DetikNews
Kamis 27 Agustus 2015, 14:50 WIB

16 Saksi Diperiksa Terkait Pemalsuan Manifest Trigana Air yang Jatuh di Papua

Wilpret Siagian - detikNews
16 Saksi Diperiksa Terkait Pemalsuan Manifest Trigana Air yang Jatuh di Papua Foto: Lamhot Aritonang
Jayapura - Penyidik Polda Papua memeriksa sejumlah pihak terkait adanya data penumpang atau manifest palsu dalam penerbangan Trigana Air IL 257 yang jatuh di Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. Sejauh ini sudah 16 saksi yang diperiksa.

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Patrige Renawarin mengatakan, polisi akan melakukan gelar perkara awal. Hal ini dilakukan sebelum penetapan pasal yang dipersangkakan kepada para pelaku.

"Sebanyak 16 saksi telah diperiksa. Mereka adalah keluarga korban yang namanya tak terdaftar dalam manifest, namun ikut dalam penerbangan nahas tersebut dan penjual tiket," kata Patrige di Jayapura, Kamis (27/8/2015).

Pihak penyidik Polda Papua masih terus melakukan pemeriksaan terhadap dua karyawan Trigana Air. Keduanya diduga sebagai pelaku pemalsuan manifest pesawat yang jatuh pada 16 Agustus tersebut.  

"Saat ini masih ada dua karyawan Trigana yang diperiksa dengan dugaan manifest palsu. Kedua karyawan itu bertugas di ground handling dan staf Trigana," kata Patrige

Polisi mengkliam tidak menutup kemungkinan ada karyawan Trigana lainnya yang akan diperiksa terkait kasus tersebut.  

"Pasca kejadian tanggal 16 Agustus, Polda Papua langsung menyelidiki daftar manifest pada keesokan harinya," ucapnya.

Informasi yang dapatkan, modus yang dipakai para karyawan Trigana untuk membeli tiket adalah menggunakan banyak KTP, lalu menjual kembali tiket dengan harga lebih tinggi dari harga normal.

Tiket harga normal Trigana, tujuan Jayapura-Osibil biasa dijual dengan harga Rp 1.050.000, namun oleh para oknum karyawan Trigana, tiket itu bisa dijual bervariasin. Harga yang ditawarkan berkisar Rp 1.500.000 hingga Rp 2 juta untuk bisa naik ke Oksbil.

Direktur Operasional PT Trigana Air, Benny Sumaryanto sebelumnya menyatakan, oknum karyawan Trigana yang terlibat dalam melakukan pemalsuan manifest penumpang, akan diberikan sanksi hingga pemecatan.

Benny menyatakan ada 10 nama yang tidak sesuai dengan daftar manifest. Nama-nama tersebut juga pernah dirilis oleh Polda Papua, di antaranya Yohanis Kiabra diganti Nelson Wayam, Yunus Setamanggi diganti Yana Uropka, Ardono Hikmad diganti oleh Yance Wapdanon, Yundriadi diganti Kayus Kipka, Susilo diganti oleh Terianus Salawala, Piter diganti oleh Eli Uropmabin, Surya diganti Timius Dupui, Marusaha Sitorus diganti Obhet Turukna, Petrus Tekege diganti John Gasper.
(rul/try)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed