DetikNews
Selasa 25 Februari 2014, 08:23 WIB

Kiprah Pejuang Tionghoa

John Lie, Dari Penyelundup Menjadi Laksamana

- detikNews
John Lie, Dari Penyelundup Menjadi Laksamana Buku John Lie (majalah detik)
Jakarta - John Lie, pahlawan nasional yang namanya akan diabadikan menjadi KRI jenis multi role light frigate (MRLF) ini mengawali tugas di Angkatan Laut (AL) sebagai penyelundup. Aksi John Lie bahkan biasa dilakukan malam hari dengan kapal yang sengaja tidak dilengkapi lampu agar tak terdeteksi patroli Belanda ataupun Inggris, ada yang menjulukinya 'The Black Speed Boat'.

Uniknya, dalam menjalankan misi penyelundupan, John Lie terbiasa membawa Injil. Karena itu, Roy Rowan, wartawan majalah Life, yang mewawancarainya, mengabadikan kisah perjuangan John Lie dengan judul “Guns—And Bibles—Are Smuggled to Indonesia”, yang terbit pada 26 Oktober 1949. Dari situlah John Lie dijuluki "The Great Smuggler with the Bible".

Menurut kesaksian Jenderal Besar AH Nasution pada 1988, prestasi John Lie ”tiada taranya di Angkatan Laut” karena dia adalah ”panglima armada (TNI AL) pada puncak-puncak krisis eksistensi Republik”, yakni dalam operasi-operasi menumpas kelompok separatis Republik Maluku Selatan, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, dan Perjuangan Rakyat Semesta.

Ia pensiun pada 1967 dengan dua bintang di pundaknya dan mengganti nama menjadi Jahja Daniel Dharma. Masa pensiunnya, kata Rita Tuwasey Lie, keponakan John Lie, diisi dengan berbagai kegiatan sosial.

Salah satu indikasi namanya cukup disegani, ketika dia wafat pada 27 Agustus 1988, banyak orang datang melayat, mulai Presiden Soeharto hingga anak-anak gelandangan. Selain itu, John Lie dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.

Puncaknya, pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional pada 2009 berkat usulan sejarawan Asvi Warman Adam dan Eddie Lembong dari Yayasan Nabil, sejak 2003. Terkait dengan hal itu, sejarawan muda dari Makassar, M Nursam, menulis buku "Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi: Biografi Laksamana Muda John Lie" (2008), yang diterbitkan Penerbit Ombak, Yogyakarta dan Yayasan Nabil.

“John Lie orangnya tegas dalam bersikap dan bertindak. Kepekaan kemanusiaannya tinggi dan pasti sangat mencintai negerinya, Indonesia,” ujar Nursam.

Kesimpulan itu ia dapatkan berdasarkan sejumlah kesaksian dari orang yang pernah dekat dengan John, mulai istrinya, Margaretha Dharma Angkuw, hingga mantan Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban Laksamana Sudomo. Nursam mengaku tertarik menuliskan biografi tersebut karena John Lie keturunan Tionghoa.

“Saya ingin menunjukkan bahwa semua ras, etnik, dan golongan mempunyai saham dalam pembentukan Republik Indonesia,” ujarnya.

Buku tersebut melengkapi kisah tentang John Lie yang ditulis Solichin Salam dalam buku "John Lie Penembus Blokade Kapal-kapal Kerajaan Belanda" yang terbit pada 1988. Juga buku "Dari Pelayaran Niaga ke Operasi Menembus Blokade Musuh Sebagaimana Pernah Diceritakannya Kepada Wartawan" yang dimuat dalam buku "Memoar Pejuang Republik Indonesia Seputar 'Zaman Singapura' 1945-1950" karya Kustiniyati Mochtar terbitan Gramedia Pustaka Utama, 2002.

*) Isi dari artikel ini sudah dimuat dalam Majalah Detik Edisi 114 yang terbit 3 Februari 2014





  • John Lie, Dari Penyelundup Menjadi Laksamana
    Buku John Lie (majalah detik)
  • John Lie, Dari Penyelundup Menjadi Laksamana
    Buku John Lie (majalah detik)
  • John Lie, Dari Penyelundup Menjadi Laksamana
    Rita Tuwasey Lie, Keponakan John Lie
  • John Lie, Dari Penyelundup Menjadi Laksamana
    Rita Tuwasey Lie, Keponakan John Lie
  • John Lie, Dari Penyelundup Menjadi Laksamana
    KSAL Laksamana Poernomo-Margaretha Dharma Angkuw, Istri John Lie
  • John Lie, Dari Penyelundup Menjadi Laksamana
    KSAL Laksamana Poernomo-Margaretha Dharma Angkuw, Istri John Lie

(nwk/trq)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed