DetikNews
Sabtu 01 Apr 2017, 23:29 WIB

Dolar Menggoda Penyelundup BBM dari Indonesia ke Timor Leste

Danu Damarjati - detikNews
Dolar Menggoda Penyelundup BBM dari Indonesia ke Timor Leste TNI musnahkan ribuan liter BBM di Atambua (Foto: Grandyos Zafna/detikcom)
Belu - Pasukan TNI memusnahkan 5.625 liter Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berhasil digagalkan sebelum diselundupkan ke Timor Leste. Penyelundupan ini masih saja marak terjadi di perbatasan Kabupaten Belu Indonesia-Timor Leste. Soalnya, perbedaan harga dan keuntungan dari penjualan memang cukup menggoda.

Pasukan yang menggagalkan penyelundupan itu adalah Yonif Raider 641/Beruang. Pemusnahan ribuan liter BBM dan sejumlah petasan dilakukan di Markas Korps Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-RDTL Sektor Timur Kecamatan Umanen, Belu, NTT, Sabtu (1/3/2017).

Komandan Satgas Pamtas Yonif Raider 641/Beruang Letkol Inf Wisnu Herlambang menjelaskan, yang menjadi komoditas primadona penyelundupan adalah minyak tanah. Ada perbedaan harga minyak tanah di Indonesia dengan di Timor Leste.

"Disparitas harga berpengaruh. Selama mereka masih pakai dolar, maka ada disparitas," kata Wisnu di lokasi.

Dolar yang menggiurkan membuat sejumlah orang di lokasi perbatasan tergiur untuk melanggar hukum. Bila dikonversi, minyak tanah di Timor Leste seharga sekitar Rp 17 ribu per liter. Di Kabupaten Belu, minyak tanah berharga kisaran Rp 5 ribu.

"Apalagi di sini (NTT) tidak ada konversi minyak tanah ke gas," kata Wisnu.

Minyak tanah masih dipergunakan masyarakat di kedua belahan perbatasan. Maka dengan disparitas harga yang cukup tinggi plus ketersediaan barang, penyelundupan sering terjadi.

Dalam pemusnahan barang yang gagal diselundupkan ini, ada minyak tanah 3.980 liter, solar berjumlah 180 liter, bensin berjumlah 1.465 liter, dan petasan 99 kotak. Terdapat pula empat gerobak yang digunakan penyelundup untuk mengangkut jeriken-jeriken itu. Ini adalah hasil dari penggagalan penyelundupan di kawasan perbatasan Belu-Timor Leste sejak Juli sampai Maret.

Barang selundupan biasa masuk lewat 'jalan tikus' di sepanjang perbatasan. Umumnya, perbatasan di sini berupa jalan melewati sungai kering, melintasi hutan, semak-semak, atau kebun warga.

"Modus via darat, mereka gunakan gerobak-gerobak maupun jeriken-jeriken yang disimpan di semak-semak, tepat di wilayah batas kedua negara, kemudian warga Timor Leste yang menjadi contact personnya mengambil BBM tersebut," tutur Wisnu.

Ada pula kawasan laut di sekitar Pelabuhan Atapupu. Perahu-perahu tradisional dimanfaatkan oleh para pelanggar hukum.

"Selain itu mereka memasang semacam jaring agen yang memantau giat patroli-patroli Satgas Pamtas. Sehingga untuk menyiasati strategi penyelundup, waktu-waktu patroli kita atur secara acak dan dengan pengelabuan," tuturnya.

Penyelundupan dilakukan tak kenal waktu. Keterbatasan pengawasan dalam waktu-waktu tertentu juga dimanfaatkan oleh penyelundup. Dini hari saat penjagaan longgar mereka gunakan untuk menyelundupkan barang.

Pada Desember 2016, gerobak berisi jeriken-jeriken BBM berhasil diamankan. Pelakunya kemudian lari ke wilayah Timor Leste sehingga aparat TNI tak bisa mengamankannya. Total BBM itu ada 473 liter.

Penggagalan yang paling besar terjadi pada Februari lalu. Ada 1,5 ton BBM dan di waktu berdekatan ditemukan 1,7 ton BBM. Terdiri dari minyak tanah dan bensin, mayoritasnya minyak tanah.

Lokasi penyelundupan di pinggir pantai Motaain. Jerikan-jeriken itu ditemukan di gubuk-gubuk pinggir pantai, sekitar 500 meter di samping Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain. Di dekat situ, ada kapal yang hendak merapat kemudian berbalik arah lagi. Pelaku penyelundupan melarikan diri.

Maret, pasukan TNI mengamankan 320 liter BBM. Pelakunya naik sepeda motor dan disetop di pinggir jalan. Pelakunya diproses hukum setelah diserahkan ke Kepolisian.
(dnu/rna)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed