DetikNews
Selasa 02 Mei 2017, 07:33 WIB

Tapal Batas

Aspirasi Nelayan Belu: Butuh Kontainer Pendingin untuk Simpan Ikan

Danu Damarjati - detikNews
Aspirasi Nelayan Belu: Butuh Kontainer Pendingin untuk Simpan Ikan Foto: Danu Damarjati/detikcom
Atambua - Sejumlah pria dewasa nampak sibuk mencomoti ikan-ikan kecil dari jaring di atas perahu kayu. Tangan-tangan mereka semakin cekatan melepaskan ikan-ikan dari jaring saat gerimis beranjak makin deras.

Obrolan dalam Bahasa Tetun sahut-menyahut satu sama lain. Mereka adalah nelayan di Teluk Gurita, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, dijumpai detikcom pada Minggu (2/4/2017).

Orang-orang ini baru saja menghabiskan 5 liter bensin untuk mencari ikan di laut sekitar Belu. Selain mereka nelayan asli Belu, ada pula nelayan dari berbagai suku yang bermukim di kawasan terdepan Indonesia yang berbatasan dengan Timor Leste ini.

"Kita asli sini. Selain orang Belu, ada pula nelayan dari Buton, Bajo, dari Alor juga," kata salah seorang nelayan.

Ikan-ikan hasil tangkapan yang akan dibawa ke pasarIkan-ikan hasil tangkapan yang akan dibawa ke pasar Foto: Danu Damarjati/detikcom

Mereka ini hanya melaut tak terlalu jauh dari daratan Belu. Namun nelayan Buton dan Bajo punya daya jelajah yang lebih jauh bila sedang mencari ikan. Mereka bisa sampai ke dekat Pulau Alor dan Flores di utara Pulau Timor ini.

Tak terlalu jauh dari titik ini, sekelompok orang sedang duduk-duduk di depan Pelabuhan Atapupu dekat tikungan tajam. Ada Emi (37), Marcel (41), Munde (40), dan Petrus (50) yang sedang menunggu kapal-kapal nelayan merapat ke tepian.

Mereka juga menggantungkan hidupnya dari ikan-ikan di laut. Pekerjaannya mengumpulkan hasil tangkapan nelayan untuk dijual ke pasar. Mereka ini adalah para tengkulak.

"Sekarang musim ikan tongkol, ikan ekor kuning," kata Emi sambil menggenggam ponselnya.

Suara Nelayan Belu yang Kesulitan Awetkan Ikan Hasil TangkapanFoto: Danu Damarjati/detikcom
Emi dan ikan-ikan yang akan dijual ke pasar

Bila kapal nelayan sudah datang, ikan-ikan akan diangkut menggunakan ember ke daratan. Ember-ember itu kemudian ditumpangkan mobil pikap untuk dibawa ke Pasar Baru Atambua.

Kapal nelayan nampak mendekat. Mereka kemudian mengajak kami mendekat ke tepi laut. Kaki bergegas mencebur ke air, mengangkat ikan-ikan gemuk dan menampungnya ke ember-ember setinggi perut yang berisi es batu.

Selisih harga antara yang dia bayarkan ke nelayan dan yang dia jual ke pedagang pasar adalah keuntungan mereka. Biasanya mereka membeli dari nelayan dengan ukuran enam ekor seharga Rp 100 ribu, atau 17 ekor seharga Rp 200 ribu.

"Untungnya ya tergantung. Misalnya ini satu ekor beli dari nelayan Rp 15 ribu. Di Pasar Baru Atambua, ini dibeli Rp 30 ribu sampai Rp 35 ribu," kata dia menunjuk seekor ikan tongkol sepanjang kaki orang dewasa.

Dia biasa berkomunikasi dengan nelayan langganan di laut menggunakan sinyal selular Telkomsel. "Telepon ke mereka, biasanya mereka bilang, 'Bibi, ini kapal su dekat!'," kata Emi.

Namun bila nelayan datang membawa banyak sekali hasil tangkapan, perasaan bingung kadang justru ikut datang. Soalnya ikan-ikan dalam jumlah banyak rawan busuk bila tak cepat terjual dan dikonsumsi pembeli.

"Kalau busuk ya dibuang sa (saja)," ujar Marcel, pria berkumis keturunan Ambon ini.

Suara Nelayan Belu yang Kesulitan Awetkan Ikan Hasil TangkapanFoto: Danu Damarjati/detikcom

Marcel meminta agar pemerintah memberikan kontainer pendingin hasil tangkapan, supaya ikan bisa lebih awet. "Yang harus diperhatikan pemerintah itu storage ikan. Di sini nggak ada. Seharusnya dikasih kontainer saja supaya bagus," kata Marcel.

Selama ini, mereka menyimpan ikan dalam ember atau boks-boks berisi es. Mereka harus melarikan ikan itu ke pasar sesegera mungkin. Belum lagi bila es batu sulit didapat.

"Di sini juga harus ada pabrik es. Kita ini kalau cari es juga susah. Paling di sini freezer kecil-kecil. Saat ikan sedang banyak, mencari es pakai ojek lari ke sana ke mari setengah mati, susah," kata Munde menyahut Marcel.

Nelayan di Belu dikatakan mereka, tinggal di Kecamatan Kakuluk Mesak Dusun Jenilu, Kenebibi, dan juga Dualaus. Warga yang menggantungkan hidupnya dari hasil laut di sini memang multikultur, termasuk nelayan dan tengkulaknya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2016 menyebut jumlah nelayan di Kabupaten Belu ada 2.400 jiwa, terdiri dari nelayan penuh sebanyak 1.640 orang, nelayan sambilan utama 505 orang, dan nelayan sambilan tambahan 255 orang. BPS mengutip Dinas Perikanan Kabupaten Belu, menyebut hasil produksi perikanan laut pada 2014 sebesar 885,76 ton dan pada 2015 menjadi sebesar 1.479,5 ton.

Simak terus cerita tentang daerah terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com!
(dnu/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed