DetikNews
Kamis 14 Agustus 2014, 19:10 WIB

Kisah Otoritas Kampus, Betapa Susahnya Memerangi Narkoba di Unas

- detikNews
Kisah Otoritas Kampus, Betapa Susahnya Memerangi Narkoba di Unas
Jakarta - Kepolisian menemukan 5 Kg dan 5 gram sabu-sabu usai razia di dalam kampus Universitas Nasional (UNAS) pada Rabu (13/8) malam. Otoritas UNAS pun mensinyair kampus menjadi tempat perlintasan narkoba yang ditunggangi oleh bandar-bandar di luar pihak kampus.

"Kami sinyalir area kampus ini menjadi perlintasan narkoba. Bandarnya melibatkan orang umum. Bahkan misal ada kejadian di luar ditanya dapatnya dari mana? Katanya dari UNAS," kata Kepala Biro Administrasi Umum UNAS, Abdul Malik dalam jumpa pers di Kampus UNAS, Jalan Sawo Manila, Pejaten, Pasar Minggu, Jaksel, Kamis (14/8/2014).

Abdul menyatakan bahwa UNAS sendiri sebelumnya pernah melakukan razia internal pada 5 tahun yang lalu. Pada saat itu, pihak kampus mendapatkan 2 Kg ganja dan langsung melimpahkannya ke Polsek Pasar Minggu.

"Kita sering menangkap juga yang sedang melinting dan kita laporkan ke polsek. Kita juga melibatkan BNN, tapi untuk mengorek secara mengakar prosesnya cukup panjang. Kasus semalam titik awal, kami juga mengundang polisi dan BNN untuk terlibat pemberantasan tidak hanya UNAS dan juga simpul-simpul jejaringnya," papar Abdul.

Meski otoritas kampus telah mengetahui pola kehidupan narkoba sejak lama, Abdul menyatakan pihaknya baru berani mengambil keputusan memberantas tuntas peredaran narkoba semalam. Menurutnya itu memerlukan waktu.

"Ini bukan perkara mudah dan perlu waktu. Ini melibatkan banyak orang. Bukan hanya melibatkan mahasiswa, atau alumni tapi dari pihak luar bahkan melibatkan oknum dari kampus luar," Abdul menjelaskan.

"Kalau tadinya belum diperhatikan kami kemarin lebih jeli sehingga bisa menemukan puntung-puntung ganja (yang berujung pada razia). Narkoba ini sudah menjadi kanker yang harus dioperasi," imbuh Abdul.

Abdul pun menuding pihak yang terlibat dalam peredaran narkoba di UNAS bukan hanya dari pihak dalam kampus. "Ada yang sudah kuliah di UNAS tapi ada yang di ada yang dari pihak luar," tuturnya.

Pihak kampus sendiri melihat adanya peran oknum kampus yang mencurigakan. Oknum tersebut aktif dalam pembayaran keuangan administrasi kampus namun tidak aktif dalam akademik.

"(Bandar) ada sebagian oknum mahasiswa, ada yang sebagian bukan. Dari track record ada yang bayar aktif tapi 0 aktivitas. Walau ada yang murni karena malas juga," ungkap Warek UNAS, Iskandar Fitri dalam kesempatan yang sama.

Kuasa hukum UNAS yang juga hadir dalam jumpa pers, Ali Asgar mengatakan pihak kampus akan melakukan listing terkait permasalahan ini. Hal tersebut untuk mencegah adanya oknum-oknum yang memanfaatkan kampus untuk tujuan tidak baik.

"Kita akan listing mahasiswa-mahasiswa kalau mereka bayar tapi nggak ada aktivitas lalu ngapain. 2008 sudah, kita akan lakukan lagi," ucap Ali.

Ali khawatir peredaran narkoba yang berlangsung bermula dari kegiatan-kegiatan kemahasiswaan yang secara tidak sadar ditunggangi oleh bandar-bandar narkoba. Dalam kegiatan ini para alumni memang kerap diundang.

"Seperti ada kegiatan raker memang waktu itu kami perbolehkan. Oknum-oknum baik mahasiswa dan alumni melakukan transaksi narkoba. Ini hanya 1 persen dari mahasiswa UNAS. Kenapa sekian lama (peredaran narkoba) tidak digubris? Kami memberikan kesempatan pada senat atau UKM untuk kedewassan berpikir," tutup Ali.


(ear/ndr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed