DetikNews
Selasa 09 Juni 2015, 19:12 WIB

New Cities Summit 2015

Cyclist Urban System, Sistem Shelter dari Peti Kemas Bekas untuk Penggowes

Nograhany Widhi Koesmawardhani - detikNews
Cyclist Urban System, Sistem Shelter dari Peti Kemas Bekas untuk Penggowes (Kiri-kanan: Ria Pratama Ishana, Khairunnisa Kautsar dan Okka Wiranata Rachman)
Jakarta - Bau badan karena berkeringat menjadi kekhawatiran semua pengguna angkutan umum, apalagi bagi pejalan kaki dan para penggowes sepeda, apalagi menuju tempat kerja. Nah, ide shelter pesepeda yang menyediakan toilet dan shower ini mungkin bisa jadi solusi.

Ide supaya para penggowes sepeda bisa menyegarkan diri ini ditelurkan beberapa anak muda lulusan arsitek Universitas Trisakti angkatan 2004. Mereka adalah Khairunnisa Kautsar (29), Okka Wiranata Rachman (29) dan Ria Pratama Ishana (28).

"Idenya ini shelter untuk refreshment pesepeda. Shelternya nanti akan kami buat dari peti kemas bekas. Selain itu kenapa kita namakan Cyclist Urban System biar enak nyebutnya, CUS. Ayo kita nge-Cus," jelas Ria Pratama Ishana saat berbincang dengan detikcom di arena New Cities Summit 2015, Ciputra Artpreneur, Mal Ciputra World, Jakarta, Kasablanka, Jakarta, Selasa (9/6/2015).

Di dalam shelter itu, nanti akan ditempatkan sejumlah fasilitas seperti toilet, di mana para pesepeda yang berkeringat bisa mandi, loker untuk menaruh barang, kemudian bisa nge-charge baterai gadget, beli makan-minum dengan vending machine, bengkel, P3K, hingga nongkrong. Di depan shelter itu ada tempat parkir sepeda.

"Nanti juga akan kita kombinasikan dengan sistem bike sharing (sistem sewa sepeda bersama). Sudah ada pihak yang mau bekerja sama," timpal Khairunnisa yang akrab dipanggil Ucha ini.

Shelter ini bisa didirikan baik di dalam ruangan seperti mal atau di luar ruangan. Mereka akan membuat shelter pesepeda ini dengan model bisnis franchise.

"Jadi siapa yang berminat membuka franchise CUS ini akan membayar sejumlah biaya lisensi pada kami. Satu shelter lengkap sudah di-set kami hargai Rp75 juta," tutur dia.

Lantas, dari mana masukan pendapatan pembeli franchise? "Para pengguna CUS akan membayar sejumlah tarif, namun kami pastikan, biayanya lebih murah dibanding kalau naik motor. Kami juga mengincar advertisement yang dipasang di papan shelter CUS. Kemudian, keuntungan bisa juga didapatkan dari penjualan makan-minum," tutur Ria.

Semakin banyak shelter CUS ini, imbuh Ria, akan semakin baik. Tidak akan ada persaingan, seperti halnya persaingan minimarket di ibukota. Ucha, Okka dan Ria sehari-hari memakai sepeda sebagai alat transportasinya, apalagi saat Car Free Day.

"Makin banyak CUS makin menguntungkan. Semakin banyak fasilitas ini, kami berharap sepeda menjadi alat transportasi sehari-hari, sepeda motor beralih ke sepeda. Imbasnya, mengurangi macet, mengurangi mobil dan motor hingga menekan polusi," imbuh Ria.

"Air toiletnya juga tidak kita buang ke selokan, melainkan langsung masuk ke tanah," timpal Okka.

Ke depan, shelter CUS ini direncanakan memiliki sistem pembayaran memakai uang elektronik atau e-money, menjadi aplikasi mobile, hingga bisa menjadi tempat wisata lingkungan.

Cyclist Urban System (CUS) ini menjadi 1 dari 3 finalis Jakarta Urban Challenge di New Cities Summit 2015. Pemenang pertama akan menerima US$ 10 ribu (sekitar Rp130juta), pemenang kedua akan menerima US$6 ribu dan pemenang ketiga akan menerima US$4 ribu. Hadiah ini digunakan untuk mengimplementasikan ide yang diusulkan finalis.

Mereka telah mempresentasikan idenya di hadapan juri sore ini. Juri terdiri dari antara lain Chairman New Cities Foundation John Rossant, pendiri Grameen Bank penerima Nobel M Yunus, Kepala Tim Gubernur DKI untuk Percepatan Pembangunan Jakarta Sarwo Handayani.

Kemudian Deputi Gubernur bidang Transportasi, Perdagangan dan Industri Sutanto Suhodo dan Pakar Transportasi Urban dari Bank Dunia Ke Fang. Pemenang akan diumumkan pada Rabu (10/6/2015) besok.




(nwk/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed