DetikNews
Senin 17 November 2014, 04:11 WIB

Laporan dari AS

Memperkuat Rajutan Nasionalisme di Negeri Orang

- detikNews
Memperkuat Rajutan Nasionalisme di Negeri Orang Foto: Shohib Masykur
Washington DC -

Bagi warga Indonesia yang lahir dan besar di dalam negeri, nasionalisme barangkali diterima begitu saja apa adanya (taken for granted). Mereka tidak diusik dengan pertanyaan tentang apa makna Indonesia bagi mereka dan bagaimana cara mereka mengartikulasikan rasa cinta terhadap Indonesia.

Namun hal berbeda dialami oleh warga keturunan Indonesia yang sejak kecil tinggal di luar negeri. Bagi mereka, konsep abstrak seperti nasionalisme wujud dalam hal-hal konkret yang barangkali terlihat sederhana seperti makanan, gamelan, batik, dan semacamnya. Dari persentuhan dengan hal-hal sederhana itulah mereka mengenal dan memaknai Indonesia.

Hal itu misalnya dialami oleh Anthony Kadir, warga Amerika keturunan Indonesia yang lahir dan besar di Amerika. Anthony membagikan pengalamannya dalam sebuah diskusi interaktif bertema “Orang Muda Punya Cerita: Memperkuat Kembali Rajutan Nasionalisme Kita” di Washington DC, Amerika Serikat, Sabtu (15/11/2014).

“Dengan mengenal kulturnya, musiknya, batiknya, makanannya, saya merasa terhubung dengan Indonesia dan keluarga saya di sana. Saya juga merasa terpanggil untuk membawa dampak positif kepada orang-orang di Indonesia, karena di sini kita memiliki kesempatan yang lebih dibanding di sana,” kata Anthony.

Karena ikatan emosional itulah, di sela kesibukannya menjalankan bisnis, Anthony masih meluangkan waktunya untuk berinteraksi dan aktif berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan terkait Indonesia yang diselenggarakan di Wasington DC. Dia juga rajin mempromosikan Indonesia melalui jaringan yang dia miliki.

“Meski saya menghadapi kendala bahasa, saya tetap merasa terhubung dengan Indonesia dan merasa berkewajiban berkontribusi bagi komunitas Indonesia,” ujar Anthony yang tidak lancar berbahasa Indonesia ini.

Mempelajari bahasa Indonesia di negeri orang memang bukan perkara mudah. Interaksi intensif anak dengan teman-teman dan lingkungannya yang berbahasa Inggris membuat bahasa Indonesia tersisihkan dari radar kognitif mereka. Selain itu, mereka tidak pernah dihadapkan pada situasi yang memaksa mereka menggunakan bahasa Indonesia, sehingga mereka pun merasa tidak perlu mempelajarinya.

“Anak-anak memiliki resistensi sangat besar untuk belajar bahasa Indonesia. Mereka pikir buat apa belajar bahasa Indonesia yang tidak akan digunakan di sekolah,” kata Debbie

Sumual-Patlis dari Rumah Indonesia, sebuah lembaga yang mengajarkan bahasa Indonesia kepada anak-anak keturunan Indonesia di Amerika. Menurut Debbie, meski menguasai bahasa Indonesia menjadi kelebihan tersendiri, namun tujuan akhirnya bukan itu. Hal yang lebih penting adalah menanamkan ikatan emosinoal dengan Indonesia pada diri anak-anak.

“Hal yang lebih dalam dari belajar bahasa Indonesia adalah supaya mereka tahu mereka itu siapa. Itulah emosi yang ingin kita tanamkan kepada anak-anak. Banyak orang Indonesia yang bahasa Indonesianya tidak lancar, tapi mereka tetap membawa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari,” ujar alumni UI yang bersuamikan orang Amerika ini.

Kendala yang dihadapi dalam mengajarkan bahasa Indonesia kepada anak terkadang bersifat lebih teknis. Misalnya, pilihan penggunaan waktu. Hal ini dialami oleh Abdul Nur Adnan. Ketua Kagama Washington DC yang sudah lebih dari 40 tahun tinggal di AS ini harus memilih antara mengajarkan agama atau bahasa Indonesia kepada anaknya.

Pada waktu itu, les bahasa Indonesia diselenggarakan di KBRI setiap hari Sabtu, sedangkan pelajaran agama diadakan pada hari minggu di Sunday School. Anak-anak keberatan jika hari Sabtu dan Minggu harus bersekolah karena mereka tidak akan punya waktu untuk bermain dan bersantai-santai.

“Karena itu saya harus memilih memberikan pelajaran agama atau bahasa Indonesia. Dan saya memutuskan untuk memberi pelajaran agama karena kalau bahasa Indonesia tidak diperlukan secara langsung di Amerika. Kalau nanti mereka memerlukan secara langsung, saya bisa kursuskan mereka,” kata kata mantan wartawan Voice of America (VOA) yang sudah memasuki masa purna tugas ini.

Diskusi interaktif tersebut diselenggarkan oleh Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat (Permias), Ikatan Alumni UI (Iluni UI), dan Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama) dalam momentum peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober dan Hari Pahlawan 10 November. Diskusi dihadiri oleh masyarakat Indonesia di Washington DC dan sekitarnya serta dimeriahkan dengan bazar makanan, pentas musik, pertunjukan pencak silat, dan tarian tradisional Indonesia.

  • Memperkuat Rajutan Nasionalisme di Negeri Orang
    Foto: Shohib Masykur
  • Memperkuat Rajutan Nasionalisme di Negeri Orang
    Foto: Shohib Masykur
  • Memperkuat Rajutan Nasionalisme di Negeri Orang
    Foto: Shohib Masykur

(tfn/tfn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed