detikNews
Minggu 02 November 2014, 05:41 WIB

Salat Jumat di Negara Tanpa Masjid

- detikNews
Salat Jumat di Negara Tanpa Masjid Foto: Al Busyra/pembaca
Jakarta - Delegasi dialog lintas agama Indonesia sedang menjalankan misi di Slowakia, Eropa Timur. Pada Jumat (31/10) lalu, delegasi berkesempatan menjalankan Salat Jumat di negara dengan penduduk 5,5 juta jiwa itu.

Menurut Direktur Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Al Busyra Basnur, tak ada 1 masjid pun di negara seluas 48.845 km persegi itu. Salat jumat pun digelar di Pusat Kebudayaan Kordoba.

"Selain menjadi pusat kebudayaan Islam, Kordoba, bangunan berlantai dua, juga menjadi pusat kegiatan ibadah umat Islam di Slowakia," tutur Al Busyra, dalam rilis yang diterima detikcom, Minggu (2/11/2014).

Delegasi melaksanakan Salah Jumat usai berdialog dan bertukar pikiran dengan sejumlah pemimpin dan tokoh Islam di Bratislava, ibu kota Slowakia. Salah satu anggota delegasi yang merupakan Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kemenag Mubarok, didaulat menjadi khatib dan imam. Salat diikuti sekitar 60 jamaah.

Islam memang termasuk agama yang belum terdaftar di Slowakia. Syarat utama untuk mendaftarkan organisasi keagamaan di Slowakia yaitu adanya dukungan berupa tandatangan minimal 20 ribu warga negara.

Penduduk Slowakia umumnya beragama Kristen. Berdasarkan catatan tidak resmi, jumlah muslim di Slowakia tak lebih dari 5000 orang. Mereka umumnya berasal dari Arab, Albania Bosnia, Afghanistan, Turki, Pakistan, dari negara-negara pecahan Uni Soviet dan bangsa Slowakia sendiri.

"Karena itu, sangat tidak mungkin bagi umat Islam mendirikan rumah ibadah masjid di negara itu, berdasarkan peraturan pemerintah saat ini. Padahal pada abad ke 18, terdapat sekitar 300 keluarga Muslim di Bratislava," jelas Al Busyra.

Warga Negara Indonesia di Slowakia sekitar 60 orang. Sebagian besar keluarga diplomat dan staf KBRI di Bratislava (Ibu Kota Slowakia).

Delegasi dialog lintas agama Indonesia saat ini dalam kunjungan ke Slowakia dan Polandia dalam rangka meningkatkan pengertian dan pemahaman pemerintah dan masyarakat di negara tersebut tentang kehidupan umat beragama, keragaman, solidaritas dan harmoni di Indonesia. Selain Al Busyra, delegasi terdiri dari Romo Agus Ulahayanan, Pendeta DR. Martin Lukito Sinaga, DR. Chandra Setiawan, akademisi Prof. Mudjia Rahardjo, Prof. Azyumardi Azra (UIN Jakarta), Direktur Jenderal Binmas Katholik Kemenag Eusabius Binsasi, dan Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kemenag, Mubarok.


(rna/rmd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com