DetikNews
Kamis 28 Juli 2016, 10:34 WIB

Panasnya Pilgub DKI

Fenomena Ahok, Sesumbar Independen Loncat ke Jalur Parpol

M Iqbal - detikNews
Fenomena Ahok, Sesumbar Independen Loncat ke Jalur Parpol Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Fenomena Ahok sebut saja begitu, sempat membuat partai politik gerah lantaran petahana itu bertekad maju ke Pilgub DKI 2017 tapi mendapat dukungan besar di jalur independen.

Elektabilitas Ahok memuncaki berbagai survei seiring masifnya penggalangan KTP oleh Teman Ahok. Kemudian isu deparpolisasi pun muncul lantaran 'fenomena Ahok' makin meyakinkan soal maju Pilkada tak melulu butuh partai.

Teman Ahok berhasil mengumpulkan satu juta KTP, angka yang sangat lebih dari cukup dari syarat yang ditetapkan KPU sebanyak 532.213 KTP. Jika dikonversi dengan kursi di DPRD DKI, mungkin satu juta itu dapat 23 kursi.

Kemudian jumlah 23 kursi jika dikonversi syarat dukungan parpol yang ditetapkan KPU sebesar 20 persen kursi atau 25 persen suara di Pileg 2014 yang kira-kira minimal punya 22 kursi, juga cukup bagi Ahok.

Angka satu juta suara memang masih di bawah suara PDIP yang punya 28 kursi (1.231.843 suara) dan bisa ajukan calon sendiri. Tapi suara Ahok masih lebih besar dari suara Gerindra yang punya 15 kursi (592.558 suara), dan PKS 11 kursi (424.400 suara).

Kemudian jika satu juta KTP itu terverifikasi valid, tentu mematahkan kicauan politisi Gerindra Habiburokhman yang bakal loncat dari Monas lantaran meyakini KTP untuk Ahok tak cukup.

"Saya berani terjun bebas dari Puncak Monas kalau KTP dukung Ahok beneran cukup untuk nyalon #KTPdukungAhokcumaomdo???"," begitu cuit Habiburokhman.

Bagi Habiburokhman, satu juta KTP Ahok hanya klaim dan tidak ada bukti. Maka satu-satu yang berwenang membuktikan adalah KPU DKI melalui verifikasi. Jika Habiburokhman benar, maka jumlah KTP milik Teman Ahok tak lebih dari 532.213 KTP yang valid. Mungkinkah?

Sekilas semestinya tidak. Tengok saat Pilgub DKI tahun 2012 lalu, ada 3 pasangan calon independen yang lolos verifikasi dan ikut bersaing dalam pemungutan suara. Saat itu syarat KTP yang harus dikumpulkan minimal 407.345 KTP.

Pasangan Faisal-Biem yang menang di urutan 4 dari 6 pasangan calon di Pilgub DKI tahun 2012, dia menyetorkan 550.000+300.000 KTP hingga akhirnya bertarung melawan Jokowi-Ahok Cs.

Melihat Pilgub DKI 2012 itu, semestinya Ahok tak perlu khawatir di jalur independen. Belum lagi ditambah dukungan parpol, yaitu Golkar (376.221 suara), Hanura (357.006 saura), dan NasDem (206.117 suara). Maka total suara dukungan Ahok independen+parpol ada 1.939.344 suara. Fantastis, calon independen punya modal 1.938.344 suara.

Tapi 'fenomena Ahok' di jalur independen dengan dukungan satu juta KTP itu kini hanya menjadi cerita. Ahok memilih maju melalui jalur partai politik, bertolak belakang dengan deklarasi dirinya yang akan maju independen.

"Kita pakai parpol sajalah," kata Ahok di depan Teman Ahok dan parpol pendukungnya, Selasa (27/7) malam tadi.

Maka kicauan Habiburokhman tidak bisa disalahkan, karena satu juta KTP Ahok tak pernah diuji secara sah oleh KPU DKI. Tapi mungkin juga tak benar karena lompat dari Monas mengingatkan masyarakat pada politisi lain yang bicara Monas tapi hingga dibui tak ditepati.

Habiburokhman juga tak bisa mengklaim prediksinya benar, karena dia hanya memprediksikan satu juta KTP hanya omdo. Tidak memprediksi Ahok pasti maju lewat parpol. Setidaknya fair seandainya dia tak berkomentar soal Monas ke Ahok, karena Gerindra belum punya calon.

Lalu apa alasan Ahok maju di parpol? Ahok punya pertimbangan politik sendiri. Tapi jika dirunut, masalah paling mengemuka adalah pada proses verifikasi itu sendiri. Dalam UU Pilkada yang disahkan DPR, proses verifikasi dukungan independen dinilai memberatkan.

Setidaknya soal jika saat verifikasi faktual selama 14 hari pendukung tak ada di tempat, maka si pendukung harus ke kelurahan (PPS) dalam waktu 3 hari. KPU mengajukan 3 hari itu fleksibel seperti aturan sebelumnya sepanjang 14 hari, tapi komisi II DPR menolak.

Keputusan Ahok maju parpol lalu memicu kritik soal inkonsistensi dari lawan politik. Ahok sebelumnya deklarasi akan maju independen tapi ternyata parpol, akan maju dengan Heru sekarang terpikir Djarot.

Lalu bagaimana nasib Teman Ahok? Orang-orang yang saban hari beberapa bulan terakhir berdiri di sudut-sudut mall menampung warga yang ingin menyerahkan KTP untuk Ahok. Dan satu juta orang lain yang berpikir akan merayakan 'kemenangan independen' di Pilgub DKI 2017.
"Oh kita kan diskusi sama Teman-teman Ahok. Makanya kalau mereka sampai sakit hati, kita juga enggak mau dong. Sayang dong cantik-cantik sakit hati," kata Ahok santai.

Pada akhirnya, 'fenomena Ahok' dengan jalur independennya hanya menjadi cerita. Cerita tentang anak-anak muda yang gigih mengumpulkan KTP untuk mendukung calon pemimpin mereka di Jakarta. Meski ada satu juta berkas KTP yan kini hanya menjadi tumpukan sejarah Pilkada.

Toh, Teman Ahok sejak awal terbentuknya mereka hanya karena khawatir Ahok yang bukan kader partai itu tak bisa maju Pilgub. Itu pula mungkin yang membuat mereka legowo Ahok pilih parpol, karena Ahok tetap mencalonkan diri.

Begitu juga Ahok. Alasan menghormati parpol atau Teman Ahok, sejatinya bukan soal memilih salah satu pihak. Tapi memilih akan memenangkan pertarungan di Pilgub DKI dan berbuat lebih baik.

Tapi harus ingat, politik sangat dinamis. Doktrin tentang Jokowi yang elektabilitas di awal Pilgub 2012 rendah bisa mengalahkan Foke, masih dianut partai-partai dan pendukung lain yang emoh mendukung Ahok.




(bal/van)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed