DetikNews
Kamis 16 Mei 2013, 19:54 WIB

23 Orang Masih Menunggu Didor Regu Tembak di Nusakambangan

- detikNews
23 Orang Masih Menunggu Didor Regu Tembak di Nusakambangan ilustrasi (ari saputra/detikcom)
Jakarta - Ibrahim, Jurit, dan Suryadi hanyalah sebagian orang yang menanti hukuman mati. Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI) Alvon Kurnia Palma menyatakan ada 23 orang yang menunggu detik eksekusi mati di LP Nusakambangan, Jawa Tengah.

\\\"Ada 19 orang lagi, tapi namanya tidak bisa disebutkan. Selain itu, ada tiga Warga Negara Asing (WNA). Di luar Nusakambangan, kita belum tahu,\\\" kata Alvon di Kantor YLBHI, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Kamis (16\/5\/2013).

Alvon mengungkapkan identitas tiga WNA tersebut. Mereka adalah terpidana kasus narkoba asal Nigeria. Ketiga orang itu bernama Daniel Enimo, Michael Titus, dan Martin Anderson.

YLBHI bersikukuh menolak hukuman mati dan memperjuangkan hidup mereka-mereka itu. Atas nama Hak Asasi Manusia (HAM), YLBHI rela melawan arus utama pemikiran masyarakat yang setuju dengan hukuman mati.

\\\"Ya gimana? Masak kita biarkan saja (eksekusi mati dijalankan). Dalam perspektif HAM, hukum jera saja, bukan hukuman mati,\\\" ucapnya.

Dirinya menyatakan hukuman mati tidak serta merta menimbulkan efek jera. Kompatriot Alvon, Direktur Program Imparsial Al Araf, mengafirmasi perspektif ini.

\\\"Nggak ada satu validasi yang bisa menjelaskan bahwa hukuman mati menimbulkan efek jera terhadap kejahatan,\\\" sambung Al Araf.

Al Araf tidak menutup mata bahwa di negara penjunjung tinggi HAM, Amerika Serikat, hukuman mati masih eksis. Tapi dia menggaris bawahi bahwa di berbagai negara bagian AS, hukuman mati sudah dihentikan.

\\\"Dari sisi filsafat, hukum melarang orang membunuh, tapi hukum memberlakukan hukuman bunuh. Ini kontradiktif,\\\" pungkas Deputi Direktur Elsam, Zainal Abidin.




(dnu/asp)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed