detikNews
Jumat 29 Mei 2015, 16:14 WIB

Laporan Dari Istanbul

Didukung DPR, Forum Indonesia Peduli Syam Bantu Pengungsi Suriah

M Iqbal - detikNews
Didukung DPR, Forum Indonesia Peduli Syam Bantu Pengungsi Suriah
Istanbul -

Isu kemanusiaan di Suriah atas penindasan yang dilakukan rezim Presiden Bashar al-Assad terhadap rakyatnya, tak banyak disorot dunia internasional. Terlebih setelah perlawanan kelompok seperti Front al-Nusra dicap Amerika sebagai organisasi teroris.

Di Indonesia, isu ‎yang mengakibatkan jutaan rakyat Suriah mengungsi ke Turki, Libanon, Jordan dan negara tetangga lainnya itu kini menjadi perhatian serius lembaga kemanusiaan yang peduli konflik di negeri Syam (Palestina, Suriah, Lebanon, Jordania).

Salah satu lembaga kemanusiaan Indonesia yang beberapa kali mengirimkan bantuan ke Suriah adalah Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS), yang memayungi lembaga di Indonesia yang peduli krisis Suriah-Palestina. FIPS pada Kamis (28/5) kemarin, sempat diterima pimpinan DPR sebelum berangkat ke Turki.
 
‎"Ada semacam pengalihan isu supaya rakyat dunia phobia kirim bantuan ke Suriah, karena dianggap membantu Suriah berarti bantu ISIS. Sementara keberadaan ISIS sangat kecil jumlahnya dan baru. Indonesia justru sangat mempermasalahkan isus ISIS itu dibanding isu kemanusiannya," kata Sekjen FIPS Abu Harits di Istanbul‎, Turki, Jumat (29/5/2015).

Abu Harits menjelaskan, negara yang bersebelahan Suriah yaitu Turki justru tak begitu mempersoalkan ISIS. Turki lebih fokus membantu para pengungsi yang menurut data UNHCR (United Nation High Commissioner for Refugees), saat ini sudah ada 1,7 juta pengungsi Suriah di Turki.

"Isu sesungguhnya di Suriah adalah pembantaian rakyat sipil oleh rezim yang sudah menewaskan ratusan ribu orang menurut catatan PBB," ujar aktivis yang sudah 5 kali masuk Suriah itu.

Abu Harits menjelaskan, krisis kemanusian di Suriah sudah berlangsung lama sejak sebelum Bashar memimpin. Krisis itu bagian dari rentetan krisis saat proses kejatuhan pemimpin tiran Arabic Sping mulai tahun 2009 di Tunisia, Libya, Maroko, Yaman dan Mesir.

Pemimpin Suriah masih bertahan sampai terpilihnya Bashar al-Assad pada tahun 2011. Momentum perlawanan rakyat itu lalu terjadi pada Maret 2011 di Kota Dar'a sebelah selatan Damaskus, ketika itu ‎seorang anak berusia 13 tahun Hamzah al-Khatib dibunuh.

Hamzah menuliskan kalimat 'rakyat ingin turunnya rezim' di papan tulis saat sekolah lantaran kerap menyaksikan ungkapan itu di layar televisi saat terjadi gelombang perlawanan rakyat di beberapa negara yang ingin rezim berganti. Hamzah bersama murid satu kelasnya ditangkap dan dikembalikan ke orang tua dalam keadaan tak bernyawa.

"Kematian anak itu memantik kemarahan rakyat Suriah. Hingga akhirnya mereka turun ke jalan, namun dihadapi oleh tentara rezim dengan cara sadis," papar Abu Harits.

Momentum perlawanan sejak Maret-September 2011 terjadi secara bergelombang menyuarakan kebebasan dan pergantian rezim. Namun aksi itu mendapat tekanan dari pemerintah hingga jatuh banyak korban jiwa.

Lalu pasca September, muncul pembelotan tentara Suriah yang menyadari bahwa mereka sebetulnya menembaki saudara sendiri. Pembelotan terjadi besar sehingga muncullah gerakan bersenjata di beberapa kota yang tergabung dalam Free Syrian Army hingga hari ini.

Termasuk di dalamya Front al-Nusro yang belakangan dianggap teroris oleh Amerika.‎ Saat rezim akan tumbang, Bashar mendapat dukungan dari sekutunya Iran dan lainnya. Mulailah pengungsi besar-besaran terjadi, jutaan warga meninggalkan Suriah.

Selain 1,7 juta yang mengungsi di Turki, data UNHCR pada April 2015 juga menyebut ada 1.191.451‎ pengungsi Suriah di Libanon, 627.295 di Jordan, 246.836 di Irak, dan 157.674 orang di Mesir dan Afrika Utara.

Rencananya, Forum Indonesia Peduli Syam akan mengirimkan bantuan dan menemui pengungsi di perbatasan Turki-Suriah pada 31 Mei dan 1 Juni. Di sela-sela itu, ada kegiatan peringatan tragedi Mavi Marmara dan pertemuan dengan ulama dan dokter Suriah.

Sebelumnya, Wakil ketua DPR Fadli Zon, mengatakan isu kemanusiaan Suriah di Indonesia memang tidak diterima secara utuh. Terlebih setelah muncul ISIS dari Irak dan kini bergejolak juga di Suriah. Berbeda dengan Palestina.

"Kasus Suriah ini perlu diangkat, jangan sampai masalah kemanusiaan di Suriah tertutupi oleh isu ISIS," ucap Fadli Zon saat melepas rombongan Kamis (28/5) kemarin. Fadli didampingi Fahri Hamzah memberikan bantuan untuk pengungsi Suriah yang dititipkan ke FIPS.


(M Iqbal/Fajar Pratama)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com