengatakan sebagai negara muslim terbesar di dunia, Indonesia dapat memberikan perspektif yang berbeda untuk menghadapi tantangan yang dihadapi dunia Islam. Muslim di Indonesia, yang dikenal sebagai 'ummatan wasatan' dapat berbagi pengalaman mereka tentang bagaimana mengembangkan Islam Wasatiyah, jalan tengah Islam yang inklusif, toleran dan mampu hidup berdampingan dengan penganut agama lain.

"Untuk mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil'alamin atau berkah bagi seluruh alam semesta," kata JK.

Menurut JK pemimpin agama dan komunitas muslim di dunia memiliki tugas untuk menunjukkan kepada dunia bahwa terorisme yang dilakukan atas nama Islam bukanlah Islam. Tugas itu hanya bisa dilakukan oleh komunitas Muslim sendiri.

"Dukungan di seluruh dunia ini membuktikan bahwa kita semua bekerja menuju tujuan yang sama, menciptakan sebuah dunia di mana orang dapat hidup berdampingan secara damai dan aman dari ancaman terorisme," ungkapnya.

Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi keadilan di ranah politik dan ekonomi juga merupakan tanggung jawab semua pihak.

"Generasi muda perlu terus diingatkan bahwa sangat penting untuk memelihara persatuan dalam keragaman di negara dan masyarakat mereka. Keragaman adalah berkah, atau hikmah, dan persatuan akan didapat," pungkasnya.
(ega/dhn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed