DetikNews
Jumat 28 April 2017, 14:55 WIB

Tapal Batas

Sabuk Merah Perbatasan, Antara Proyek Negara dan Jaga Lingkungan

Danu Damarjati - detikNews
Sabuk Merah Perbatasan, Antara Proyek Negara dan Jaga Lingkungan Foto: Grandyos Zafna
Atambua - "Tolong perhatikan kami punya jalan ini," pinta pria tua bernama Silvester Han. Dia adalah warga kawasan terdepan Indonesia yang ingin agar jalanan di tempat tinggalnya bisa lebih baik.

Silvester merupakan warga Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen Selatan, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, kawasan Indonesia yang berbatasan dengan Timor Leste. Kamis (30/3/2017), detikcom berbincang dengannya di rumah adat Siri Gatal Purbul.

Sabuk Merah Perbatasan, Antara Proyek Negara dan Jaga LingkunganSabuk Merah Perbatasan (Danu Damarjati/detikcom)

Dia menunjuk ke arah lokasi-lokasi penting di daerah ini, yakni ke Bukit Makes dan sabana Fulan Fehan. Dua tempat itu merupakan situs bersejarah dan destinasi wisata alam yang memukau. Namun akses jalan menuju tempat itu tidak mudah.

Mobil MPV biasa sengaja tak kami paksakan naik ke sabana Fulan Fehan. Perlu mobil empat gardan berkondisi prima untuk melalui jalan berbatu, yang tentu saja tak rata. Tanjakan dan turunan bahkan bisa sampai 45 derajat.

"Ini oto (mobil) juga naiknya setengah mati. Medan begitu tidak bagus," kata Silvester.

Jalan Sabuk MerahJalan Sabuk Merah Foto: Grandyos Zafna

Dia mengatakan rombongan kami adalah rombongan yang beruntung karena berhasil mengakses Fulan Fehan sekaligus puncak Bukit Makes, Benteng Lapis Tujuh. Soalnya jalan menuju ke sana dikenal cukup berbahaya. Mereka percaya ada 'tuan tanah' tak kasat mata.

"Ini untung baik bisa naik ke sana. Kalau tidak, pasti kena gangguan ini 'tuan tanah' begitu. Kadang oto bisa terbalik," tutur Silvester.

Bila jalan diperbaiki, tentu risiko mobil terbalik akan berkurang, hidup warga desa jadi lebih mudah, dan pariwisata di Belu bisa lebih berkembang. Dia juga meminta pemerintah benar-benar merawat tempat indah dan bersejarah di desanya.

Sabuk Merah Perbatasan AtambuaSabuk Merah Perbatasan Atambua Foto: Danu Damarjati/detikcom

Soal pembangunan jalan negara, sebenarnya ada proyek 'Sabuk Merah Perbatasan' yang digerakkan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Kamipun melalui jalanan Sabuk Merah itu, pengerjaan masih dilakukan di sana-sini, ada pula aspal yang benar-benar sudah mulus melewati jalanan berkelok, menurun, dan menanjak perbukitan.

Namun begitu masuk lebih dalam ke desa Dirun menuju Fulan Fehan, jalan ramah kendaraan itu berganti dengan aspal lawas yang rusak, jalanan tanah, dan lapisan batu-batu. Sabuk Merah Perbatasan tak tembus ke sini.

Kepala Bagian Humas dan Protokol Kabupaten Belu, Fridolinus Siribei, mengatakan proyek Sabuk Merah sedianya dibikin menembus Desa Dirun ini. Namun karena proyek negara ini dikhawatirkan bisa merusak lingkungan kawasan Fulan Fehan, maka rencana itu diminta masyarakat setempat untuk diurungkan.

Padang rumput Fulan FehanPadang rumput Fulan Fehan Foto: Fitraya Ramadhanny

Frido sendiri termasuk kerabat masyarakat Bunaq di Desa Dirun ini. Pada 29 Maret, para tokoh masyarakat membahas soal ini, apakah Sabuk Merah diperkenankan menembus sabana Fulan Fehan yang cantik menghijau itu atau tidak.

"Tadi malam warga menolak. Maka Sabuk Merah Perbatasan sengaja diputus di Fulan Fehan," ungkap Frido.

Sebagai orang Pemerintah Kabupaten Belu, dia sadar betul proyek itu dijalankan untuk mewujudkan komitmen 'membangun dari pinggiran' sebagaimana tercantum dalam Nawacita. Namun jalannya roda pembangunan tentu harus memperhatikan kondisi nyata masyarakat dan tempat hidupnya, toh pembangunan juga diperuntukkan bagi warga, bukan untuk kepentingan lain.

Karena Sabuk Merah terputus di Fulan Fehan, maka jalan itu tak akan langsung menyambung dengan ujung Sabuk Merah di titik selanjutnya. Pengguna jalan bisa memutar arah mencari jalan alternatif. Sikap warga menolak penyambungan Sabuk Merah dilandasi oleh pertimbangan kelestarian alam di lokasi lereng Gunung Lakaan ini.

"Warga menolak, termasuk Kepala Dinas Pariwisata juga menolak. Ini untuk penjagaan kelestarian lingkungan di Fulan Fehan," ujar Frido.

Sabuk Merah PerbatasanSabuk Merah Perbatasan Foto: Grandyos Zafna

Dirjen Bina Marga Kementerian PUPR, Arie Setiadi Moerwanto, saat dihubungi detikcom mengaku belum tahu mendetail masalah ini. Namun yang jelas, proyek Sabuk Merah Perbatasan ini bakal tetap mempertimbangkan kelestarian lingkungan.

"Bila memang benar harus menembus ke kawasan itu, tentu kita harus memperhatikan keberatannya apa. Kalau soal lingkungan bisa kita minimalkan, ada studi mengenai dampak lingkungan, kita carikan solusi," tutur Arie.

Terlepas jadi atau tidaknya Sabuk Merah Perbatasan menembus Desa Dirun, namun bukan berarti akses jalan di pelosok ini harus jelek. Seperti aspirasi Silvester, kondisi jalanan harus bisa mempermudah hidup keseharian warga setempat, tanpa merusak alam tentunya.

"Kami usul supaya bisa bebas naik-turun tanpa gangguan," kata Silvester.

Ikuti artikel-artikel Tapal Batas detikcom selengkapnya di tapalbatas.detik.com!
(dnu/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed