DetikNews
Selasa 12 Mei 2015, 18:05 WIB

Saat Ibu Tua ini Mengenang Eten Karyana, Sang Penolong yang Jadi Korban Mei '98

- detikNews
Saat Ibu Tua ini Mengenang Eten Karyana, Sang Penolong yang Jadi Korban Mei 98
Jakarta - Di bawah terangnya cahaya mentari, seorang ibu berkacamata tebal tampak menatapi foto yang tertempel di papan. Tertempel pula foto-foto yang lain yang diselingi tulisan 'hope' dan 'Mei 1998'.

Meski matanya menyiratkan rasa haru, bibirnya sedikit tersenyum. Ibu itu bernama Ruyati Darwin (67) yang sedang menatapi foto mendiang putra sulungnya.

"Namanya Eten Karyana. Dia dulu meninggal di sini sewaktu mal ini dibakar. Tidak tahu siapa yang bakar, sampai sekarang belum tahu," tutur Ibu Ruyati mengawali cerita kepada detikcom di Mal Citra Klender, Jl I Gusti Ngurah Rai, Jakarta Timur, Selasa (12/5/2015).

Dari foto anak sulungnya itu terlihat sosok seorang pemuda. Ibu Ruyati kemudian mengenang Eten yang meninggal di usia 32 tahun pada 13 Mei 1998 silam.

"Anak saya itu sangat berbakti sama orang tuanya. Waktu itu dia belum mau menikah karena masih ingin bantu orang tuanya ngurus adik-adiknya. Dia anak pertama dari enam bersaudara. Dia juga satu-satunya anak saya yang lulus S1," tutur Ibu Ruyati.

Sejak tahun '80an suami Ruyati bekerja serabutan sehingga kesulitan memenuhi kebutuhan keluarganya. Eten, semasa hidupnya, berkuliah sambil sedikit demi sedikit membantu bekerja.

"Dia kuliah di Sastra Inggris UI waktu itu. Dapat beasiswa apa namanya itu saya lupa. Sewaktu diumumkan di koran tahun 1980, kita senang banget karena tak ada bayangan untuk bisa sampai kuliahkan anak. Kerjaan bapaknya Eten kan serabutan. Tapi Eten pintar, jadi dapat beasiswa," kenang Ibu Ruyati.

Di tengah perkuliahan, Eten harus ambil cuti karena tak ada biaya untuk kos dan kebutuhan kuliah lainnya. Sembari cuti, dia pun bekerja sampingan sebagai penerjemah. Sering kali teman-teman sesama mahasiswa minta diterjemahkan buku untuk referensi tugas kuliah dan skripsi.

Eten juga sempat membantu usaha kakeknya di Bandung. Sebuah usaha kecil-kecilan yang membutuhkan jasa penerjemah.

"Alhamdulillah hasilnya bisa buat bantu-bantu bapak sama ibu dan sedikit buat dia teruskan kuliah," ungkap Ibu Ruyati.

Ibu Ruyati tak ingat dengan pasti kapan Eten lulus kuliah. Tetapi seusai menunaikan kewajiban kuliah, Eten langsung mengajar Bahasa Inggris pada sebuah Madrasah di bilangan Bekasi, Jawa Barat.

Butuh dua kali berganti bus kota dari rumah Eten di sekitaran Klender menuju tempat dia mengajar. Eten juga tergolong guru yang rajin, pagi-pagi sekali sudah berangkat.

"Suatu hari saat kerusuhan dia pulang agak cepat," kata Ibu Ruyati.

Bergegas Eten ganti pakaian saat itu. Dia mendengar Mal Yogya Klender dibakar massa dan segera menghampiri.

Ruyati tak bisa berkata apa-apa melihat Eten yang tampak terburu-buru. Hanya terbesit di benak Ruyati, sang anak mungkin ingin mencari tetangganya yang juga sering datang ke mal tersebut.

"Sampai berita di televisi pada sore hari menyebutkan ada KTP bernama Eten Karyana bersama tumpukan abu di mal. Kami sekeluarga sudah mengikhlaskan sebelum berita itu ditayangkan. Kami langsung ke RS Cipto Mangunkusumo untuk mengambil tumpukan abu dan dompet berisi KTP itu," kenang Ibu Ruyati berkaca-kaca dan bibir yang bergetar.

Tanda tanya besar kemudian muncul di benak Ruyati sekeluarga pada hari demi hari berikutnya. Hingga pada sebuah pertemuan keluarga korban kebakaran yang rutin dilakukan, Ruyati menemukan jawabnya.

"Ada saksi mata melihat anak saya masuk dalam mal yang terbakar. Waktu itu katanya ada anak kecil, sekitar 12 tahun terjebak di bawah dan kelihatan lambaikan tangan. Seperti minta tolong. Hanya anak saya yang tiba-tiba masuk, bermaksud menolong, tapi akhirnya juga terbakar di mal ini," kata Ruyati di Mal Yogya yang kini berganti nama menjadi Mal Citra Klender ini.

Secercah senyum kemudian tersungging dari wajah Ruyati yang masih berkaca-kaca. Seakan ada satu harap yang ingin disampaikan di saat mentari mulai berarak ke barat.

  • Saat Ibu Tua ini Mengenang Eten Karyana, Sang Penolong yang Jadi Korban Mei 98
  • Saat Ibu Tua ini Mengenang Eten Karyana, Sang Penolong yang Jadi Korban Mei 98

(bpn/ndr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed