DetikNews
Senin 26 Oktober 2015, 13:10 WIB

Mengenang Kapten Muslihat

Menengok Rumah Sederhana Kapten Muslihat yang Berumur 3 Generasi

Wisnu Prasetyo - detikNews
Menengok Rumah Sederhana Kapten Muslihat yang Berumur 3 Generasi Foto: Wisnu Prasetyo
Bogor - Rumah berwarna oranye, berlantai satu dan terlihat usang itu tampak sepi. Rumah itu menyimpan sejarah perjuangan seorang pahlawan yang gugur di usia muda.

Rumah di Jalan Panaragan Kidul nomor 25, Bogor Jawa Barat itu milik Kapten Muslihat. Dia gugur pada 25 Desember 1945 saat melawan tentara Inggris di Jalan Banten, Bogor saat usianya masih 20 tahun.

Seorang laki-laki mengenakan kaos putih keluar dari rumah saat detikcom mengucapkan salam. Lelaki itu adalah Tubagus Alpha (32) cucu Kapten Muslihat. Rumah di gang sempit ini sudah ditinggali 3 generasi yakni Kapten Muslihat, anak Kapten Muslihat yang bernama Merdeka dan cucunya Tubagus Alpha.

"Iya, rumah ini rumah kakek kami", ungkap Tubagus Alpha saat saat berbincang dengan detikom di teras rumahnya beberapa pekan lalu.

Tubagus Alpha di kediamannya


Rumah tersebut merupakan saksi bisu dari perjuangan besar sosok Kapten Muslihat pada masa awal kemerdekaan. Untuk menjangkaunya, harus melalui gang-gang kecil dari Jalan Panaragan Kidul, lokasinya sekitar 15 menit dari Merdeka.

Kondisi rumah tersebut sangat sederhana. Bahkan di bagian atap, ada beberapa plafon yang rusak. Cat pun banyak yan terkelupas. Meski begitu, suasana sejuk terasa, karena banyak pepohonan di sana.

Alpha tak mau banyak cerita soal kehidupan sang kapten dan keluarganya. Dia hanya mengatakan pemerintah hanya memberikan parsel di hari raya bagi keluarga Kapten Muslihat. Tak ada bantuan renovasi atau perbaikan rumah.

"Tidak ada yang seperti itu. Paling, setahun sekali perwakilan dari Pemkot Bogor yang membawakan parsel pada saat Idul Fitri," katanya.

Baca juga: Mengenang Kapten Muslihat, Pejuang dari Bogor yang Gugur di Usia Muda

detikcom hanya mengobrol sebentar bersama Alpha. Dia juga tak memberikan akses masuk ke dalam rumah.



Kapten Muslihat yang ditembak oleh para tentara Inggris itu menghembuskan napas terakhirnya di rumahnya setelah mendapat perawatan selama 3 hari. Bahkan kematian Sang Kapten sempat dirahasiakan oleh pejuang lainnya agar tidak tersebar ke tentara Inggris.

"Kematian beliau pun dirahasiakan dari kalangan umum pada awalnya, utamanya dari tentara Inggris. Sosok beliau yang ditakuti tentara Inggris, menjadikan kematiannya bisa menjadi angin segar bagi musuh," jelas Sejarawan Bogor Mahrup di tempat terpisah.

Kapten Muslihat menempati rumah itu bersama istrinya Kartinah. Sang Kapten gugur saat istrinya sedang mengandung anak pertama mereka. Muslihat sering berpesan kepada istrinya sebelum dia gugur di medan perang. Jika anaknya lahir maka harus dinamakan Merdeka.

"Merdeka memilih karier untuk menjadi seorang dokter, tepatnya dokter spesialis kulit. Beliau bertugas di RS Ciawi," jelas Mahrup.

Mahrup mengatakan, sifat dr Merdeka mirip dengan Kaptem Muslihat. Dia dikenal sebagai dokter yang santun dan sederhana.

"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Beliau sangat santun dan rendah hati. Yang patut menjadi perhatian adalah beliau adalah satu dari sedikit seseorang dengan profesi dokter yang hidupnya sangat sederhana. Bahkan sampai akhir hayatnya, ia belum mampu untuk membeli rumah sendiri. Dia masih menempati rumah warisan yang berada di Jalan Panaragan," kata Mahrup.
(mad/mad)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed