detikNews
Jumat 07 April 2017, 12:30 WIB

Pria Ini Pensiun Dini dari PNS demi Lestarikan Batik Banten

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Pria Ini Pensiun Dini dari PNS demi Lestarikan Batik Banten Foto: Bahtiar Rifai/detikcom
Banten - Uke Kurniawan (57) memilih pensiun dini dari pegawai negeri sipil (PNS). Dia lalu banting setir menjadi pembatik di tanah leluhurnya di Banten.

Uke memutuskan pensiun dini dari jabatan pimpinan proyek di Kementerian Pekerjaan Umum setelah divonis menderita penyakit stroke. Uke kemudian pulang ke kampung halamannya pada tahun 2000 silam.

Uke tertarik terjun menjadi pembatik sejak tahun 1983. Minat tersebut muncul saat dirinya ditugasi Menteri PU waktu itu menjadi pemimpin proyek pembangunan dengan ornamen ciri khas milik daerah Bengkulu. Karena belum ada corak dan motif, ia berpikir keras bagaimana menerapkan batik pada medium bangunan. Uke coba-coba menggabungkan tulisan Arab gundul (pegon) dan bunga raflesia asli Bengkulu. Siapa nyana, dari situ malah lahir motif batik Basurek ciptaannya.
Uke memutuskan mengembangkan batik khas Banten.Uke memutuskan mengembangkan batik khas Banten. (Bahtiar Rifai/detikcom)

"Ornamen Arab gundul (pegon) ditambah bunga raflesia yang akhirnya menjadi batik Basurek. Itu ciptaan saya," kata Uke Kurniawan kepada detikcom di Sentra Pelatihan dan Industri Batik Banten, Kota Serang, Jumat (7/4/2017).

Saat kembali ke Banten, Uke justru bingung. Sebab, ornamen bangunan di daerahnya tidak memiliki ciri khas. Ia kemudian mengkaji 75 ragam hias motif dari temuan purbakala Universitas Indonesia dari reruntuhan Kesultanan Islam Banten masa lalu. Disetujui Bappeda untuk diterapkan di bangunan. Namun sayang, tidak maksimal.

Agar 75 temuan ragam hias temuan arkeolog tidak percuma, Uke membentuk panitia penelitian batik Banten bersama jajaran pemerintah daerah. Selisih paham karena campuran motifnya selalu tidak disetujui, Uke ingin Banten punya motif batik sendiri tanpa campuran desain dari Jawa atau mana pun. "Saya mendesain temuan 75 ragam hias temuan arkeolog. Dari dasar ini mendesain pertama kali 20 desain batik," tutur Uke.

Uke lalu mengambil jalan sendiri mengembangkan batik Banten. Ia pergi untuk mematenkan batik Banten dengan ciri khas motif dasar temuan arkeolog di bekas reruntuhan dan artefak Kesultanan Islam Banten. Akhirnya, 2003 ia menjadi pembatik pertama yang mematenkan motif batik bahkan se-Indonesia waktu itu.

"Saya mematenkan sendiri. Pertamanya 12, sekarang sudah 60 sudah saya patenkan sendiri. Sebanyak 12 motif itu alhamdulillah ada statusnya. Yang mematenkan pertama kali adalah batik Banten tahun 2003. Solo ada batik, Pekalongan ada batik, tapi tidak dipatenkan," ujarnya.

Karena ciri khas motif dasar temuan dari artefak arkeologi, batik Banten mulai dilirik. Lewat dukungan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan waktu itu dan para arkeolog dari beberapa universitas, Uke mewakili Indonesia di kancah internasional pada tahun 2004. Dari 62 negara yang ikut kompetisi batik di Singapura dan Malaysia, motif batik Datulaya dan Mandalikan ciptaannya menjadi yang terbaik.

"Motif Datulaya dan Mandalikan ini terbaik sedunia. Ini kan dari budaya (peninggalan) artefak sejarah," ujarnya.
(aan/rvk)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com