DetikNews
Jumat 20 September 2013, 14:14 WIB

Kemlu Kawal Kasus Wilfrida yang Terancam Hukuman Mati di Malaysia

- detikNews
Jakarta - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mengawal kasus TKW bernama Wilfrida Soik (17) yang terancam hukuman mati di Malaysia. Kemlu akan memberikan pendampingan hukum pada gadis asal Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu.

\\\"Kasusnya masih berjalan, belum divonis. Masih lama, masih tahap pertama. Akan kita kawal dan beri pendampingan hukum dan prioritas agar dapat perlakuan baik,\\\" ujar Krishna Djaelani, Kasubdit Pengawasan Kekonsuleran Direktorat Perlindungan WNI dan BHI Kemlu.

Krishna mengatakan itu usai diskusi soal WNI di Kemlu, Pejambon, Jakarta Pusat, Jumat (20\/9\/2013).

Menurut Krishna, sidang kasus Wilfrida masih dalam tahap mendengarkan saksi dan menghadirkan alat bukti. Pada 30 September 2013 mendatang akan ditentukan apakah Wilfrida akan mendapatkan keringanan.

Kemlu akan berusaha agar Wilfrida mendapat keringanan hukuman dengan menghadirkan saksi-saksi karena yang bersangkutan masih berumur 17 tahun. Berdasarkan laporan, Wilfrida lahir pada tahun 1994. Namun data di paspor, tertera tahun kelahirannya 1989.

Saksi yang dihadirkan pihak Kemlu yakni pejabat di daerah asal Wilfrida. Bahkan instansi yang mengeluarkan akta kelahiran serta pastor yang membaptis Wilfrida juga akan dihadirkan.

\\\"Karena kan seperti laporan yang saya dapat, paspornya dipalsukan. Dokumennyalah itu ya bisa saja karena oknum-oknum tertentu,\\\" terang Krishna.

Wilfrida terancam hukuman mati karena diduga membunuh majikannya di Malaysia. Terkait apakah Wilfrida membela diri dalam melakukan aksinya itu, Krishna belum mengetahuinya. Namun berdasarkan laporan, Wilfrida sering mendapat perlakuan kasar dari majikannya.

\\\"Ya mudah-mudahan dengan kehadiran saksi yang meringankan dari kita, saudara kita tidak dijatuhi hukuman mati. Mungkin seumur hidup, tapi tidak hukuman mati. Hasil visum et repertum pada korban (majikan), ada 43 tusukan. Dari Wilfridanya sendiri kami belum mendapat laporan apakah di tubuhnya ada tanda-tanda dianiaya,\\\" paparnya.

Wilfrida diancam pidana mati karena diduga membunuh majikannya pada 7 Desember 2010. Dia membunuh karena disiksa majikannya selama dua bulan sejak pertama kerja pada 23 Oktober 2010.

\\\"Dia waktu berangkat masih di bawah umur dan dokumennya dipalsukan,\\\" ucap Direktur Eksekutif Migrant Care Indonesia Anis Hidayah kepada detikcom, Selasa (10\/9\/2013).




(nik/nrl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed