detikNews
Jumat 26 Februari 2016, 15:16 WIB

Indonesia Darurat Narkoba

Ditentang Prancis, MA Indonesia: Serge Teknisi Pabrik Narkoba

Andi Saputra - detikNews
Ditentang Prancis, MA Indonesia: Serge Teknisi Pabrik Narkoba Serge Atlaoui (dok.detikcom)
Jakarta -
10 Bulan berlalu, akhirnya Mahkamah Agung (MA) menyelesaikan pengetikan putusan peninjauan kembali WN Prancis Serge Atlaoi. Dalam putusan itu, MA menegaskan Serge adalah anggota jaringan narkoba dan bukanlah orang yang ditipu sebagaimana klaim pemerintah Prancis.

Serge bergabung dengan komplotan Benny Sudrajat membangun pabrik terbesar ketiga di dunia. Serge dihukum mati tapi mengajukan PK meminta hukuman matinya dianulir.

Dalam pembelaannya, pemerintah Prancis dan keluarga Serge menyatakan Serge hanyalah korban penipuan WN Belanda Nicolas Josephus Gernardus. Versi mereka, Serge diajak Nicolas untuk menjadi mekanik pabrik di Indonesia dan Serga tidak tahu jika pabrik yang berada di Tangerang itu adalah pabrik narkoba. 



Tetapi alasan itu dimentahkan MA. Berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan, Serge ke Indonesia bersama Nicolas dan kerap tidur di mess di pabrik narkoba yang berada di Cikande, Serang. Serge selain menjadi teknisi mesin juga melihat bagaimana proses pembuatan narkoba yang dilakukan Nicolas dan komplotannya.

"Serge berperan sebagai teknisi dan melakukan pengawasan dan perbaikan mesin-mesin pabrik yang digunakan untuk mengolah dan memproduksi narkotika," putus majelis sebagaimana dikutip detikcom dari website MA, Jumat (26/2/2016). 

Pabrik itu beroperasi 24 jam dengan peralatan penuh, seperti rak-rak besi, laboratorium, meja, kursi, ember besar, selang, gudang dan sebagainya. Saat pabrik itu digerebek pada 11 November 2015, Mabes Polri mendapati Serge tengah istirahat usai membetulkan peralatan pabrik. Berdasarkan fakta tersebut, maka Serge adalah bagian dari jaringan narkoba.

"Keseluruhan orang tersebut bekerja secara terstruktur serta mengetahui atau menyadari bahwa mereka bertindak bersama dengan tujuan untuk melakukan tindak pidana narkotika jenis sabu dengan cara memproduksi sebagaimana dimaksud Pasal 6 UU Nomor 5 Tahun 1997," ujar majelis hakim yang terdiri dari hakim agung Dr Artidjo Alkostar dengan anggota hakim agung Dr Suhadi dan hakim agung Prof Dr Surya Jaya.



Putusan ini menampik pengakuan istri Serge, Sabine Atlaoui, yang menyatakan suaminya bukanlah anggota komplotan narkoba.

"Suami saya bukan gembong narkoba atau ahli kimia. Dia tidak pantas menerima hukuman mati," kata Sabine di Kedutaan Besar Prancis di Jakarta pada 17 April 2015.



Selain mengajukan PK, Serge juga mengajukan upaya hukum ke PTUN Jakarta, menggugat grasi yang ditolak Presiden Jokowi. Rencana eksekusi mati Serge membuat pemerintah Prancis marah. Presiden Prancis Francois Hollande bertekad akan terus melakukan segala upaya untuk menyelamatkan warganya yang akan dieksekusi mati, setelah gugatan Serge ke PTUN ditolak.

"Prancis, tanpa masuk ke perdebatan hukum, sedang melakukan segala upaya untuk membuat Serge Atlaoui tetap hidup," kata Hollande seperti dilansir kantor berita AFP pada 23 Juni 2015.



Rencana eksekusi mati Serge juga membuat sebagian masyarakat Prancis melakukan aksi demonstrasi, termasuk penyanyi asal Indonesia, Anggun C Sasmi. 

"Hukum yang diberikan terhadap Bapak Serge Atlaoui membangunkan emosi yang sangat dalam di Eropa, terutama di Prancis. Saya termasuk orang yang merasakan ini karena banyaknya sisi-sisi keruh yang akhirnya terlihat lebih jelas di dalam kasus pengadilan Bapak Serge Atlaoui, keraguan yang membuat keputusan hukuman mati menjadi tidak dimengerti karena banyaknya ketidaktentuan dalam kasus beliau. Selain itu saya pribadi yakin bahwa Bapak Serge Atlaoui tulus dan jujur," kata Anggun dalam surat terbukanya ke Presiden Jokowi.

Di komplotan Serge ini, 8 orang lainnya dihukum mati yaitu:

1. Benny Sudrajat alias Tandi Winardi
2. Iming Santoso alias Budhi Cipto
3. WN China Zhang Manquan
4. WN China Chen Hongxin
5. WN China Jian Yuxin6. WN China Gan Chunyi
7. WN China Zhu Xuxiong
8. WN Belanda Nicolas

Anehnya, Benny yang dijebloskan ke Nusakambangan tidak kapok dan di LP Pasir Putih, Nusakambangan, tetap leluasa mengendalikan pembangunan pabrik narkoba di Pamulang, Cianjur dan Tamansari pada 2009-2010. Ia memanfaatkan dua anaknya yang masih bebas untuk kembali membangun pabrik narkoba. Benny lalu diadili lagi oleh pengadilan dan karena sudah dihukum mati maka ia divonis nihil.

Kesembilan orang di atas, belum ada yang satu pun dieksekusi mati hingga hari ini.

"Kita yang pasti tidak akan surut pernyataan perang terhadap narkoba itu kita akan kobarkan terus," kata Jaksa Agung Prasetyo, siang ini.
(asp/nrl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed