detikNews
Jumat 15 Mei 2015, 13:54 WIB

Panjat Pinang dan Hiburan Zaman Belanda, Pantaskah Dipertahankan di Acara 17-an?

- detikNews
Panjat Pinang dan Hiburan Zaman Belanda, Pantaskah Dipertahankan di Acara 17-an?
Jakarta - Perlombaan panjat pinang dan balap karung selama ini dinikmati dengan gembira saat perayaan 17-an. Semua tertawa semua senang. Tak ada pikiran macam-macam, apalagi yang berbau politik.

Tapi, sedikit mundur ke belakang, bila melihat sejarah politik masa lalu, panjat pinang adalah sarana hiburan orang Belanda di Batavia. Dahulu pada 1920-an, yang dipasang di puncak untuk diperebutkan adalah bahan makanan dan pakaian.

Nah, yang berlomba-lomba saling menginjak tak lain kalangan pribumi. Yang ikut lomba pun bebas, siapa saja. Saling injak demi mendapatkan hadiah.

"Orang Belanda menjadikannya hiburan," terang sejarawan Asep Kambali yang juga pendiri Komunitas Historia, Jumat (15/5/2015).

Asep menegaskan, foto saat orang Belanda melihat pribumi berlomba panjat pinang juga terekam jelas di museum Belanda. Atau kalau paling mudah bisa melihat lewat google.

Demikian juga dengan balap karung, yang dinilainya sudah tak pantas lagi dilombakan di peringatan 17-an. Karung goni yang gatal, mengingatkan akan penjajahan era tanam paksa dan era Jepang.

"17-an sebaiknya diperingati dengan mengingat jasa pahlawan, bisa lomba menyanyi lagu nasional, lomba mirip pahlawan, lomba pidato atau baca teks proklamasi," urai dia.

Budaya panjat pinang dan balap karung yang sudah mendarah daging dengan perayaan 17-an tentu amat sulit dihilangkan. Apalagi kalau urusannya dengan sejarah. Saat ini masyarakat melihat lomba-lomba itu sekedar hiburan dan bersenang-senang.

Bagaimana menurut Anda?


(ndr/mad)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com