DetikNews
Jumat 05 Mei 2017, 10:20 WIB

Tapal Batas

Fakta-fakta Penting dan Menarik di Tapal Batas RI-Timor Leste

Danu Damarjati - detikNews
Fakta-fakta Penting dan Menarik di Tapal Batas RI-Timor Leste Padang Fulan Fehan di Belu (Fitraya Ramadhanny/detikcom)
Atambua - Banyak hal yang dapat ditemui di Kabupaten Belu. Kawasan terdepan Indonesia yang berbatasan dengn Timor Leste ini menyimpan berbagai unsur yang perlu dikenali lebih dekat.

Atambua adalah kota yang berdiri sejak 1916, menjadi Ibu Kota Kabupaten Belu yang berbatasan dengan Timor Leste. Kini gejolak sambung dan lepasnya Timor Lorosae sudah mereda. Kini Belu kian dinamis, gerak pembangunan negara nampak di sana dan sini.

Budaya, komunikasi, penjagaan perbatasan, dan berbagai destinasi wisata adalah hal yang perlu diketahui oleh masyarakat luas. Belu juga punya kuliner khas. Dikumpulkan detikcom langsung dari lokasi sejak 29 Maret sampai 3 April, berikut adalah delapan fakta tentang kawasan terdepan ini:

1. Empat Suku dan Toleransi Lintas Batas
Belu dihuni oleh empat suku utama yang dibedakan berdasarkan bahasa yang dituturkan. Suku itu adalah Tetun/Tetum, Bunak/Bunaq, Kemak, dan Dawan. Selain itu, banyak pula pendatang dari Bajo, Bugis, Alor, Jawa, hingga Tionghoa.

Mayoritas di sini menuturkan Bahasa Tetun. Namun masyarakat di sini tak perlu diragukan kemampuannya dalam menggunakan Bahasa Indonesia.

Budaya toleransi dan penerimaan terhadap perbedaan telah mengakar di Belu. Perbedaan-perbedaan suku dan etnisitas tak menghalangi persaudaraan di sini. Bahkan makna 'belu' dalam bahasa Tetun bermakna 'saudara'. Banyak penduduk Belu dan Timor Leste yang masih punya hubungan saudara dan tetap terjaga meski terpisah negara.

Upacara pengembalian pusaka di PLBN MotaainUpacara pengembalian pusaka di PLBN Motaain Foto: Fitraya Ramadhanny

2. Dari Bukit hingga Pantai
Wilayah yang masuk kawasan Waktu Indonesia bagian Tengah (WITA) ini punya kondisi wilayah yang bervariasi. Anda bisa menemukan perbukitan yang sejuk hingga tepi pantai bermandi sinar mentari.

Wilayah seluas hampir dua kali lipat daratan DKI Jakarta ini punya kondisi topografi yang sebagian besar berbukit-bukit yang cukup sejuk. Ada pula dataran rendah yang cukup terik seperti Motaain. Musim hujan di sini beralngsung dari Desember hingga Maret, musim kemarau dari April sampai November. Temperatur di sini rata-rata 27,6 derajat Celcius, suhu terendah adalah 21,5 derajat Celcius dan terpanas mencapai 33,7 derajat Celcius.

Pantai AtapupuPantai Atapupu Foto: Fitraya Ramadhanny

3. Objek Wisata
Karena kontur permukaan bumi di sini beragam, objek wisata di sini juga banyak macamnya. Tempat dengan keindahan alam mencengangkan ada di sini, yakni sabana Fulan Fehan. Padang rumput ini terhampar menghijau di kaki Gunung Lakaan, gunung tertinggi di Nusa Tenggara Timur.

Masih tak jauh dari Fulan Fehan, ada Bukit Makes yang menjadi tempat Benteng Lapis Tujuh (Ranu Hitu). Benteng ini merupakan tempat keramat bersejarah, tak semua orang bisa mencapai lokasi ini dalam kondisi bebas kabut. Perlu penentuan momen yang tepat untuk ke sini.

Air Terjun Mauhalek di Kecamatan Lasiolat terlihat cantik bagai dongeng peri. Ada Kolam Susuk di Kakuluk Mesak yang bisa menjadi tempat bersantai sambil memancing. Bila Anda bergerak ke pesisir, pantai berpasir putih bisa ditemukan di kawasan Atapupu hingga Teluk Gurita. Pantai ini cukup sepi saat kami temui, serasa pantai pribadi saja.

Terakhir, ada Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Motaain yang akhir-akhir ini juga menjadi destinasi wisata dan selfie di perbatasan. Bahkan orang Timor Leste juga foto-foto di sini. Bangunan baru PLBN yang megah memang menjadi daya tarik. Di sini juga ada jembatan air mata, saksi persaudaraan erat warga yang terpisah menjadi dua negara.

Fulan FehanFulan Fehan Foto: Fitraya Ramadhanny

4. Sajian Jagung Boseh dan Sambal Luat
Jagung Boseh adalah kuliner khas Kabupaten Belu. Bentuknya berupa jagung yang direbus, rasanya cenderung tawar, digunakan sebagai penyedia karbohidrat seperti yang diperankan nasi dalam hidangan sehari-hari.

Ada Pojok Lokal Mak Ona di Pasar Senggol Atambua, dekat alun-alun, yang menyediakan hidangan jagung boseh. Sajiannya biasa dibarengi dengan tumis bunga pepaya dan ikan teri. Ada pula kuliner khas berupa sambel luat. Sambel ini aduhai pedasnya. Yang bikin khas adalah lombok kecil yang ukurannya agak lebih kecil dari cabe rawit di Jawa. Lombok kecil ini memang pedas sekali. Rasa jeruk nipis juga cukup menonjol di sambal ini.

Yang suka manis, ada ubi kukus khas Belu. Ini adalah ubi yang diolah seperti kue putu, berisi gula merah dan dibakar di atas anglo dengan wadah anyam berbentuk kerucut.

Kuliner lokal AtambuaKuliner lokal Atambua Foto: Grandyos Zafna

5. Sinyal Ponsel
Siapkan telepon Anda sebelum pergi ke sini. Begitu menginjakkan kaki di Atambua, ponsel pintar akan mendetaksi sinyal 4G dari Telkomsel. Di pelosok-pelosok Belu, Telkomsel menjadi satu-satunya pilihan dari Indonesia karena nyaris tak ada sinyal penyedia jasa telekomunikasi selular lain yang terdeteksi.

Kawasan yang berupa lembah dan bukit tentu jauh lebih sulit untuk dijangkau sinyal, apalagi bila letaknya jauh dari pusat kota. Kadang di daerah perbatasan, sinyal perusahaan dari Timor Leste terdeteksi oleh ponsel. Aliran listrik negara yang sering mati juga berpengaruh pada hidup-matinya sinyal selular yang dipancarkan menara BTS.

Salah satu BTS Telkomsel di BeluSalah satu BTS Telkomsel di Belu Foto: Fitraya Ramadhanny

6. Sabuk Merah Perbatasan
Kondisi infrastruktur jalan di kawasan terdepan ini cukup bagus, meski belum sempurna. Proyek Sabuk Merah Perbatasan sedang dijalankan, merealisasikan kewajiban negara dalam hal pembangunan.

Sabuk Merah Perbatasan Sektor Timur di Kabupaten Belu dan Kabupaten Malaka merentang 176,19 km, termasuk 27 jembatan. Jalan aspal dilebarkan ke kanan dan kirinya. Alat-alat berat bekerja sejak pagi hari. Sebagian bersar jalanan sudah terasa baik, aspal keras dan mulus.

Sabuk merah perbatasanSabuk merah perbatasan Foto: Grandyos Zafna

7. Tentara Penjaga Perbatasan
Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan dari TNI menjaga tapal batas. Mereka sering berpatroli untuk mengamankan teritori Indonesia, paling tidak sebulan sekali atau tergantung situasi.

Perbatasan dengan Timor Leste di Kabupaten Belu merentang sepanjang 121 km. Total ada 43 pos perbatasan Indonesia-Timor Leste di Nusa Tenggara Timur. Tiap pos dijaga oleh 15 personel TNI.

Kebanyakan wujud perbatasan negara berupa sungai, yang terkenal ada Sungai Malibaka, sering banjir dan menggerus pilar batas negara. Ada perbatasan berupa daratan semak-semak hingga perbukitan. Banyak sekali jalan tikus penyelundupan di sepanjang perbatasan, kebanyakan yang diselundupkan adalah BBM. Tentara perlu mengamankan kondisi ini.

Tentara penjaga perbatasan mengecek posisi tapal batasTentara penjaga perbatasan mengecek posisi tapal batas Foto: Grandyos Zafna


8. Dolar AS Digunakan di Perbatasan
Di Pasar Turiskain, Kecamatan Raihat, pemakaian mata uang Dolar Amerika Serikat (USD) adalah hal yang umum. Mata uang ini dibawa oleh warga Timor Leste yang menyeberangi Sungai Malibaka untuk belanja di Pasar Turiskain Indonesia.

Pasar tradisional ini menyediakan barang-barang elektronik, sandang, hingga sayur mayur. Setelah dibayar pakai dolar, barang-barang itu diseberangkan melewati Sungai Malibaka menggunakan jasa kuli panggul, kebanyakan anak-anak. Selain dolar, ada pula mata uang Timor Leste yang digunakan yakni Centavos di Pasar Turiskain, dan mata uang Rupiah tentunya.

Setelah mengeksplorasi Atambua, Belu, NTT, tim Tapal Batas detikcom akan menuju wilayah tapal batas lainnya. Ikuti terus artikel-artikel penting dan menarik soal wilayah tapal batas Indonesia hanya di tapalbatas.detik.com!
(dnu/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed