DetikNews
Senin 02 November 2015, 16:23 WIB

Muda Dan Menginspirasi

Sulap Buah Bintaro Jadi Anti-Rayap Alami, 2 Siswa SD Semarang Juara di Korea

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Sulap Buah Bintaro Jadi Anti-Rayap Alami, 2 Siswa SD Semarang Juara di Korea Foto: Angling Adhitya P/detikcom
Semarang - Dua siswa SD Semesta Bilingual Boarding School memperoleh medali perak dalam ajang internasional yaitu 2015 World Creativity Festival di Daejeon, Korea Selatan bulan Oktober. Mereka menang berkat temuan pembasmi rayap dari buah beracun, bintaro.

Para siswa itu bernama Muhammmad Baiata Farisi (11) dari kelas VI A dan Muhammad Zulfikar Avicenna (10) dari kelas V B. Temuan tersebut berupa cairan yang disemprotkan ke tempat rayap berkumpul. Hanya hitungan detik, rayap langsung mati.

Avicenna atau yang akrab dipanggil Cenna itu awalnya risih melihat rak buku di perpustakaan sekolahnya dikerumuni rayap. Bersama Farisi dibantu guru pembimbingnya,  Umarudin mereka mencari data pada materi pelajaran tentang tumbuhan di kelas III dan browsing di internet.

"Jadi di rak perpustakaan dimakan rayap. Terus cari di internet caranya membasmi," kata Cenna saat ditemui detikcom di sekolahannya di Jalan Setyabudi Semarang, Senin (2/11/2015).

"Kita cari-cari ketemu buah Bintaro," tandas putra pasangan Ariadi Hendrawan dan Juene Roseneri itu.

Dua siswa tersebut kemudian memutuskan untuk memanfaatkan buah bintaro yang banyak terdapat di Tembalang dan Banyumanik, tidak jauh dari sekolahannya. Buah bintaro juga sudah terpercaya reputasinya sebagai pembasmi tikus.

"Kami lakukan percobaan dua kali. Yang pertama gagal. Terus yang kedua berhasil. Itu satu bulan sebelumnya (sebelum lomba di Korea)," tandas Farisi.

(Foto: Angling AP/detikcom)

Farisi dan teman-temannya kemudian mempraktikkan cara membuat cairan terminator (termite exterminator) dari pongpong fruit (carbera manghas) itu. Awalnya Farisi memotong buah bintaro menjadi kecil-kecil kemudian di blender sampai halus.

Hasil blender ditimbang hingga 100 gram lalu dicampur air sulingan atau aquades seberat 300 gram. Campuran itu diaduk hingga mencampur dan disaring. Cairan yang sudah jadi didiamkan selama dua hari untuk ekstraksi sebelum digunakan.

"Ini didiamkan dua hari. Nanti pakainya disemprotkan," pungkas Farisi.

Hasilnya pun ternyata tidak hanya ekspektasi tapi nyata. Kumpulan rayap dari kayu yang dijadikan sampel kemudian disemprot menggunakan cairan buatan mereka, dan terbukti cukup tiga kali semprot rayap mati seketika.

"Ya tinggal semprot aja seperti ini," tegas putra kedua dari pasangan Agung Fajar Wanto dan Yudith Ariestyani itu.

Kepala SD Semesta Bilingual Boarding School, Siti Zubaidah, mengatakan sudah dua kali siswa-siswanya mendapatkan medali di ajang yang sama. Tahun lalu temuan berupa kulit durian yang bisa menjernihkan jelantah atau minyak bekas pakai bisa mendapatkan medali perak.

"Dukungan kami berupa pembinaan, pembuatan proyek, pembuatan video dan pembinaan dosen dari Undip. Ya kami memberikan support. Ini tahun kedua bagi kami mendapatkan silver (perak). Tahun lalu kulit durian menjernihkan jelantah," kata Siti.
(alg/try)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed