DetikNews
Selasa 03 Februari 2015, 15:58 WIB

Belajar Bahaya Narkoba di Griya Anti Narkoba Milik AM Hendropriyono

- detikNews
Belajar Bahaya Narkoba di Griya Anti Narkoba Milik AM Hendropriyono (Foto: Yudhistira AS/detikcom)
Jakarta - Saat ini Indonesia sedang mengalami darurat narkoba. Terbukti dengan banyaknya terpidana narkoba yang akan menghadapi hukuman mati. Pemerintah Indonesia dibawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo hingga hari ini (3/2/2015) telah mengeksekusi mati 6 terpidana narkoba.

Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain narkoba, istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia adalah Napza yang merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif. Seperti yang tertulis dalam museum Griya Anti Narkoba, narkoba masuk ke Indonesia di era Kerajaan Majapahit abad XIV atau sekitar 700 tahun silam.

Banyak orang tua yang belum terlalu detail memberikan edukasi kepada anak-anaknya tentang bahaya dari penggunaan narkoba. Padahal, narkoba bisa menjangkit anak-anak yang menjadi generasi penerus bangsa di mana saja. Bisa di Sekolah, jalanan atau kendaraan umum. Atas dasar ingin melindungi generasi penerus bangsa inilah, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal (Purn) AM Hendropriyono bersama kedua sahabatnya Komjen Pol (Purn) Gories Mere dan Irjen (Purn) Benny Mamoto mendirikan museum yang diberi nama Griya Anti Narkoba.

Griya Anti Narkoba ini berdiri di lahan seluas hampir 1 hektar dan merupakan museum narkoba pertama di Jakarta. Terletak di Taman Indraloka, Jalan Mandor Hasan No. 45, Ceger, Cipayung, Jakarta Timur. Untuk menuju ke museum ini, bila pengunjung menggunakan kendaraan pribadi bisa keluar di Gerbang Tol Taman Mini. Atau bagi pengunjung yang menggunakan kendaraan bermotor setelah sampai di sekitar Gerbang Tol Taman Mini bisa langsung menuju ke arah Ceger.

Di Griya Anti Narkoba ini, pengunjung bisa melihat-lihat berbagai macam jenis obat-obatan yang mengandung zat berbahaya serta melihat dampak pemakaiannya. Pengunjung juga bisa mengetahui bagaimana cara-cara pengedar mengendarkan barang haram itu ke Indonesia. Ada narkoba yang disimpan dalam rambut yang gimbal, dibawah hak sepatu, ditempelkan di seluruh badan hingga dimasukkan ke dalam perut.

Pengunjung juga akan disuguhkan film berdurasi 15 menit mengenai bahaya narkoba di ruang auditorium. Museum ini diresmikan pada 25 Juni 2014 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ir H Joko Widodo dan juga didukung oleh Asosiasi Purnawira Penegak Hukum Narkotika Indonesia (AP2HNI) serta Yayasan Wale Anti Narkoba Indonesia (YWANI). Museum ini beroperasi mulai pukul 10.00-17.00 WIB setiap hari serta hari libur nasional. Harga tiket masuknya? Gratis alias tidak dipungut biaya.

"Infromasinya komplit & gampang dicerna anak-anak. Bagus untuk pencegahan, mendidik," tulis Jokowi di kesan dan pesan yang terpampang di pintu masuk museum.

Selain ke Museum Griya Anti Narkoba, pengunjung juga bisa menikmati taman hewan yang berisikan hewan-hewan seperti landak, merak, soang dan elang serta pengunjung juga bisa berenang di kolam renang Indraloka yang masih berada di Taman Indraloka. Menurut Hendri (28), salah seorang tour guide museum, museum ini ramai ketika Sabtu dan Minggu saja.

"Ramainya kalau weekend aja, Sabtu dan Minggu. Biasanya kalau hari biasa banyaknya ke kolam renang," ujarnya yang baru bekerja selama 7 bulan.

Hari ini, Selasa (3/2/2015), Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa juga mengunjungi Griya Anti Narkoba. Dalam sambutannya, Khofifah mengatakan, 40-50 orang tewas dalam sehari karena narkotika. 60 Persen pengguna ganja dan sabu-sabu sangat berpotensi mengalami gangguan psikotik.

"Rp 50 triliun dalam setahun dibelanjakan para pecandu untuk mendapati barang haram tersebut. Dari jumlah pecandu dan perputaran uang yang fantastik itu ternyata tidak sebanding dengan upaya rehabilitasi," katanya.

  • Belajar Bahaya Narkoba di Griya Anti Narkoba Milik AM Hendropriyono
    (Foto: Yudhistira AS/detikcom)
  • Belajar Bahaya Narkoba di Griya Anti Narkoba Milik AM Hendropriyono
    (Foto: Yudhistira AS/detikcom)
  • Belajar Bahaya Narkoba di Griya Anti Narkoba Milik AM Hendropriyono
    (Foto: Yudhistira AS/detikcom)
  • Belajar Bahaya Narkoba di Griya Anti Narkoba Milik AM Hendropriyono
    (Foto: Yudhistira AS/detikcom)
  • Belajar Bahaya Narkoba di Griya Anti Narkoba Milik AM Hendropriyono
    (Foto: Yudhistira AS/detikcom)
  • Belajar Bahaya Narkoba di Griya Anti Narkoba Milik AM Hendropriyono
    (Foto: Yudhistira AS/detikcom)
  • Belajar Bahaya Narkoba di Griya Anti Narkoba Milik AM Hendropriyono
    (Foto: Yudhistira AS/detikcom)
  • Belajar Bahaya Narkoba di Griya Anti Narkoba Milik AM Hendropriyono
    (Foto: Yudhistira AS/detikcom)
  • Belajar Bahaya Narkoba di Griya Anti Narkoba Milik AM Hendropriyono
    (Foto: Yudhistira AS/detikcom)
  • Belajar Bahaya Narkoba di Griya Anti Narkoba Milik AM Hendropriyono
    (Foto: Yudhistira AS/detikcom)
  • Belajar Bahaya Narkoba di Griya Anti Narkoba Milik AM Hendropriyono
    (Foto: Yudhistira AS/detikcom)
  • Belajar Bahaya Narkoba di Griya Anti Narkoba Milik AM Hendropriyono
    (Foto: Yudhistira AS/detikcom)
  • Belajar Bahaya Narkoba di Griya Anti Narkoba Milik AM Hendropriyono
    (Foto: Yudhistira AS/detikcom)
  • Belajar Bahaya Narkoba di Griya Anti Narkoba Milik AM Hendropriyono
    (Foto: Yudhistira AS/detikcom)
  • Belajar Bahaya Narkoba di Griya Anti Narkoba Milik AM Hendropriyono
    (Foto: Yudhistira AS/detikcom)
  • Belajar Bahaya Narkoba di Griya Anti Narkoba Milik AM Hendropriyono
    (Foto: Yudhistira AS/detikcom)

(nwk/nwk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed