DetikNews
Kamis 10 November 2016, 18:11 WIB

Laporan Dari Washington DC

Analisis Kemenangan Trump: Survei Salah, Media, dan Partisipasi Pemilih Rendah

Ahmad Toriq - detikNews
Analisis Kemenangan Trump: Survei Salah, Media, dan Partisipasi Pemilih Rendah Delegasi BKSAP dan Fraksi PPP DPR di depan kantor NDI (Foto: Ahmad Toriq/detikcom)
Washington DC - Kemenangan Donald Trump di Pilpres AS 2016 terbilang mengejutkan. Strategi pemenangan Hillary Clinton dinilai lebih baik, namun mayoritas pemilih AS menjatuhkan pilihan pada Trump. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Delegasi BKSAP dan Fraksi PPP DPR yang memantau langsung Pilpres AS bertemu dengan National Democratic Institute (NDI) di kantor NDI, 455 Massachusetts Ave NW, Washington, DC 20001, Rabu (9/11/2016) waktu AS. NDI adalah organisasi nonprofit dan nonpartisan yang bekerja mendukung serta memperkuat pelaksanaan demokrasi di berbagai belahan dunia.

Analisis Kemenangan Trump: Survei Salah, Media, dan Partisipasi Pemilih Rendah Diskusi delegasi dengan NDI (Foto: Ahmad Toriq/detikcom)


Delegasi yang terdiri dari anggota Komisi III sekaligus Ketum PPP Muchammad Romahurmuziy, Ketua Fraksi PPP DPR Reni Marlinawati, Sekretaris Fraksi DPR PPP Amir Uskara, Wakil Ketua BKSAP DPR yang juga Ketua DPP PPP bidang Luar Negeri Syaifullah Tamliha, dan Wakil Sekretaris Fraksi PPP Dony Ahmad Munir disambut oleh Elections Consultant NDI Julia Brothers dan seorang analis senior. Banyak hal dibahas dalam pertemuan itu, di antaranya soal kemenangan Trump, yang oleh NDI baru akan dianalisis secara lengkap dalam beberapa hari ke depan.

"Kami tidak tahu bagaimana Trump bisa menang. Kampanye Hillary lebih baik, lebih terorganisir, lebih banyak didanai. Sepertinya bukan itu masalahnya. Kami tidak tahu kenapa semua itu gagal. Kami akan membuat analisis dalam beberapa hari ke depan," kata Julia menjawab pertanyaan Romahurmuziy soal kenapa Trump bisa menang melawan Hillary yang unggul dalam berbagai survei.

Analisis Kemenangan Trump: Survei Salah, Media, dan Partisipasi Pemilih Rendah Delegasi menyerahkan souvenir untuk NDI (Foto: Ahmad Toriq/detikcom)


Julia menduga dalam sejumlah survei jelang hari pemilihan, banyak pemilih Trump yang malu mengakui pilihannya, sehingga mengacaukan hasil survei. Isu pemilih yang malu-malu ini memang kencang berhembus.

"Swing voters mereka malu bilang mereka memilih Trump, tapi kenyataannya mereka memilih Trump," ulas Julia.

Analisis Kemenangan Trump: Survei Salah, Media, dan Partisipasi Pemilih Rendah Delegasi menyerahkan souvenir untuk NDI (Foto: Ahmad Toriq/detikcom)


Rommy, sapaan akrab Romahurmuziy, lalu bertanya soal pengaruh dana kampanye. Rommy menyebut Hillary berhasil menggalang dana kampanye USD 718 juta (Rp 9,3 triliun), namun ternyata bisa menang melawan Trump yang 'hanya' mampu mengumpulkan USD 293 juta (Rp 3,8 triliun).

"Dana kampanye tidak terlalu berefek pada pilpres, karena banyak variabel lain dalam pilpres yang bisa mempengaruhi orang ain. Salah satu yang punya pengaruh besar adalah media. Donald Trump tak perlu membayar banyak untuk diliput media. Selama 2 tahun terakhir, Trump lebih banyak masuk berita dibandingkan Hillary. Dana kampanye lebih berguna untuk perebutan kursi senator, atau DPR," jawab Julia.

"Pilpres ini bukan soal iklan vs iklan, ini soal pernyataan dan twit (kicauan di Twitter -red). Trump itu selebritis. Pernyataan Trump sering kontroversial, lebih menarik media untuk meliput. Dan Trump bisa menyentuh isu-isu yang menjadi concern di masyarakat," imbuhnya.

Meski kerap tampil di media, namun Trump lebih sering disorot sisi negatifnya. Namun, tingginya kuantitas kemunculan di media dinilai tetap memberi keuntungan bagi Trump.

Analisis Kemenangan Trump: Survei Salah, Media, dan Partisipasi Pemilih Rendah Ketua Fraksi PPP DPR Reni Marlinawati berpose di kantor NDI (Foto: Ahmad Toriq/detikcom)


Satu poin lagi yang dibahas adalah soal partisipasi pemilih. Di AS, partisipasi pemilih terbilang rendah, apalagi jika dibandingkan dengan Indonesia. Belum ada data resmi untuk partisipasi pemilih di Pilpres AS 2016 ini, namun Julia mengungkap partisipasi pemilih di pilpres biasanya di bawah 60 persen. Untuk pemilihan kongres, angkanya lebih rendah lagi, sekitar 40 persen. Bahkan untuk pemilihan midterm election, yaitu pemilihan anggota congress yang digelar 2 tahun setelah pilpres sebagai bentuk evaluasi jalannya pemerintahan, partisipasi pemilih hanya 10-15 persen.

"Mungkin banyak juga yang bangun pagi ini dan menyesal tak ikut memilih setelah melihat hasil pilpres," ujar Julia.

Soal isu gender di Pilpres AS 2016, Julia meyakini bukan itu masalahnya. "Kami tidak memilih karena gender, tapi karena kebijakan yang akan dijalankan," ujar Julia menanggapi pertanyaan Reni Marlinawati soal isu gender di Pilpres AS.

Soal rendahnya partisipasi pemilih di AS, Rommy berpendapat Indonesia lebih baik. Dalam pemilu 2014 lalu, partisipasi pemilih Indonesia di atas 70 persen.

"Ternyata Indonesia lebih baik. Di pileg partisipasi pemilih kita mencapai 75 persen, di pilpres sekitar 70 persen," ujar Rommy.
(tor/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed