DetikNews
Senin 20 Mar 2017, 11:39 WIB

Kisah Abil, Anak Sekolah yang Tertidur di Trotoar Selepas Jualan

Hary Lukita Wardani - detikNews
Kisah Abil, Anak Sekolah yang Tertidur di Trotoar Selepas Jualan Foto: Lukita Wardani/detikcom
Jakarta - Seorang bocah kecil tertidur di depan sebuah trotoar di kawasan Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Posisinya tidak terlentang, melainkan bersandar pada sebuah dinding pagar. Sang bocah tampak masih mengenakan seragam sekolah lengkap: pakaian pramuka, sepatu, dan setangan leher alias kacu merah-putih.

Di depan sang bocah tampak sebuah kardus kecil berisi tisu dan aneka jajanan. Rupanya bocah yang diketahui bernama Abil Alifudin itu tengah berjualan. Selepas sekolah, dia mencari rezeki dengan berjualan tisu dan aneka jajanan anak-anak.

Kisah Abil, Anak Sekolah yang Tertidur di Trotoar Selepas Jualan Foto Abil saat tertidur selepas berjualan jadi viral di medsos. (Instagram)


Foto Abil, begitu sang bocah biasa dipanggil, tersebar di media sosial pada akhir pekan kemarin. Bagaimana cerita tentang Abil, yang berjualan selepas sekolah?

"Awalnya sudah setahunan saya jualan," kata Abil saat ditemui detikcom di kontrakannya, Gang H. Toncit, Jagakarsa, Tanjung Barat, Jakarta Selatan, Minggu (19/3/2017).

Anak kelahiran 18 Januari 2004 ini mengaku berjualan setiap hari setelah pulang sekolah, pada pukul 14.00-22.00 WIB. Hasil dari berjualan sebagian dia gunakan untuk membeli perlengkapan sekolah dan membantu ibu. Jika ada sisa, Abil menggunakannya untuk sekadar bermain ke warnet (warung internet).

"Uangnya buat beli tas, sepatu, kasih ke ibu, sama main warnet (warung internet)," kata Abil.

"Pulang jualan sampai rumah jam 22.00 WIB, sudah malam, tapi saya dari warnet belajar dulu di rumah teman buat ngerjain tugas juga," tambah Abil. Kali ini dia sambil menahan tangis.

Dia sering mengambil barang jualan, seperti tisu, kepada Irma atau yang sering disapa Umi oleh Abil. Setiap hari ia diberi 10-20 tisu per hari untuk dijual.

"Jualan tisu atau kue kering, juga keripik. Kalau tisu biasanya ambil ke Umi (Irma). Sehari bisa habis 10-20 tisu, itu sekitar 25 ribu rupiah, tapi kadang ada yang ngasih jadi bisa 50 ribu sehari," imbuhnya.

Akibat sering berjualan hingga malam, tak jarang Abil ketiduran di ruang kelas saat jam pelajaran sekolah. Teman-teman di kelas pun pernah meledeknya.

Namun, bagi Abil, selama yang dia lakukan benar dan halal, itu tak jadi soal. "Saya sempat diledekin kayak, 'Dih Abil jualan, malu-maluin'. Kayak gitu, tetapi ya sudah nggak apa-apa, yang penting halal. Pernah ketiduran juga di kelas, terus dibangunin guru," kata Abil sambil terisak.

Bukan hanya teman, guru dan orang tua juga tahu Abil sering berjualan sepulang dari sekolah. Kini Abil duduk di bangku kelas IV SD. Dia bersekolah di SDN 09 Tanjung Barat. Ketika ditanya apakah sang guru tahu bahwa dia berjualan, Abil cerita bahwa gurunya tahu.

"Guru kelas tahu, tapi dia cuma bilang nggak apa-apa yang penting halal. Saya juga tetap belajar kalau habis main warnet," kata anak keempat dari lima bersaudara ini.

Abil merasa, untuk memenuhi kebutuhannya, ia harus berjualan. Meski sempat dilarang oleh orang tua dan kakaknya, hal itu tidak membuat dia berhenti berjualan.

"Ia sempet dilarang sama orang tua, tapi saya emang mau jualan biar bisa nambah penghasilan," imbunya.
(lkw/erd)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed