DetikNews
Sabtu 08 Juni 2013, 22:45 WIB

Jejak Kesetiaan Politik Taufiq Kiemas

- detikNews
Jejak Kesetiaan Politik Taufiq Kiemas Almarhum Taufiq Kiemas.
Jakarta - Sejak memutuskan terjun ke politik hingga mencapai puncak karirnya, Taufiq Kiemas setia dengan partai politik pilihan awalnya. Meski partai pilihannya itu sempat ditekan pemerintahan Orde Baru dan mengalami perpecahan hebat.

Perjalanan politik Taufiq Kiemas dimulai dengan menjadi aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), organisasi kemahasiswaan binaan Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Menyusul perpecahan yang intenal, kubunya membentuk Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

Taufiq Kiemas bergabung dengan GMNI ketika menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, Palembang. Setelah lulus, putra pasangan Tjik Agus Kiemas dan Hamzathoen yang lahir pada 31 Desember 1942 ini langsung terlibat dalam PDI dan terpilih menjadi anggota DPR\/MPR RI pada 1992.

Ketika PDI mengalami perpecahan pasca kongres di Medan pada Juli 1993 dan kongres luar biasa di Surabaya pada Desember 1993, nama sang istri Megawati Soekanoputri mulai mencuat ke kancah politik nasional. Dukungan total dari kemampuan Taufiq Kiemas merangkul para kader, punya andil bagi terbentuknya Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia Perjuangan (PDIP).

Sebagai salah satu tokoh penting di PDIP, Taufiq Kiemas menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu). Ia kembali terpilih menjadi anggota DPR periode 2009–2014 dari PDI-Perjuangan untuk Daerah Pemilihan Jawa Barat II.

Pada 2009, Taufiq Kiemas terpilih secara aklamasi menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat periode 2009-2014. Bersama jajaran MPR, Taufik Kiemas menegaskan pentingnya menanamkan kembali nilai-nilai kebangsaan dan persatuan kepada generasi muda bangsa.

Melalui program Empat Pilar Kebangsaan, MPR mensosialisasikan ulang semangat Pancasila, UUD \\\'45, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Kegigihannya dalam menanamkan kembali nilai-nilai kebangsaan dan persatuan, mendapat penghargaan gelar Doktor Honoris Causa bidang kenegaraan dari Universitas Trisakti, Jakarta, pada 10 Maret 2013.

Putri bungsunya, Puan Maharani, sangat memahami perjuangan ayahnya tentang empat pilar kebangsaan. Sebagai anak, dia tahu benar bahwa Ayah dan Ibunya meski berada dalam parpol yang sama, namun tidak selalu memiliki pandangan politik yang sejalan.

\\\"Empat pilar ini satu spirit dan matahari. Dan bisa jadi satu hal yang selalu terpakai bagi bangsa ini sepanjang bangsa ini bisa berdiri. Pohon bisa tumbang, tapi matahari bisa menyinari dunia tiap hari,” ujar Puan dalam pelucuran buku biografi Taufiq Kiemas berjudul ‘Gelora Kebangsaan Tak Kunjung Padam’ pada 31 Desember yang bertepatan dengan ulang tahun ke-70 Sang Ayah.




(lh/mok)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed