DetikNews
Jumat 26 Agustus 2016, 15:32 WIB

Kisah Soal Fokus Penuh Petugas ATC Jaga Lalu Lintas di Langit Bandara

Niken Purnamasari - detikNews
Kisah Soal Fokus Penuh Petugas ATC Jaga Lalu Lintas di Langit Bandara Foto: Kerja petugas ATC di Bandara Sepinggan/Foto: Niken Purnamasari
Balikpapan - Menjadi pemandu lalu lintas di udara atau Air Traffic Controller (ATC) bukanlah tugas yang mudah. 'Polantas' di udara ini harus mampu mengatur arus lalu lintas udara yang aman dan teratur.

detikcom berkesempatan melihat langsung kerja dari para polantas udara ini di tower milik AirNav yang berlokasi dekat Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Untuk menjadi seorang ATC yang bekerja di tower, dibutuhkan waktu pendidikan selama 3 tahun. Atau, jika seseorang pernah mengikuti pendidikan sebelumnya dan ingin menambah keterampilan, maka terdapat short course selama 9 bulan.

Salah seorang petugas ATC AirNav di Bandara Sepinggan, Danang bercerita tentang pengalamannya yang harus mengatur lalu lintas penerbangan. Ia mengatakan, saat menjalani profesi ATC layaknya seperti bermain game namun dalam posisi yang serius.

"Enaknya jadi ATC itu kaya main game. Cuma harus serius dan ga bisa diulang. Urusannya juga nyawa," ujar Danang di tower AirNav Balikpapan, Jumat (26/8/2016).

Dalam sehari, ATC bekerja selama 6 hingga 7 jam, dengan perhitungan bekerja tiap 2 jam kemudian diselingi istirahat. Dalam dua jam tersebutlah dikatakan Danang sebagai durasi krusial seorang ATC sebab harus benar-benar fokus mengawasi serta mengontrol lalu lintas di udara.

"Tekanan ada. Jadi harus bisa jaga diri dan fokus selama penerbangan. Saat penerbangan sepi, malah bahaya. Kalau ramai, kita malah senang karena dua jam nggak terasa," ungkapnya.

Sama halnya dengan ATC AirNav lainnya di Bandara Sepinggan, Dinda. Ia mengatakan durasi dua jam tersebut menjadi tanggung jawab berat yang harus diemban agar penerbangan dapat terkontrol dengan baik.

"Kerja di tiap dua jam. Itu dua jam paling menentukan di kerjaan kita. Dua jam, berapa nyawa yang kita pegang. Kalau pilot kan megang satu pesawat aja. Tapi kita berapa puluh pesawat yang kita handel dalam dua jam," cerita Dinda.

Namun di balik ketegangan dan beban kerja yang harus ia hadapi, Dinda mengaku semua itu terbayarkan saat mendapat respon positif dari antar unit maupun crew pilot.

"Kadang yang bikin relax, ketika kita memberikan pelayanan dan disambut dengan keramahan," tuturnya.
(nkn/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed