Produsen Sandal Berlafal Allah Minta Maaf, Janji Tarik Produk Secepatnya

Produsen Sandal Berlafal Allah Minta Maaf, Janji Tarik Produk Secepatnya

Rois Jajeli - detikNews
Selasa, 13 Okt 2015 18:28 WIB
Pemusnahan sandal di kantor PWNU Jatim (Foto: Rois Jajeli/detikcom)
Pemusnahan sandal di kantor PWNU Jatim (Foto: Rois Jajeli/detikcom)
Surabaya - PT Pradipta Perkasa Makmur meminta maaf atas beredarnya sandal berlafal Allah. Hal itu, menurut manajemen, di luar perkiraan. Produsen akan menarik produknya secepatnya.

"Saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada umat muslim di seluruh Indonesia, dengan ketidaksengajaan perusahaan kami membuat sandal. Sekali lagi mohon maaf sebesar-besarnya," kata Lim Long Hwa, anak pemilik PT Pradipta Perkasa Makmur, di kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim, Jalan Masjid Al Akbar, Surabaya, Selasa (13/10/2015). Ayah Lim Long Hwa sakit sehingga tak bisa hadir di PWNU.

Long Hwa mengaku tidak tahu bahwa produknya berlafal Allah. Dia juga tidak sengaja memproduksi sandal tersebut. Sebab, semua produksi dipesan dari China.

"Kami akan menarik semua yang sudah beredar. Silakan masyarakat menukarkannya di toko atau dealer atau ke pabrik kami," tandasnya.

PWNU Jawa Timur menerima permohonan maaf pemilik PT Pradipta Perkasa Makmur. Ketua PWNU Jatim KH Mutawakil Allallah mengatakan, "Sebagai bagian dari muslim yang baik dan taat kepada ajaran Islam, serta menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan, PWNU Jawa Timur menerima ketulusan permohonan maaf dari pemilik pabrik sandal ini. Kami meminta agar ditindaklanjuti dengan aksi kongkret yang menunjukan keseriusan dan ketulusan permohonan maafnya."

Hari ini, ribuan sandal dimusnahkan di kantor PWNU Jatim. Pemusnahan disaksikan umat Islam dan perwakilan manajemen PT Pradipta Perkasa Makmur.

"Sebagai bentuk lain kesungguhan atas permohonan maaf, hendaknya memberikan kompensasi kepada masyarakat yang sudah terlanjur membeli hasil produksi sandal, dan ditukarkan dengan produksi sandal dengan tipe lain," jelasnya.

PWNU mengimbau kepada produsen lainnya untuk tidak memproduksi sandal yang bisa menimbulkan polemik dan melecehkan umat beragama.

(roi/try)