detikNews
Senin 03 Maret 2014, 13:14 WIB

Cerita Joop 'Anak Tentara Belanda' Kenali Sosok Ayah dari Buku 1 Lemari

- detikNews
Cerita Joop Anak Tentara Belanda Kenali Sosok Ayah dari Buku 1 Lemari Foto: Imam Wahyudiyanta/detikcom
Surabaya - Tidak mudah bagi seorang Joop Nahuysen untuk melakukan tabur bunga mengenang pertempuran Laut Jawa. Namun dengan tekad dan kemauan yang luar biasa, pria 72 tahun itu mampu melakukannya. Sejak tahun 2012, Joop selalu menabur bunga di 'pusara' ayahnya di Laut Jawa.

Joop adalah anak dari Antonie Nahuysen, seorang warga Belanda kelahiran Magelang yang bertugas sebagai tentara di Angkatan Laut Belanda. Antonie bertugas sebagai telegrafis di HNLMS De Ruyter, sebuah kapal penjelajah ringan. Antonie gugur bersama tenggelamnya HNLMS De Ruyter sewaktu terjadi Pertempuran Laut Jawa pada 27 Februari 1942.

Joop merupakan buah perkawinan Antonie dengan Charlotte. Charlotte sendiri juga lahir dan besar di Indonesia, tepatnya di Ngawi. Joop mempunyai kakak, yakni Henry yang 2 tahun lebih tua darinya.

"Sewaktu ayah saya gugur, saya masih berada di kandungan ibu. Umur kandungannya masih 3 bulan," cerita Joop menggunakan bahasa Indonesia yang terbata-bata kepada detikcom akhir pekan lalu.

Enam bulan kemudian tepatnya tanggal 27 Agustus 1942, Joop lahir di sebuah klinik di Tambaksari, Surabaya. "Klinik itu sekarang sudah berubah jadi sebuah panti asuhan," ujar Joop.

Sewaktu mendapat kabar tentang kematian Antonie, Charlotte begitu terpukul. Tetapi dia tetap tegar dan tetap mengurus kedua buah hatinya. Saat Jepang masuk ke Indonesia, semua warga Belanda dikirim dan diisolasi ke kamp khusus. Joop sendiri dikirim ke pabrik gula tak terpakai yang disulap menjadi kamp di Jombang.

"Sangat tidak enak di sana. Makan hanya sekali sehari. Tidak ada tempat untuk buang air besar. Lingkungannya kotor. Panas," kenang Joop.

Kenangan Joop di kamp tersebut kelak akan membuat Joop trauma datang ke Indonesia. Setelah Jepang terusir dari Indonesia. Keluarga Joop bermaksud kembali ke Surabaya. Tetapi mereka tidak menggunakan jalan darat melalui Jawa Timur karena jalan darat masih sangat berbahaya bagi warga Belanda seperti dia.

Keluarga Joop menempuh jalan menuju Semarang. Dan dari Semarang mereka naik kapal menuju Surabaya. Kehidupan warga Belanda di Indonesia setelah Indonesia merdeka juga dirasa Joop kurang menyenangkan. Joop mengaku saat kecil sering mendapat pukulan dari para pemuda pejuang.

"Kalo ketemu pejuang saat main di jalan, saya sering kena pukul. Saya makin trauma dengan Indonesia," aku bapak dua anak itu.

Pada tahun 1952 atau saat Joop berumur 10 tahun, keluarganya memutuskan kembali ke Belanda setelah ada tawaran dari pemerintah Indonesia bagi warga Belanda yang ingin kembali ke negaranya. Perjalanan laut pun ditempuh selama 3 minggu untuk sampai ke negeri Belanda.

"Kami estafet, singgah di Semarang, Batavia (Jakarta), Batam, Medan, Aceh, Srilanka, Suez, lalu masuk Eropa dan Belanda," kata Joop.

Ternyata, persoalan masih belum selesai meski sudah kembali ke Belanda. Orang Belanda rupanya memandang rendah orang Belanda yang lahir di Indonesia. "Kalau Belanda white. Kalau Indonesia cokelat. Kalau kami disebut orang biru. Kami disepelekan dan tidak dianggap di Belanda," terang Joop.

Karena pemerintah yang tidak peduli dengan warganya yang datang dari jauh serta sikap warga Belanda lain yang memandang rendah mereka, keluarga kecil itupun memilih tinggal di kota kecil hingga mereka akhirnya bisa eksis. Selama tinggal di Belanda, Joop sangatlah memendam dendam kepada Indonesia.

Dia sangat trauma dengan kehidupannya di sana dan memutuskan tak bakal datang ke Indonesia lagi. Namun Joop juga sangat penasaran dengan sosok ayahnya. Sosok sang ayah praktis hanya bisa didapat Joop dari sang ibu.

"Ibu hanya bercerita tentang ayah sambil memperlihatkan fotonya," kenang Joop.

Rasa penasaran Joop terhadap sang ayah yang tak pernah ditemuinya itu dilampiaskan dengan mencari, membaca, mempelajari, dan melahap semua literatur terkait dengan pendudukan Belanda di Indonesia khususnya pertempuran Laut Jawa. Tak terasa, buku yang ia kumpulkan sudah mencapai satu lemari besar.

Seakan jiwa tanpa roh, Joop tetap tak bisa melihat secara utuh sosok sang ayah karena ia tak datang ke Indonesia. Dan Joop menyadari itu. Namun rasa trauma mengalahkannya. Bahkan sampai ia beristri dan berputra 2 orang yakni Merel dan Mark.

Rupanya Merel adalah jalan yang dipilih Tuhan untuk Joop. Kebetulan saat itu Merel bekerja di kedutaan Belanda di Jakarta. Berbeda dengan ayahnya, Merel sangat mencintai Indonesia. Dan suatu waktu di tahun 1997, Merel ingin Joop untuk menengoknya. Joop tentu saja menolak datang ke Indonesia meski yang meminta adalah anaknya sendiri.

"Anak saya marah. Dia mengancam tak akan bertemu saya lagi jika tak datang ke Jakarta. Saya akhirnya mengalah. Dengan berat hati, saya akhirnya ke Indonesia," ujar pria yang masih tampak enerjik di usia tuanya tersebut.

Satu jam berada di Indonesia, rasa trauma Joop hilang sama sekali. "Saya tak menyangka Indonesia sudah seperti ini. Saya selama ini salah sangka," kata Joop mengenang kembali kedatangannya pertama kali ke Indonesia.

Pria yang mempunyai perusahaan konsultasi teknik dan infrastruktur perkereta apian di Bandung ini makin kerasan setelah ia bertemu jodoh barunya di Indonesia. Joop sendiri sudah berpisah dengan istri pertamanya di Belanda. Tinggal di Indonesia membuat Joop kembali teringat kepada ayahnya. Ia pelajari lagi literaturnya. Ia juga mencari tahu bukti-bukti sejarah baru terkait dengan kematian ayahnya.

Akhirnya, nasib membawa Joop ke sebuah komplek pemakaman khusus tentara Belanda (ereveld) di Kembang Kuning, Surabaya. Namun Joop kaget karena dia tak menemukan nama ayahnya di situ. Joop pun protes ke pemerintah Belanda hingga akhirnya pada 2005, ada nama ayah Joop di situ. Nama Antonie Nahuysen muncul bersama ratusan korban lain yang turut tewas tenggelam dalam pertempuran Laut Jawa.

Nama-nama itu akhirnya terukir pada monumen Karel Doorman yang diresmikan pada 27 Februari 2006. Di monumen tersebut terukir 915 nama pejuang Belanda dan orang Indonesia yang berada di pihak Belanda yang tewas dalam pertempuran Laut Jawa. Namun berdasarkan penelitian Joop, bukan 915 pejuang yang tewas, tetapi ada 923 pejuang.

Setelah itu, Joop setiap tahunnya pada 27 Februari rutin mengunjungi ereveld Kembang Kuning. Namun lambat laun Joop gundah. Ia merasa kurang sreg mengunjungi ereveld Kembang Kuning setiap tahunnya. Joop merasa ereveld Kembang Kuning bukanlah kuburan ayahnya. Joop merasa bahwa kuburan ayahnya adalah di Laut Jawa.

Ia pun meminta kepada pemerintah Belanda agar setiap tahun diadakan tabur bunga di Laut Jawa untuk menghormati pasukan marinir Belanda yang tewas dalam pertempuran Laut Jawa. Permohonan tabur bunga di lokasi tenggelamnya De Ruyter juga ia sampaikan ke pemerintah Inggris, Amerika, dan Australia.

"Protes saya sia-sia. Pemerintah Belanda mengatakan kegiatan itu bakal merepotkan karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Begitu juga dengan pemerintah Inggris. Hanya pemerintah Amerika dan Australia yang merespon permintaan saya," terang Joop.

Setelah menemui jalan buntu, akhirnya Joop bertekad melaksanakan niatnya. Bahkan ia mendirikan VON Vereniging van Overlevenden & Nabestaanden van 'De Slag in de Java Zee 1942 ca' (persatuan korban dan keluarga korban 'Pertempuran Laut Jawa 1942'). Yayasan tersebut hingga kini sudah mempunyai 300 an anggota. Namun para angota tersebut belum ingin melaksanakan ide Joop, tabur bunga di Laut Jawa.

Akhirnya, dengan biaya sendiri, Joop memulai kegiatan tabur bunganya pada tahun 2012. Ia menyewa sebuah kapal cepat untuk menuju lokasi tenggelamnya HNLMS De Ruyter, 60 km dari Pulau Bawean. Meski dibayangi ancaman gelombang tinggi, Joop akhirnya berhasil melaksanakan niatnya.

Meski pelaksanaan tabur bunga itu berbudget besar dan melelahkan, namun Joop puas. Ia seakan bertemu dengan ayahnya yang sama sekali tidak pernah dijumpainya. Setelah tabur bunga pertamanya berhasil, Joop seakan ketagihan. Ia memutuskan melakukannya lagi di tahun 2013.
Namun gelombang tinggi hingga 3 meter rupanya menjadi penghalang. Kapal cepat yang hanya mampu melaju di atas gelombang di bawah 2 meter tak mampu menuju ke lokasi. Tak patah arang, Joop akhirnya menyewa sebuah tug boat, sebuah kapal yang biasanya digunakan untuk memandu kapal menuju Pelabuhan Tanjung Perak.

"Kami berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak dan tiba di lokasi setelah 14 jam lamanya mengarungi laut. Meski harus menghadapi ombak tinggi, tapi acara tabur bunga sukses dilaksanakan," cerita Joop.

Dan untuk kali ketiga, Joop 'mengunjungi' ayahnya lagi di tahun 2014 ini. Kali ini ia ditemani asistennya, Intrias dan seorang temannya, Karel Oostens yang juga membawa istrinya, Mariati Simatupang. Kebetulan cuaca sangat bersahabat, bahkan lebih bersahabat dibanding kegiatan tabur bunga pertama kali. Tabur bunga dengan haru dilakukan. Joop dengan mata berkaca-kaca melemparkan karangan dan kelopak bunga ke 'makam' ayahnya.

Joop Nahuysen, seorang anak yang selalu rindu akan sosok ayah yang telah meninggalkannya dalam kandungan. Kerinduan akan ayahnya biasanya Joop lampiaskan dengan menyanyikan lagu ciptaan Rinto Harahap berjudul 'Untuk Ayah Tercinta'.

Ayah dengarkanlah
Aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi



  • Cerita Joop Anak Tentara Belanda Kenali Sosok Ayah dari Buku 1 Lemari
    Foto: Imam Wahyudiyanta/detikcom
  • Cerita Joop Anak Tentara Belanda Kenali Sosok Ayah dari Buku 1 Lemari
    Foto: Imam Wahyudiyanta/detikcom
  • Cerita Joop Anak Tentara Belanda Kenali Sosok Ayah dari Buku 1 Lemari
  • Cerita Joop Anak Tentara Belanda Kenali Sosok Ayah dari Buku 1 Lemari
  • Cerita Joop Anak Tentara Belanda Kenali Sosok Ayah dari Buku 1 Lemari
  • Cerita Joop Anak Tentara Belanda Kenali Sosok Ayah dari Buku 1 Lemari
  • Cerita Joop Anak Tentara Belanda Kenali Sosok Ayah dari Buku 1 Lemari
  • Cerita Joop Anak Tentara Belanda Kenali Sosok Ayah dari Buku 1 Lemari

(iwd/try)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com