DetikNews
Kamis 13 Maret 2014, 15:40 WIB

Petaka Cinta Segitiga

Tewasnya Ade Sara dan Tren Tindak Kriminal di Kalangan Remaja

- detikNews
Tewasnya Ade Sara dan Tren Tindak Kriminal di Kalangan Remaja Pemakaman Ade Sara. (Foto - Edward/detikcom)
Jakarta - Tubagus Ronny Nitibaskara memang tak memiliki data pasti. Namun guru besar kriminologi dari Universitas Indonesia itu yakin pengaruh era zaman modern cenderung menimbulkan potensi perilaku negatif di kalangan remaja. Khususnya keinginan bahwa semua kebutuhan para remaja itu harus dipenuhi.

Indikasinya, kejadian kriminal yang dilakukan anak muda cenderung meningkat. “Mungkin mereka biasa terpenuhi. Sekali kata tidak, membuat mereka berpikir dendam. Perilaku ini yang berbahaya akibatnya,” kata Ronny saat berbincang dengan detikcom, Rabu (12/3) kemarin.

Bahkan menurut dia kasus kekerasan fisik yang berujung pada kematian bisa dikatakan lazim terjadi di kalangan anak usia muda. Kasus pembunuhan terhadap Ade Sara Angelina Suroto (19 tahun) memperkuat analisa Ronny.

Ade Sara ditemukan tewas pada Rabu (5/3) pekan lalu. Pelaku pembunuhan diduga adalah dua sahabat karibnya, Ahmad Imam Al HAfitd, 19 tahun dan Assyifa Ramadhani, 19 tahun. Menurut Ronny, Hafitd dan Syifa membunuh akibat kecewa atau sakit hati yang mendalam.

Semua orang bisa mengalami kejadian seperti ini kalau menyangkut persoalan emosi cinta. Hafitd sakit hati karena gagal mendapat kasih sayang dari Ade Sara. Kebencian dia bertambah saat perempuan yang masih dicintai menolak diajak komunikasi.

Sementara Syifa diduga hampir sama, yakni tidak mendapat rasa sayang utuh dari Hafitd sebagai kekasihnya sekarang. Perasaan cemburu membuatnya khilaf dan menutupi nalar berpikirnya.


Namun menurut psikolog Sani Budiantini Hermawan penyiksaan yang berujung tewasnya Ade Sara tak lazim dilakukan oleh remaja berusia 19 tahun. Hafitd dan Syifa diduga memiliki jiwa personality yang sadistis. Salah satunya dengan menyetrum tubuh serta menyumpal mulut korban.

“Melakukan hal itu di usia segitu tidak lazim. Harus dicek lagi kejiwaannya secara menyeluruh apakah ini berpotensi gangguan kepribadian yang lebih berat lagi,” kata Sani saat dihubungi detikcom, Rabu (12/3) kemarin.

Dia menduga motif utama menyebabkan kematian ini lebih karena balas dendam serta sakit hati. Terkadang menurutnya persoalan cinta itu melibatkan emosi yang mengalahkan logika berpikir. Emosi dalam cinta telah membuat nalar seseorang untuk berpikir sehat tertutupi. Apalagi ini terkait dengan cinta segitiga yang membuat perasaan dua pelaku seperti tidak ada harga diri karena tidak berhasil mendapatkan tujuan kasih sayang yang diinginkan.

“Sakit hati mendalam ini menunjukan sikap agresifitas yang kemudian muncul untuk menghakimi. Masa remaja itu super sensitif, nyari jatidiri, merasa kecewa kalau tidak ada respon baik. Ini ada kepribadian yang sangat sensitif,” ujar psikolog keluarga itu.

Belum genap sepekan setelah Ade Sara ditemukan meninggal, kasus pembunuhan terhadap remaja terjadi lagi. Selasa (11/3) kemarin sesosok jenazah ditemukan di Jalan Siliwangi, Pondok Benda, Pamulang, Tangerang Selatan.

Saat ditemukan ada tiga luka tusukan di tubuh remaja yang mengenakan kaus berwarna merah dan celana jeans biru. Belakangan diketahui identitas jenazah itu adalah Johanna yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kasus ini masih diselidiki oleh kepolisian.



  • Tewasnya Ade Sara dan Tren Tindak Kriminal di Kalangan Remaja
    Pemakaman Ade Sara. (Foto - Edward/detikcom)
  • Tewasnya Ade Sara dan Tren Tindak Kriminal di Kalangan Remaja
    Pemakaman Ade Sara. (Foto - Edward/detikcom)

(erd/erd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed