DetikNews
Rabu 12 Oktober 2016, 23:43 WIB

Ketua FKUB DKI: SARA Berbahaya Bila untuk Membuat Perpecahan

Mei Amelia R - detikNews
Ketua FKUB DKI: SARA Berbahaya Bila untuk Membuat Perpecahan Foto: Ilustrasi oleh Zaki Alfarabi
Jakarta - Imbauan berpolitik secara santun dan tidak mengedepankan SARA kembali digaungkan. Kali ini, imbauan itu datang dari Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) DKI Ahmad Syafii Mufid.

"Politik itu kalau santun kenapa enggak. Kalau ada perintah agama untuk memilih pemimpin yang seiman, itu kan enggak masalah. Selama itu tidak merendahkan suku, agama, ras dan golongan lain," jelas Syafii, Rabu (12/10/2016).

Hal itu diungkapkan oleh Syafii usai mengikuti diskusi soal pengamanan Pilkada DKI di Markas Polda Metro Jaya, Jl Jenderal Sudirman Kavling 55, Jakarta.

"Misalnya, kita sebagai orang Islam enggak boleh memilih pemimpin yang non Islam, itu boleh saja. Sama halnya dengan memilih calon pemimpin putera daerah, misalnya orang Betawi pengen memilih pemimpin yang asli Betawi, kan itu bukan SARA," ungkapnya.

Menurutnya, suku, agama, ras dan golongan adalah pemberian. Setiap manusia tidak ada yang bisa meminta untuk dilahirkan dari suku apa, agama apa, atau golongan mana.

Hal itu, sambung Syafii bukanlah sebuah persoalan, melainkan keberagaman yang harus dihormati. Isu SARA akan menjadi bahaya apabila digunakan untuk mengadu domba dan membuat perpecahan.

"Suku, agama, ras dan golongan is given. SARA akan berbahaya apabila (digunakan untuk) menebar kebencian untuk merendahkan, membuat perpecahan. Kalau dipakai untuk hate speech atau penghinaan atau merendahkan suku, agama, ras dan golongan lain, itu yang enggak boleh," paparnya.

Sama halnya dalam berpolitik. Alangkah baiknya, menurutnya, memilih pemimpin yang berkarakter. Pendukung boleh menentukan pilihan yang sesuai dengan hati nuraninya.

"Tapi pilihan politik itu kan karena programnya bagus, selain (sosok) yang akan memimpin dan laksanakan program itu, bagus orangnya, karakternya bagus,"

Menurutnya lagi, seorang pemimpin haruslah menjadi ayah, guru dan sahabat. "Pemipin itu sebagai father, ayah yang sifatnya melindung, pemimpin itu teacher sebagai guru yang mengajarkan yang baik, pemimpin juga itu sahabat, teman meski pangkatnya banyak tapi dengan sesama ini saling tegor. Nah yang kayak gini masing-masing agama dan suku punya kriteria sendiri itu enggak apa-apa asal tidak merendahkan orang lain," bebernya.


(mei/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed