DetikNews
Sabtu 18 Oktober 2014, 11:21 WIB

Cerita Turis Spanyol Korban Oknum Imigrasi Bandara Soetta

- detikNews
Cerita Turis Spanyol Korban Oknum Imigrasi Bandara Soetta
Madrid -

Kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kunjungan turis asing terancam tergerogoti oleh ulah oknum di bandara. Rombongan turis Spanyol ini membeberkan modusnya.

Sejumlah turis Spanyol menjadi korban praktik korupsi oknum imigrasi saat hendak masuk Indonesia dengan melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta).

"Ini adalah kisah saya dengan petugas imigrasi yang korup di Bandara Internasional Soetta," tulis Carlos, demikian dia minta namanya dikutip, melalui surat elektronik yang diterima detikcom di Den Haag, Jumat (17 Oktober 2014).

Membeberkan pengalaman buruknya dalam bahasa Inggris, Carlos menyertakan copy cap imigrasi kapan rombongannya masuk dan kapan keluar, sehingga kementerian terkait dapat memetakan siapa oknumnya yang nakal dan telah mencoreng institusi dan nama baik negara.

Carlos mengajak rombongan keluarganya untuk berlibur ke Indonesia dengan pesawat Emirates nomor penerbangan EK356 dari Dubai dan tiba di Terminal Kedatangan 2 Bandara Internasional Soetta pada Kamis 25 September 2014 sekitar pukul 15.40 WIB.

Sebelum penerbangan ini, mereka telah menempuh penerbangan Emirates dari Madrid-Dubai dengan total waktu bepergian selama 20 jam.

"Kami sudah lelah tapi keluarga saya sangat senang berada di Indonesia, sebuah negara yang saya cintai," kisah Carlos mengawali ceritanya.

Karena perjalanan yang panjang dan melelahkan serta tidak ingin kedua orangtuanya masih harus dua kali antre di bandara, maka dia memutuskan untuk mengurus visa turis di KBRI Madrid, supaya di bandara cukup antre pada meja imigrasi, tak perlu antre untuk Visa on Arrival (VoA).

Perlu diketahui, bahwa dalam dua perjalanan sebelumnya ke Indonesia, Carlos selalu mengurus visa di KBRI Madrid, sehingga dia tahu persyaratan dan prosedurnya, petugas imigrasi akan menanyakan beberapa pertanyaan, memberi cap stempel dan menandatangani visa.

"Dan kami sudah membereskan semua surat-surat di KBRI Madrid pada Agustus lalu," ujar Carlos.

Setelah lebih dari 1,5 jam menunggu, Carlos bersama keluarganya sampai pada meja imigrasi Bandara Soetta yang paling dekat dengan meja VoA. Petugas imigrasi yang melayani mereka adalah pria usia muda.

Menurut Carlos, pada saat itu hanya ada 3 meja imigrasi Bandara Soetta yang buka, 2 meja dengan petugas pria dan satu perempuan.

Carlos sangat terkejut ketika petugas ini, setelah melihat paspor dan visa mereka, menanyakan semua surat-surat yang sebelumnya telah dia penuhi persyaratannya dan telah diurus di KBRI Madrid.

"Saya sampaikan ke petugas itu bahwa semua surat-surat itu telah saya urus di KBRI Madrid, sehingga kami mendapat visa yang telah disetujui sebelum kami datang ke Indonesia," papar Carlos.

Petugas itu menanyakan tiket penerbangan kembali (return ticket) ke Spanyol, dan Carlos menunjukkan semua return ticket tersebut kepada dia.

Selanjutnya petugas menanyakan reservasi hotel di Indonesia dan Carlos menjelaskan bahwa reservasi itu ada dalam email dan untuk saat ini, baru dari pesawat, dia belum ada kontak internet di Indonesia.

"Saya bersikeras bahwa KBRI Madrid telah memegang semua surat-surat kami yang diperlukan dan mereka telah menyetujui visa kami. Petugas itu kemudian mengatakan ok," imbuh Carlos.

Satu per satu keluarganya mulai mendapat cap stempel dan tanda di paspor mereka. Kecuali satu...

"Yang terakhir adalah kakak saya. Petugas meminta saya untuk menyuruh keluarga saya lainnya supaya menjauh dan dia menanyakan lagi tentang reservasi hotel untuk paspor kakak saya," terang Carlos.

Untuk ketiga kalinya, Carlos menyampaikan bahwa dia tidak memegang surat-surat itu saat ini, semua persyaratan permohonan visa telah dipenuhi dan semua sudah ada di KBRI Madrid, dan mereka telah menyetujui dan menerbitkan visa.

"Petugas itu mengatakan bahwa dia harus mendapatkan surat-surat tersebut, tetapi jika saya memberi dia US$ 8 per orang, maka dia akan mengizinkan kakak saya masuk Indonesia. Kami berenam, sehingga jumlah totalnya US$ 48," rinci Carlos.

Setelah perjalanan panjang dari Madrid selama 20 jam dan berdiri antre di jalur imigrasi serta melihat kedua orangtua kelelahan, Carlos akhirnya memutuskan untuk menyudahi semua ini dan memberi petugas Euro 30 dari sisa uang tunai di sakunya.

Carlos mengatakan pada petugas bahwa dia sudah tidak mempunyai uang tunai lagi dan perlu segera membawa kedua orangtuanya ke hotel untuk istirahat.

"Petugas mengambil uang Euro 30 itu, memberi cap stempel dan memparaf paspor kakak saya. Saya sangat kecewa, tapi sekurangnya saya -dengan memberi uang itu- dapat masuk Indonesia dan mulai menikmati negara asing favorit saya," demikian Carlos.

Kementerian Hukum dan HAM tidak bisa menutup mata atas sinyal-sinyal seperti ini. Cerita pengalaman buruk berurusan dengan imigrasi Indonesia ini telah menyebar luas di medsos Spanyol.


(es/es)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed