DetikNews
Senin 13 Maret 2017, 22:24 WIB

Serangan Tajam Kubu Ahok: Sandi Memfitnah untuk Mendapatkan Kuasa

Erwin Dariyanto - detikNews
Serangan Tajam Kubu Ahok: Sandi Memfitnah untuk Mendapatkan Kuasa Raja Juli Antoni (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI putaran II semakin panas. Tim sukses pasangan calon mulai saling serang.

Juru bicara pasangan cagub-cawagub DKI, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat, Raja Juli Antoni, menyerang balik pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, yang beberapa kali melontarkan pernyataan yang dianggap mendiskreditkan Ahok-Djarot.

Raja Juli menyebut ada dua pernyataan Sandiaga yang dinilai menyudutkan Ahok. Pertama adalah pernyataan Sandi soal aksi walkout Ahok-Djarot di acara rapat pleno KPU DKI pada Sabtu, 4 Maret 2017. Sandiaga menanggapi aksi WO tersebut satu hari setelahnya.

Waktu itu Sandi meminta masalah tersebut tak diperpanjang. Menurut Sandi, barangkali Ahok dan Djarot memiliki agenda yang lebih penting. Misalnya Ahok dan Djarot ada janji dengan investor yang bisa menanamkan puluhan triliun rupiah untuk pembangunan Jakarta.

Baca Juga: Ahok-Djarot WO Pleno, Sandiaga: Mungkin Ada Janji dengan Investor

Pernyataan kedua Sandiaga yang dianggap menyudutkan Ahok adalah soal kampanye Ahok-Djarot yang terkesan senyap pada pekan pertama. Menurut Sandi, kampanye senyap biasanya dilakukan untuk bertemu tokoh bisnis dalam rangka penggalangan dana.

Baca Juga: Ahok Kampanye Senyap, Sandiaga: Mungkin ke Tokoh Bisnis

"Saya mencatat dua kali belakangan ini Sandiaga Uno, cawagub paslon no 3, memfitnah Ahok. Yang bisa dibaca Sandiaga mem-framming bahwa Ahok adalah gubernur propengusaha dan pro-orang kaya demi tujuan politiknya," kata Raja Juli melalui keterangan tertulisnya, Senin (13/3/2017).

Menurut Raja Juli, dua pernyataan ini menunjukkan beberapa hal kepada publik. Pertama, klaim bahwa paslon no 3 adalah pemimpin yang santun dan sopan hanya kebohongan belaka. "Dua pernyataan Sandiaga di atas menunjukkan lidahnya berbisa dan penuh memfitnah untuk mendapatkan kuasa," kata dia.

Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia itu menilai dua pernyataan tersebut menunjukkan karakter dasar Sandiaga yang doyan memproduksi kata-kata manis dan mempraktikkan sandiwara untuk menipu kesadaran publik.

"Dalam pepatah Arab dikatakan: man su'a fi'lihi su'a dzununihi, artinya orang yang buruk perilakunya akan buruk pula prasangkanya," kata Raja Juli.

"Mungkin karena Sandiaga bisa berperilaku buruk, maka prasangkanya kepada Pak Ahok selalu buruk. Saya mengharapkan kepada paslon no 3 untuk kembali ke jalan yang benar: melakukan kampanye dengan cara beradab, melakukan pendidikan politik, bukan membodohi rakyat," tutup Raja Juli.

Adapun Sandiaga membantah bahwa pernyataannya itu sebagai fitnah. Apalagi sebagai cawagub dia ingin mempersatukan semua kandidat. Dia tak ingin menambah kekisruhan.

"Sama sekali tidak nggak ada (niat untuk memfitnah). Disuruh di sini (jadi cawagub) itu ingin mempersatukan kok, saya nggak mau menambah kekisruhan. Pak Basukinya sendiri OK, kok. Kan nggak memberikan statement apa-apa," ujar Sandiaga di Jalan Palmerah, Jakarta Pusat, Senin (13/3/2017).

Pernyataan Sandiaga tersebut dikeluarkan dengan tujuan memberi pemahaman kepada publik terkait segala kemungkinan dari kampanye senyap Ahok dan keluarnya Ahok dari rapat pleno KPUD beberapa waktu lalu. Hal ini agar apa yang menjadi kurang jelas bagi masyarakat menjadi jelas.

"Para politikus kita harus belajarlah, jangan baper-an, jangan terlalu dibawa hati gitu lo. Kalau statement itu kan dianggap sebagai bagian dari penjelasan kepada publik," kata Sandiaga.
(erd/van)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed