DetikNews
Jumat 21 Desember 2012, 22:42 WIB

Kisah Endriartono Sutarto Mundur dari Komisaris Utama Pertamina

- detikNews
Kisah Endriartono Sutarto Mundur dari Komisaris Utama Pertamina Foto: Dikhy Sasra/detikcom
Jakarta - Mantan Panglima TNI Jenderal (TNI) Endriartono Sutarto pernah menduduki jabatan penting sebagai Komisaris Utama di Pertamina. Namun Endriartono mundur dari jabatannya, karena Direksi Pertamina menaikkan harga LPG. Seperti apa ceritanya?

\\\"Mengapa saya di Pertamina ke luar, karena saya melihat Pertamina sama sekali tidak melakukan pelayanan terbaik kepada masyarakat, walaupun dia PT yang profit oriented, tapi tidak semata-mata keuntungan yang dia cari. Sementara dia mengelola bahan yang sangat strategis untuk kepentingan rakyat,\\\" kata Endriartono mengawali ceritanya.

Hal ini disampaikan Endriartono saat mengunjungi kantor detikcom di Jl Warung Buncit Raya No 75, Jakarta Selatan, Jumat (21\/12\/2012).

Saat itu Pertamina tengah memulai sosialisasi konversi BBM ke gas. Kala itu, harga gas LPG lebih murah dari harga minyak tanah yang sudah disubsidi pemerintah.

\\\"Kita melakukan konversi tapi kan yang dibagi gratis itu kan orang yang di bawah garis kemiskinan, tapi kan itu ada batasnya. Jadi yang dianggap di atas garis kemiskinan tidak mendapat gratis. Tapi kan kita harus meyakinkan mereka untuk konversi. Beli tabungnya itu kan tidak murah, lalu ada yang jual TV yang cuma 17 atau 14 inchi yang sudah tua dan satu-satunya hiburan, jual sepeda, utang, dan sebagainya,\\\" papar Endriartono.

Kemudian saat dia turun ke masyarakat meyakinkan perlunya konversi BBM, Direksi Pertamina malah menaikkan harga LPG. Padahal saat itu dia sedang membujuk dan meyakinkan masyarakat bahwa LPG lebih murah dari minyak tanah subsidi.

\\\"Tiba-tiba saat utangnya belum dilunasi, TV nya belum kembali, sepedanya belum kembali, terus Pertamina menaikkan harga LPG, marah dong saya. Karena sama saja saya menipu rakyat, karena mereka nggak peduli yang penting dapat keuntungan sebesar-besarnya,\\\" keluhnya.

\\\"Rugi di LPG bukan berarti Pertamina rugi. Tapi kan itu bagian dari sumbangsih kita untuk kepentingan rakyat. Keuntungan kita masih sekian puluh miliar dikurangin kerugian LPG sekitar sekian ratus juta juga nggak ada artinya. Tapi dia nggak peduli, harus dinaikkan, begitu,\\\" lanjut Endriartono.

Endriartono menuturkan, para Direksi memang terus memacu keuntungan Pertamina, agar mereka mendapat peluang kenaikan gaji dan bonus.

\\\"Dengan keuntungan sebesar-besarnya mereka bisa mengajukan bonus, mengajukan kenaikan gaji. Padahal gaji mereka sudah luar biasa besarnya. Saya terperanjat betul, dari Panglima TNI yang dapat Rp 17 juta kemudian jadi komisaris utama dapat sebesar itu, ketiban apa saya,\\\" ungkapnya.

Tak sepakat dengan putusan Direksi Pertamina, Endriartono pun memilih mundur. Dia tak bisa menerima alasan Direksi Pertamina menaikkan harga LPG.

\\\"Detik-detik terakhir, akhirnya saya mengundurkan diri. Saya minta rapat BOD-BOC, komisaris dengan direksi. Saya marah-marah, saya katakan saya tidak paham dengan cara pikir Direksi, saya tanya apa alasannya, katanya alasannya cuma satu pak kita rugi. Saya tanya berapa ruginya? cuma berapa ratus juta. Keuntungan seluruhnya dari bisnis kita berapa? sekian belas triliun. Percaya nggak percaya ini penipuan terhadap rakyat. Saya bilang silakan rapat dilanjutkan, saya ke luar,\\\" kenang Endriartono.

Kini Endriartono bekerja sebagai komisaris utama di Bank Pundi. Dia membesarkan Bank UMKM yang dikembangkan oleh pengusaha Sandiaga Uno yang diakuisisi dari Bank yang hampir kolaps.

\\\"Ya setelah sekian bulan saya kerja keras, ya nggak jelek-jelek amat dari yang saya dapat dari Pertamina. Meskipun awalnya dengan kerja keras karena ini Bank yang diambil alih dari Bank yang mau kolaps,\\\" pungkasnya.




(van/asy)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed