detikNews
Selasa 08 September 2015, 10:40 WIB

Menanti Kerja Kabareskrim Ungkap Hakim Agung Pemalsu Putusan Gembong Narkoba

Andi Saputra - detikNews
Menanti Kerja Kabareskrim Ungkap Hakim Agung Pemalsu Putusan Gembong Narkoba Ahmad Yamani (dok.detikcom)
Jakarta - Majelis Kehormatan Hakim (MKH) memecat hakim agung Ahmad Yamani karena terang benderang memalsu putusan peninjauan kembali (PK) Hengky Gunawan. KY telah melaporkan pemalsuan ini ke Mabes Polri pada 2012 silam.

Di tingkat PK itu, hukuman mati Hengky rencananya akan diubah menjadi 15 tahun penjara. Duduk sebagai ketua majelis yaitu hakim agung Imron Anwari dengan anggota hakim agung Ahmad Yamani dan hakim agung Hakim Nyak Pha.

Tapi saat putusan dikirim dari Mahkamah Agung (MA) ke Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Yamani 'membegal' putusan tersebut dan mencoret vonis 15 tahun penjara menjadi 12 tahun penjara. Pemalsuan ini diketahui banyak pihak, termasuk Ketua MA waktu itu, Harifin Tumpa, tetapi dibiarkan.

"Kala itu Pak Harifin mengungkapkan 'Waduh, mudah-mudahan tidak meledak sebelum saya pensiun'. Pak Harifin pun memintaku untuk memanggil Pak Yamani selaku P 1," tulis Djoko Sarwoko di halaman 197 dalam biografi 'Toga 3 Warna'. 

Hingga kasus ini terendus media dan gegerlah hukum Indonesia.

Secepat kilat, KY mendesak MA untuk bertindak tegas. Ketua MA Hatta Ali segera bertindak cepat. Hatta Ali lalu mengusulkan pembentukan MKH dan diamini oleh KY. Pada 11 Desember 2012, Yamani akhirnya dipecat sebagai hakim agung dan menjadi satu-satunya hakim agung sepanjang sejarah Indonesia yang dipecat. Hakim Nyak Pha sendiri telah pensiun beberapa bulan setelah MKH dan Imron menyusul pensiun setelahnya.

Atas putusan ini, Yamani lalu dilaporkan oleh Komisi Yudisial (KY) --lembaga tinggi negara yang dibentuk UUD 1945-- ke Bareskrim pada penghujung 2012. Setelah 3 tahun berlalu, laporan KY terhadap Yamani seolah masuk peti es.

Kini Kabareskrim dijabat Komjen Anang Iskandar, mantan Kepala BNN. Saat menjadi Kepala BNN itu, Anang berhasil mengungkap impor 800 kg sabu, tangkapan narkoba terbesar sepanjang sejarah BNN. Lantas, bisakah Anang mengungkap hakim agung pemalsu putusan gembong narkoba tersebut?
(asp/tor)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com