DetikNews
Minggu 01 Juni 2014, 02:52 WIB

Usaha Pangdam IV Diponegoro Perjuangkan Keroncong Hingga ke UNESCO

- detikNews
Usaha Pangdam IV Diponegoro Perjuangkan Keroncong Hingga ke UNESCO Mayjen TNI Sunindyo
Semarang - Kecintaan Pangdam IV Diponegoro, Mayjen TNI Sunindyo akan musik keroncong memang tak bisa diagukan lagi. Ia berdiskusi dengan sejumlah seniman untuk mengusulkan keroncong sebagai warisan budaya Indonesia yang diakui dunia melalui UNESCO. Selain itu, pagelaran keroncong digelar dengan mendatangkan seniman keroncong dari Malaysia.

Mayjen TNI Sunindyo mengatakan dari hasil Rembug Keroncong yang digelar di Wisma Perdamaian dengan tema "Kebangkitan Keroncong Indonesia", saat ini serbuan budaya dari negara luar semakin mengikis jati diri bangsa Indonesia terutama di bidang seni. Oleh sebab itu perlu adanya usaha-usaha untuk melestarikan budaya Indonesia, salah satunya keroncong.

"Kita sekarang perang modern, serbuan bisa lewat budaya, kita lama-lama tidak punya identitas. Maka kita punya budaya seperti ini ya kita pertahankan, kayak Jepang gitu lah," kata Sunindyo di sela-sela acara Apresiasi Keroncong di Taman KB Semarang, Sabtu (31/5/2014) malam.

Usaha keras yang dilakukan pria dengan julukan Panglima Keroncong untuk melestarikan budaya keroncong ini tidak hanya dilakukan kali ini. Berbagai acara sudah digelar termasuk pemecahan rekor 1.000 lagu keroncong yang dibawakan 84 grup tahun 2013 lalu.

"Tindak lanjut kami mohon doa restu karena butuh waktu lama, diskusi sehari itu tidak cukup," pungkasnya.

Mayjen TNI Sunindyo memang sudah dikenal sebagai sosok pecinta Keroncong. Ia sudah menyukai musik yang dimainkan banyak personel itu sejak duduk di bangku SMP dan menyanyikan lagu Keroncong Kemayoran dengan versi vocal grup.

"Sekarang saya juga menyimpan kaset keroncong di mobil saya. Saya paling suka lagu Bengawan Solo," imbuhnya.

Pemerhati musik, Bens Leo menambahkan, masih banyak label rekaman yang enggan melirik musik Keroncong untuk dipublikasi. Padahal banyak variasi musik keroncong yang digabungkan dengan jenis musik lain seperti Keroncong Protol dari Bondan Prakoso.

"Banyak label rekaman yang menilai kurang komersil. Padahal contohnya penggemar rap atau hiphop bisa gemari keroncong karena ada Keroncong Protol dari Bondan. Almarhum pak Gesang sangat mengapresiasi itu," tandasnya.

"Dengan acara dari pak Pangdam ini semoga bisa memberi berkah bagi musik Keroncong," ujar Bens.

Sementara itu, salah satu personil grup musik Keroncong dari Malaysia, M. Anas mengatakan, di daerahnya di Johor, setiap wilayah diwajibkan menumbuhkan musik Keroncong dan pengajarnya pun didatangkan dari Indonesia.

"Jadi diarahkan untuk menumbuhkan Keroncong. Ini pengajarnya pak Edi Kuncoro dari Indonesia," kata M. Anas.

Acara Apresiasi Keroncong yang merupakan rangkaian dari Rembug Keroncong Indonesia itu diisi oleh sejumlah seniman Keroncong mulai dari yang usia muda hingga tua. Sedangkan seniman Keroncong dari Malaysia membawakan dua lagu yaitu Sapu Lidi dan lagu buatan mereka berjudul Sungai Johor.
  • Usaha Pangdam IV Diponegoro Perjuangkan Keroncong Hingga ke UNESCO
    Mayjen TNI Sunindyo
  • Usaha Pangdam IV Diponegoro Perjuangkan Keroncong Hingga ke UNESCO
    Mayjen TNI Sunindyo

(mok/mok)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed