DetikNews
Sabtu 21 Februari 2015, 17:08 WIB

Delay Lion Air Cemari Nama Baik Indonesia, Turis Bule: They're Terrible

Elza Astari Retaduari - detikNews
Delay Lion Air Cemari Nama Baik Indonesia, Turis Bule: Theyre Terrible Para penumpang asing (Elza/ detikcom)
Jakarta - Delay hebat Lion Air tidak hanya berdampak pada penumpang lokal Indonesia. Penumpang asal luar negeri, khususnya turis juga menanggung kerugian yang cukup besar.

Terjadinya delay Lion Air bertepatan dengan peak season libur Tahun Baru Imlek sejak Rabu (18/2) lalu. Tak adanya kejelasan dan koordinasi pihak Lion yang baik membuat penumpang marah hingga menimbulkan kericuhan.

Pantauan detikcom di Terminal III Bandara Soekarno Hatta pada Kamis (19/2), ada banyak turis bule di antara ribuan penumpang Lion Air. Meski tampak resah, mereka terlihat lebih sabar dibanding penumpang-penumpang lokal. Beberapa kali mereka bertanya mengenai bagaimana nasib penerbangannya kepada staf ground. Meski mendapat ketidakjelasan jawaban, para bule ini menerimanya.

Saat kericuhan terjadi pada Kamis (19/2) sore, ada salah satu bule pria turis yang hendak ke Bali bertanya ke mana pimpinan Lion Air kepada staf operasionalnya di saat terjadinya kekacauan. Ia berbicara dengan sabar, tanpa menyalahkan Andi, Chief of Ticketing Lion Air yang saat itu sedang bertugas.

"I know it's not your fault. But what the reason this delay happened? So where is your manager? We have to hear the reasons? Why he's not here?" tanya penumpang bule kepada Andi yang tak bisa menjawabnya.

Ada banyak peristiwa mengenaskan yang dialami para bule ini. Tak sedikit yang harus kehilangan tiket pesawat kembali ke negaranya, seperti Australia. Pasalnya mereka harus terbang lewat Bandara Ngurah Rai, Bali, untuk connecting dan jadwalnya tidak terkejar karena delay yang mencapai belasan hingga puluhan jam.

Tiga bule Australia tampak menangis di Bandara Soekarno Hatta karena mereka tak lagi memiliki uang dan tiketnya pulang sudah hangus. Kerugian lain yang ditanggung turis, baik dari luar negeri maupun lokal, juga banyak yang kehilangan uang pemesanan hotel di Bali dan Lombok.

Ada seorang turis yang mengekspresikan kekecewaannya dengan lagu. Pada Kamis (19/2) malam itu, seorang bule lelaki yang tiketnya juga hangus membuka kaleng bir lalu menyetel lagu melalui smartphonenya lalu meletakkannya di speaker ruang tunggu. Ia pun lantas berdendang untuk menghilangkan stres.

Bukan hanya dia, ada sekeluarga bule yang panik karena tidak bisa berangkat ke Lombok karena kehabisan seat saat 3 jadwal penerbangan rute Jakarta-Lombok digabung. Sang ibu yang sudah naik di atas pesawat tidak mau turun dari pesawat. Ia mengaku akan kehilangan puluhan juta uang dari tiket kembali ke Australia jika tidak berangkat pada tengah malam itu.

"I won't go," kata sang bule perempuan itu menangis. Ia pergi bersama 3 anak dan suaminya.

Akhirnya satu keluarga sang suami yang sudah mendapat seat terpaksa menyerahkan kursinya ke orang lain. Ia mengajak sang istri dan 3 anaknya keluar dari pesawat.

Kemarahan para bule ini juga terlihat saat pesawat tujuan Lombok terpaksa transit di Bali karena bandaranya sudah tutup. Pada Jumat (20/2) dini hari di Bandara Ngurah Rai, mereka mencecar petugas Lion Air Bali untuk memastikan bahwa mereka akan diberangkatkan ke Lombok di pagi harinya.

"No coordination there (Jakarta). We don't believe them (Lion Air Jakarta). There's no doing, trust me. Is it (penerbangan ke ke Lombok) am (pagi) or 9 pm (malam) again?," gerutu Bule India kepada petugas Lion Air Bali, Heru, usai mendapat penjelasan kapan pesawat dari Bali ke Lombok akan diberangkatkan.

Pihak Lion Air Bali sendiri sedikit lebih baik. Mereka menyediakan penginapan agar penumpang bisa beristirahat sambil menunggu keberangkatan ke Lombok. Walaupun penumpang yang diinapkan di Vihan Suites tidak mendapat makan pagi padahal sejak malam belum makan karena tak disediakan pihak Lion Air sejak delay.

"Saya membawa orantua saya yang sudah tua. Anak-anak saya belum makan. Mereka sampai muntah. Pihak hotel bahkan tidak mau menyediakan kopi atau sekedar teh," keluh seorang bule perempuan.

Saat perjalanan dari hotel menuju Bandara Ngurah Rai dengan bus, 3 bule pun berbincang mengenai delay Lion Air ini. Mereka mengaku masih bingung alasan delay hebat yang terjadi.

"Dan sampai sekarang kita nggak tahu kenapa delay terjadi. There's no explanation. We're blind and the airlines did not give us the reason. Ada banyak isu. Katanya ada ada burung masuk mesin dan buat pesawat rusak, tapi ada juga yang bilang ketidakadaan kru. So many issues," ujar Vinesh, turis Australia yang mengajak keluarganya liburan.

Saat seorang turis lokal atas nama Indonesia meminta maaf karena ketidaknyamanan akibat Lion Air, Vinesh menjawabnya santai.

"It's okay. Kamu tidak perlu meminta maaf, this happens," ucapnya ramah.

Selain Vinesh, seorang turis asal Korea Selatan namun tinggal di Jakarta, Yoon Steven juga penasaran apa yang sebenarnya terjadi sampai delay dahsyat pun terjadi. Ia membeli tiket di saat-saat terakhir jadwal keberangkatan dengan harga yang mahal.

"Saya bingung, kalau memang ada delay seperti itu kenapa mereka masih menjual tiket. Kalau memang sudah tahu ada delay seperti seharusnya pihak maskapai sudah tidak lagi membuka check in," tutur Steven ketika berbincang dengan Vinesh dan penumpang bule lainnya, Alex.

Steven mengaku sudah mengetahui mengenai pelayanan Lion yang kurang bagus namun terpaksa membeli tiketnya karena sudah kehabisan tiket maskapai lainnya. Ia pun mengaku kapok menggunakan Lion.

"Their service is very bad. Saya terpaksa karena tidak ada tiket lainnya yang tersedia. Kejadian ini saya kira cukup parah, tak ada penjelasan apa-apa dari mereka. Penumpang dibuat menunggu lama tanpa kepastian. I think better we use the ship if like this. They (Lion) terrible, very terrible," sambungnya.

Sementara itu Alex yang memang tinggal di Lombok memberi informasi kepada Vinesh dan Steven bahwa maskapai yang bagus di Indonesia adalah Garuda. Ia pun menyayangkan kenapa pihak manajemen tidak mau bertemu dengan para penumpang untuk secara gentle memberikan penjelasan.

"Garuda maskapai nasional. Memang yang termahal dibanding maskapai lainnya tapi bagus. Saya pikir sebaiknya mereka (manajemen Lion) kasih informasi (soal alasan delay) supaya orang tahu. Jam berapa kapan pesawat akan datang. Akhirnya ini bikin stres semua. Sebaiknya manajemen Lion Air bisa gentle untuk beri penjelasan," tukas Alex yang bekerja sosial di Lombok untuk membantu masyarakat pedalaman itu.

Kejadian delay hebat Lion Air ini mencoreng nama Indonesia di mata turis-turis internasional. Apalagi banyak rute pesawat yang delay merupakan destinasi wisata seperti Bali, Lombok, dan Yogyakarta.

"This is crazy. Indonesian airlines is suck," maki seorang bule Jerman yang tak mau disebutkan namanya saat akhirnya tiba di Lombok, 24 jam setelah jadwal keberangkatan.


(ear/gah)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed