DetikNews
Selasa 21 Maret 2017, 08:21 WIB

Keluarga Korban Tidak Puas atas Vonis Pasutri Otak Vaksin Palsu

Aditya Fajar Indrawan - detikNews
Keluarga Korban Tidak Puas atas Vonis Pasutri Otak Vaksin Palsu Foto: Agung Pambudhy/detikcom
Jakarta - Pengadilan Negeri Bekasi menjatuhkan vonis 9 dan 8 tahun penjara kepada pasutri Rita Agustina dan Hidayat Taufikurahman, otak kejahatan vaksin palsu. Hal itu mendapat respons beragam dari keluarga yang anaknya mendapat vaksin yang diduga palsu.

"Saya pribadi, kalau memang yang bersangkutan sudah dihukum seadil-adilnya, ya biarkan itu berjalan," kata Bryan Alexanders, salah satu orang tua korban yang anaknya diduga menerima vaksin palsu, saat dihubungi detikcom, Selasa (20/3/2017) malam.

Anak pertama Bryan sempat menerima vaksin palsu saat menjalani imunisasi di Rumah Sakit (RS) Elizabeth, Bekasi. Dia berharap ke depan pemerintah bisa lebih memperhatikan pendistribusian vaksin sehingga kejadian yang sama tidak terulang.

"Ke depannya saya berharap kejadian ini tidak terulang lagi. Pemerintah harus lebih memperhatikan pendistribusian vaksin, tata caranya diperbaiki, jangan sampai ada korban lainnya di kemudian hari," jelas Bryan.

Hal senada disampaikan oleh Suhaimi. Namun dia tak menerima bila otak kejahatan vaksin palsu itu hanya mendapat hukuman 9 dan 8 tahun penjara. Ia merasa perbuatan yang mereka lakukan sudah seharusnya mendapat hukuman yang lebih berat.

"(Tidak puas) seharusnya 13 atau 15 tahun penjara karena, atas perbuatan mereka, sudah banyak korban dan dampak kerugiannya luar biasa sekali," kata Suhaimi saat dihubungi terpisah.

Menurut Suhaimi, dampak vaksin palsu berakibat buruk pada kondisi kesehatan anak ketiganya. Tak jarang sebulan sekali sang anak harus masuk rumah sakit untuk berobat.

"Dampaknya luar biasa sekali, seminggu sekali paling cepat dia harus ke rumah sakit atau paling lambat sebulan sekali karena sering flu, pilek, dan batuk-batuk. Katanya, paru-paru anak saya kena dampaknya," jelasnya.

"Seharusnya mereka mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatannya. Karena banyak anak-anak yang mungkin menjadi korban," cetus Suhaimi.

Pasutri Rita Agustina-Hidayat Taufikurahman dijatuhi hukuman 8 tahun dan 9 tahun penjara. Vonis itu lebih rendah daripada tuntutan jaksa, yang menuntut keduanya 12 tahun penjara.

"Menjatuhkan hukuman kepada Rita Agustina selama 8 tahun penjara dan Hidayat selama 9 tahun penjara," kata ketua majelis hakim PN Bekasi Maper Pandiangan di gedung PN Bekasi, Jalan Pramuka, Bekasi Selatan, Senin (20/3).

Dalam pertimbangan, majelis hakim melihat perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat. Selain itu, keduanya membuat produk farmasi tanpa izin edar yang dapat merugikan banyak orang.

"Terdakwa telah melakukan, memproduksi, vaksin tanpa memiliki izin edar sejak lama," ucap majelis.
(adf/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed